KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM

KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM
Chapter: Ketika Cinta Itu Datang Part 1


__ADS_3

Setelah Kompetisi sekolah itu, Sekolah Negri 1 Jaya menjadi juara umum dan Sekolah Negri Pelita menjadi juara kedua. Miya dan kawan-kawan sudah kelas 6, sedangkan Ragha sudah kelas 1 SMP.


Kala itu pada siang hari Miya sedang bermain bersama Dina dan Sassha di rumah Miya. Tidak lama kemudian terdengar suara mengucap salam dari luar rumah.


“Assalamualaikum,” teriak suara pria dari luar rumah.


“Wa'alaikumsalam,” sahut Miya sambil berjalan ke depan pintu dan membukanya.


“Oh! Kamu Ragha,” ujarnya setelah melihat siapa yang datang ke rumahnya.


“Ada keperluan apa Ra?” tanya Miya ke pria yang ada didepannya.


“Saya mau memberikan data saya Mi,” jawab pria itu dan berkata, “Kemarin Ayahmu memintanya,”


“Oh! Ini buat surat keterangan kesehatan untuk ikut platnas ya.” sahut gadis cantik itu.


“Ya Mi,” jawab Ragha sambil memberikan map kepada gadis cantik yang ada didepannya.


Tak lama kemudian, terdengar suara wanita dibelakang Miya..


“Siapa Mi?” tanya wanita paruh baya yang baru saja keluar dari rumah, dia adalah Ibunya Miya.


“Ini Bun ... Ragha memberikan datanya untuk Ayah,” ucap anak wanita paruh baya itu.


“Ooo ... Ayo masuk Nak Ragha,” ajak wanita itu, “Dah lama kan, kamu tidak main ke sini,” sambungnya.


“Ya Ragha,” sahut Miya dengan antusias, “Sekalian ada PR nih ... Tolong bantu aku ya,” sambung gadis itu.


“Baik ... Akan saya bantu.” ucap Ragha, sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Saat memasuki rumah, Ragha melihat dua teman Miya sedang bermain dan koran-koran yang tergeletak di atas meja. Dan kedua gadis ini tersentak melihat pria tampan yang telah berada di depan mereka.


“Eh! Kamu Ra,” sambut mereka serempak, “Ayo sini duduk,” ajak salah satu gadis itu.

__ADS_1


“Terima kasih Din ... Hai, Sassha,” ucap Ragha kepada dua gadis di depannya, dan duduk di samping kiri mereka.


Tidak lama kemudian...


”Ibu ambilkan teh buat Nak Ragha dulu ya,” ucao Ibu Miya kepada pemuda itu, sambil berlalu menuju dapur.


“Terima kasih Ibu,” jawab Ragha dengan sopan, dan melihat ketiga gadis yang duduk di sampingnya.


Ragha tertegun kepada ketiga gadis di depannya, yang hampir menginjak remaja ini, memiliki paras cantik. Dari ketiga gadis itu, yang paling menonjol Sassha, dia seperti cewek bule, bahkan di Desa S ia memiliki julukan sebagai Kembang Desa.


Walaupun Sassha paling menonjol diantara kedua temannya, Dina dan Miya tidak kalah cantik. Dina berambut ikal ini, memiliki wajah sangat manis dan Miya juga semakin cantik dengan rambut panjang yang terurai sampai sebahu.


Terutama pemuda ini menaruh hati kepada Miya, selain itu Ia kagum kepada gadis cantik ini, sebagai gadis kota yang tinggal di desa, Miya termasuk wanita cukup mandiri dan tidak terkesan manja. Walaupun Ia masih ragu akan perasaannya, sebab dia belum mengetahui perasaan Miya sesungguhnya.


Sedangkan di sisi lain, ketiga gadis ini juga kagum ke pria yang sudah menginjak usia remaja di depan mereka. Ragha kini memiliki paras tampan dan sebagai calon atlet ini, memiliki postur tubuh tinggi dan berisi. Hal itu membuat mereka semakin berdecak kagum ke pemuda itu, terutama Sassha yang selalu mencoba mencuri pandang ke arah Ragha, tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya Dina dan Miya.


“Oya! Apa nih yang bisa aku bantu” ujar Ragha sambil tersenyum melihat ke gadis-gadis itu.


