
Beberapa minggu kemudian, Miya telah tinggal bersama adik kandung ayahnya yakni Tante Mirna di Kota J. Setelah sampai di sana, gadis remaja berkulit putih yang memiliki rambut panjang sepunggung ini, dan pada esok harinya ia akan merencanakan mengurus semua untuk perkuliahan di salah satu Falkultas ( sebut saja Universitas RR ), yang merupakan salah satu Universitas favorit di kota J.
Inilah sebuah awal yang baru bagi gadis remaja ini, yang akan menjalani kehidupannya di Kota J. Dimana ia akan bertemu dengan teman-teman baru yang akan ditemui saat menjalani kuliah nanti. Walaupun dirinya harus mempersiapkan diri dengan baik ketika menjalani kehidupan kota yang cukup sulit, dibandingkan ketika ia berada di Desa S.
Kota J merupakan salah kota metropolitan yang modern. Dimana banyak terdapat gedung-gedung pencakar langit, jalan raya yang padat serta aktifitas penduduk di kota ini yang cukup ramai dari pagi hingga malam hari.
Di suatu tempat pada pagi hari, Miya sedang membantu asisten rumah tangga tantenya untuk mempersiapkan sarapan pagi. Rumah Tante Mirna di sebuah Hometown di kawasan cukup elit di Kota J ( sebut saja Komplek R ). Saat dirinya sedang menata makanan pagi di meja makan, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga rumah. Mereka adalah Tante Mirna dan Suaminya Om Romi yang saat itu sedang memakai baju dinasnya.
“Selamat pagi om ... tante,” sapa Miya kepada kepada kedua pasangan itu.
“Pagi Miya,” sahut mereka serempak, dan berjalan mendekati meja makan yang telah tersedia makanan di atas meja.
“Wah ... Miya rajin ya ... pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan pagi buat kami,” goda pria yang memiliki khas brewok itu, sambil menarik salah satu kursi sebelum diduduki.
“Ayo kamu juga sarapan Mi,” ajak Tante Mirna yang telah duduk disamping suaminya.
“Iya tante ... saya nanti belakangan,” sahut gadis itu, sambil menuang air teh dan dihidangkan kepada kedua pasangan itu.
“Oh ya! Hari ini kamu akan mendaftar di Universitas RR kan?” tanya wanita paruh baya itu kepada gadis di depannya.
“Iya Tante,” jawabnya, “Mungkin setelah saya selesai mandi dan sarapan akan ke sana,” sambung gadis itu.
“Bila ingin ke sana ... kamu pergi dengan supir ya,” ucap wanita itu, “Apalagi kamu baru tiba di sini ... tante takut kamu kenapa-napa” imbuhnya khawatir.
__ADS_1
“Iya tante,” ucap gadis itu, “Saya pamit untuk mandi ya tan,” pamitnya kepada adik ayah kandungnya yang sedang menikmati sarapan pagi saat itu.
Tante Mirna hanya menjawab menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap wajah gadis yang sedang berdiri di seberang meja makan. Melihat hal itu, gadis itu melangkah ke ruang sebelah dalam tidak jauh dari ruang makan itu, terdapat kamar tidur yang diperuntukan untuk dirinya.
Di dalam hati dirinya begitu kagum kepada adik kandung ayahnya ini. Dimana Tante Mirna sudah menginjak kepala empat tapi masih memiliki paras wajah yang cantik dan awet muda, seakan terlihat baru menginjak kepala tiga. Begitu juga suaminya Om Romi juga sama memiliki paras wajah awet muda, walaupun diwajahnya telah dihiasi brewok serta rambut yang sudah terlihat sedikit memutih. Walaupun kedua pasangan itu cukup sibuk akan aktifitasnya, namun mereka cukup rajin olahraga dan menjalani pola makan sehat dalam kesehariannya.
