
Miya sedikit terpana kepada pemuda yang duduk disebelahnya, pemuda itu memiliki postur tubuh 172 cm, dengan warna kulit kuning langsat, rambut cepak dan hidungnya yang mancung. Seperti pria dari negri bambu dan menebarkan wangi di tempat itu. Dia bernama Jhon dari kota B yang juga sedang mendaftar di Universitas tersebut.
“Hai,” sapa Miya ke pemuda yang duduk disampingnya.
“Hai juga,” sahut pemuda itu sambil melihat gadis cantik yang sedang menyapa.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka terdiam membisu, seakan canggung untuk meneruskan perkenalan mereka. Di selah-selah suasan tersebut di seberang meja terdengar suara bergumam untuk memecahkan suasana tersebut...
“Eem!! Jadi anda ingin mendaftar?” tegur pria yang ada di depannya.
“iya Pak!” jawab Miya tegas.
“Anda ingin masuk ke fakultas apa?” tanya kembali pria itu.
“Hubungan Masyarakat Pak,” jawab gadis itu.
“Oke! Data anda saya sudah terima ... nanti anda datang lagi dua kemudian untuk perkenalan kampus ya,” ucap pria itu.
“Baik Pak!” jawab gadis itu, “Kalo begitu saya permisi dulu Pak,” sambungnya untuk izin pamit keluar dari tempat itu.
“Baik! Kalo begitu kalian berdua boleh pergi karena sudah mendaftar ke kampus ini” ujar pria itu.
Akhirnya mereka berdua bersamaan beranjak berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari tempat itu dan berjalan beriringan di lorong menuju lobby Universitas tersebut. Di saat-saat itu pemuda yang berjalan sedikit di belakang gadis itu, memberanikan diri memanggil untuk memperkenalkan dirinya.
“Hai! Boleh kenalan?” sapa pemuda di belakangnya.
“Hai juga ... boleh kok,” sahut gadis itu, sambil menghentikan langkahnya menunggu pemuda tersebut mendekatinya.
“Saya bernama Jhon!” ucap pemuda itu sambil menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
“Hai Jhon ... saya Miya,” sahut gadis itu sambil menyambut tangan pemuda itu.
“Ku dengar kamu ingin ambil fakultas Publik Realations ya,” tanya Jhon sopan.
__ADS_1
“Iya ... kalo kamu ambil fakultas apa Jhon?” tanya gadis itu.
“Aku?! Aku ambil fakultas Management,” jawab pemuda itu, “Oh ya! Bolehkah saya mengenalmu lebih dekat lagi?” tanya kembali pemuda itu dengan nada sedikit ragu-ragu.
“Oh boleh saja ... Selama itu saya berkenan,” jawab Miya penuh waspada, secara dirinya baru bertemu dan mengenal pemuda yang ada di hadapannya.
“Oh! Tentu saja, saya tidak akan memaksa bila itu masing-masing berkenan,” ujar getir pemuda itu, dengan sikap aga canggung saat itu.
“Kalo boleh saya tau ... Miya asli tinggal di Kota J?” tanya sopan pria itu.
“Oh ... saya dari Desa S,” jawabnya, “Kalo kamu?” tanya gadis itu.
“Saya dari Kota B,” jawab pemuda itu.
Tidak lama kemudian akhirnya mereka bercerita tentang masa kecil masing-masing, sambil berjalan beriringan menuju lobby Universitas. Saat mereka tiba di tempat itu, akhirnya mereka menghentikan langkah mereka sambil bersalaman untuk berpisah saat itu.
“Salam kenal ya Miya, saya harap bisa menjadi temanmu,” ucap Jhon kepada gadis cantik di depannya.
“Salam kenal juga Jhon,” sahutnya dengan memberikan senyuman indah kepada pemuda itu.
“Iya sama-sama,” jawab gadis itu singkat.
Dan mereka berjalan berlawan arah, dimana pemuda itu berjalan lurus menuju parkiran dekat gerbang utama Universitas, sedangkan Miya berjalan ke arah parkiran mobil yang tidak jauh dari tempat itu.