“Ini Ra, bantu kami buat kliping sekolah dong,” ucap Dina yang duduk persis di samping Ragha.


“Kalian ingin buat kliping tentang apa?” tanya Ragha kepada mereka.


“Tentang Sosial-Budaya Ra,” sambar Sassha antusias, yang tiba-tiba sudah duduk di samping kanan Ragha.


Beberapa menit kemudian, Ibu Miya datang membawa secangkir teh dan meletakannya di atas meja.


“Silahkan diminum Nak Ragha,” ucapnya, “Ibu tinggal dulu ke dapur ya.” sambungnya.


“Terima kasih Bu,” jawab pemuda itu dengan sangat sopan.


Kemudian wanita paruh baya itu pergi meninggalkan mereka berempat yang sedang belajar bersama. Dan mereka pun melanjutkan aktivitasnya..


“Ngomong-ngomong, selamat ya Ra ... kamu berhasil mempertahankan gelar juara bertahan” ujar Dina.

__ADS_1


“Ya ... Terima kasih Din,” sahutnya, “Saya juga ucapkan selamat juga kepada kalian yang menjuarai cerdas-cermat” sambungnya.


“Ya ... kami hanya beruntung Ra, apalagi sekarang pesaing siswa dari sekolah lain semakin banyak,” ucap Miya.


“Iya ... lawan terakhir dari sekolah L itu sempat mengejar skor kita,” sambar Sassha dengan antusias, sambil mencuri pandang ke pemuda yang ada di sampingnya.


“Ya sama saja, saya juga beruntung ko,” sahut pemuda itu sambil mengunting artikel koran yang ada ditangannya.


“Lawan terakhirmu dari sekolah Desa K itu juga jago,” ujar Dina, “Kalo ga salah, dia sempat membuatmu kerepotan kan Ra,” sambungnya.


Ragha hanya menjawab dengan tersenyum sambil memilih artikel yang akan digunting.


Akhirnya mereka berempat melanjutkan membuat kliping, di selah-selah aktivitas mereka, Sassha beberapa kali mencuri pandang ke arah Ragha. Ia merasakan rasa suka kepada pemuda yang berada di samping kirinya. Hal ini tidak diketahui oleh kedua sahabatnya, yang sedang serius mencari artikel yang dibutuhkan untuk dijadikan kliping.


Waktu terus bergulir sangat cepat, tidak terasa hari telah menjelang jam 4 sore, Ragha pun pamit untuk pulang ke rumah. Sebab Ia ingin menjemput Ibunya yang sedang berjualan di pasar.


“Sudah sore nih ... saya harus ke pasar untuk bantu Ibu berberes jualan,” ujar Ragha kepada ketiga gadis yang sedang menyelesaikan tugas kliping mereka.


“Terima kasih ya Ra, telah membantu tugas kami” ucap salah satu ketiga gadis itu.


“Ya sama-sama,” sahut Ragha, “Saya pamit pulang dulu ya Mi ... salam buat Ibu” ucapnya.


“Iya ... nanti saya sampaikan,” jawab Miya.


“Wassalamualaikum,” ucap salam Ragha kepada tiga gadis itu, lalu berbalik dan berjalan ke luar rumah.


“Waalaikumsalam” sahut mereka bertiga kompak, sambil menemani Ragha sampai pintu rumah.


Tanpa disadari Miya dan Dina, Sassha terus menatap pemuda itu yang melangkah pergi. Ia semakin merasakan benih-benih cinta di dalam hatinya. Kemudian mereka pun kembali ke ruang tengah untuk menyelesaikan tugas mereka.


Beberapa menit kemudian, Dina dan Sassha pun pamit untuk pulang ke rumah mereka. Apalagi mereka berdua telah dijemput oleh Ayah mereka, yang telah menunggu di luar rumah.


“Mi, kami pulang dulu ya ... Ayah kami sudah menunggu di luar,” ujar salah satu temannya.

__ADS_1


“Terima kasih ya ... sudah mau kerja kelompok di rumahku,” sambut gadis cantik berambut sebahu ini kepada kedua temannya.


Miya pun menemani kedua sahabatnya hingga ke depan pintu, dan mereka pun pergi dengan membawa perasaan masing-masing.. Terutama perasaan Sassha. Bersambung.


__ADS_2