Beberapa jam kemudian.. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Miya sedang menikmati sarapannya. Tidak lama kemudian ia merapihkan piring kotor yang tergeletak di atas Meja dan memanggil asisten rumah tangga tantenya, yang bernama Bi Yati.
“Bi Lasmi!” panggil gadis itu sambil membersihkan sisa makanan di suatu tempat.
“Ya Non,” terdengar sahutan suara perempuan dari arah dapur.
Tidak lama kemudian munculnya wanita paruh baya yang sedikit gemuk datang menuju ke ruang meja makan.
“Ini tolong dibereskan ya Bi,” pintanya dengan sopan, setelah gadis itu melihat Bi Yati yang sudah berdiri berada di belakangnya.
“Pak Jarso sudah ada Bi?” tanya Miya sambil melihat jam yang ada di dinding ruang tenggah, yang sudah menujukan pukul 11:00.
“Sudah Non ... Pak Jarso sedang mencuci mobil setelah antar bapak ke bandara,” jawab Bi Yati sambil membawa piring kotor dan melangkah menuju dapur.
Tidak lama kemudian Miya berjalan menuju teras rumah. Saat sampai di tempat itu ia melihat pria paruh baya dengan berperawakan tegap ini, sedang mengelap mobil yang baru saja di cuci.
“Pak Jarso ... Apa sudah selesai?” tanya gadis itu ke pria yang sedang mengeringkan lap mobil.
__ADS_1
“Oh! Sudah Non,” jawabnya sopan, dan berkata, “Tunggu sebentar ya non ... saya nyalakan mesin mobil dulu,”
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya pergi menuju arah Universitas RR yang cukup jauh dari tempat tinggal Tante Miya. Di sepanjang perjalanan, Miya melihat area sekitarnya dimana saat itu jalan raya sangat padat, sehingga mobil yang dinaiki terkadang harus berhenti beberapa kali oleh kemacetan Kota J. Namun hal itu tidak membuat gadis itu murung, bahkan ia sangat menikmati semua yang terjadi sambil melihat gedung-gedung serta mobil-mobil yang jalan beriringan saat itu.
Satu jam kemudian, akhirnya Miya sampai di fakultas yang diinginkan. Setelah mobil yang dinaikinya mendapatkan parkir di area fakultas itu, Miya sedikit merapikan pakaian dan rambutnya sebelum turun dari mobil.
“Tunggu di sini ya Pak,” pinta gadis itu sambil membuka pintu belakang mobil.
“Baik Non,” jawab pria yang berada di depan, sambil memegang kemudi mobil.
Dan Miya pun turun dari mobil dan mengarahkan langkahnya menuju lobby fakultas yang tidak terlalu jauh dari area parkir mobil. Saat di lobby fakultas, Miya melihat-lihat sekitar ke tempat pendaftaran dan setelah dapat ruangan yang dituhu ia pun bergegas ke tempat itu. Pada saat sampai ia mengetuk pintu yang ada di depannya.
Tok... Tok.. Tok..
“Iya masuk,” terdengar suara pria dari dalam ruangan.
Miya pun membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, dimana dia melihat pria berkacamata yang sedang duduk di depannya dan seorang pemuda yang juga berada di sana yang sedang menghadap ke pria berkacamata itu. Miya dalam hati bertanya-tanya siapa pemuda ini, yang saat itu ia hanya melihat dari belakang pria tersebut.
“Silahkan duduk,” pintanya sambil tangannya mempersilahkan untuk duduk
“Ada yang saya bisa bantu?’ tanya pria itu.
“Saya ingin mendaftar sebagai mahasiswi di fakultas ini pak,” jawabnya.
__ADS_1
“Oh! Mana data-datanya?” pinta pria itu.
Miya akhirnya mengeluarkan map yang berisikan data-datanya dari tas. Secara tidak sengaja dirinya menatap pria di sampingnya. Betapa terkejut dirinya bahwa pria itu memiliki wajah cukup menarik dan badannya menebarkan aroma wangi saat itu. Siapakah gerangan dia.... bersambung.