Pada saat gadis itu melihat supir tantenya sedang minum kopi tidak jauh dari mobil yang terparkir, dan ia langsung membuka pintu belakang mobil lalu menutupnya. Pria yang melihat keponakan bossnya datang, dirinya langsung bergegas menghabiskan kopinya lalu masuk ke mobil itu.
“Langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu Non?” tanya pria yang duduk di depan, sedang memegang kemudi.
“Tolong mampir dulu ke Mall Pak,” pinta sopan gadis itu, “Ada beberapa kebutuhan yang belum saya beli untuk kuliah nanti,” sambungnya.
“Siap Non,” jawab pria itu, sambil menyalakan mesin mobil dan langsung berjalan menuju gerbang Universitas tersebut.
Di sepanjang perjalanan jalan raya cukup ramai, Miya sedang menulis beberapa hal yang harus dibeli di sebuah note. Saat ia sangat fokus menulis, terdengar pria yang di depannya menanyakan tempat yang akan dituju.
__ADS_1
“Non! Kita ke Mall mana?” tanya pria tersebut, “Soalnya Mall cukup banyak di daerah sini.” Ungkapnya.
“Emmmmm ... Pak Jarso tahu tempat yang jual perlengkapan menulis yang lengkap?” tanya “gadis itu.
“Soalnya saya belum begitu hapal kota ini,” sahut kembali gadis yang duduk di belakang pria itu.
“Oh! Kalo begitu kita ke Gramedia yang ada di selatan Non,” ucap pria itu, “Tempat itu paling lengkap jual alat tulis,” ungkapnya.
“Oke! Tolong ya pak,” pinta Miya dengan sopan.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba ke tempat yang dituju dan Miya langsung bergegas masuk ke dalam untuk membeli keperluannya. Satu jam kemudian, gadis itu sudah keluar dari tempat itu sudah membawa sebuah tas menuju mobil yang terparkir. Dan mereka akhirnya berjalan pulang menuju rumah.
Pada malam tiba, Miya sedang berbenah alat tulis yang sudah ia beli tadi. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
Tok... Tok... Tok...
“Non, dipanggil sama Ibu,” terdengar suara wanita baya yang menegur dari balik pintu, wanita itu Bi Yati.
“Iya Bi ... Sebentar lagi saya keluar,” sahut gadis itu dari dalam kamar, sambil menyelesaikan pekerjaannya tadi.
Tidak lama kemudian gadis itu keluar dari kamar, ia berjalan menuju ke ruang tengah tidak jauh dari ruang makan. Saat melangkah mendekat ke ruang tersebut, Miya melihat tante Mirna sedang menonton Tv. Saat di ruang itu, gadis ini duduk tidak jauh dari Tante Mirna.
“Bagaimana tadi saat mendaftar tadi ... apa semua lancar?” tanya wanita cantik yang ada di depannya.
“Alhamdulillah ... lancar Tan,” jawab sopan gadis itu.
“Ayo sini temani tante nonton,” ajak wanita itu, “Filmnya seru loh,” sambungnya sambil tersenyum.
“Baik Tante,” sahut gadis itu dan duduk di samping adik kandung ayahnya itu.
Dan akhirnya mereka berdua menoton film yang sedang ditayangkan saat itu..
Dua jam kemudian, setelah film selesai mereka berdua pun melangkah ke kamar masing-masing untuk beristirahat...
__ADS_1
Saat tiba di kamar Miya berganti pakaiannya dengan baju tidur, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Di saat itu dirinya masih terjaga seakan pikirannya penuh dengan pertanyaan, dimana ia masih terbayang akan sahabat-sahabatnya di Desa S, dalam hatinya bertanya-tanya apakah ia bisa mendapatkan sahabat yang baik seperti sahabatnya dulu?. Pada akhirnya oa hanya bisa pasrah yang akan terjadi saat akan menjalani kehidupannya di kampus nanti. Tak lama kemudian ia pun tertidur pulas sambil menunggu apa yang akan terjadi esok... bersambung.