KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM

KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM
Chapter ; Sebuah Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Disuatu tempat, Marwan sedang membersihkan sepeda motor di garasi rumahnya. Secara kebetulan hari itu adalah hari minggu, dimana ia sedang terlalu malas kemana-mana.


Saat ia sedang asyik membersihkan motornya, tiba-tiba handphonenya berbunyi yang tergeletak di atas meja yang tak jauh dari tempat pemuda itu dan mengangkat handponenya tanpa melihat siapa yang menelponnya.


“Ya halo ... siapa nih?” tanya pemuda itu.


“Ini aku Rani!” sahut dari sang penelpon, “Aku mau ajak kamu jalan sekarang! Kamu mau kan?” ajaknya.


“Aku lagi malas kemana-mana!” tolak pemuda itu dan langsung menutup pembicaraan itu.


Tidak lama kemudian.. handphonenya berbunyi kembali. Saat pemuda itu melihat no yang sama tertera di layar handphonenya. Ia pun membiarkan hal itu terus berbunyi sambil melanjutkan kegiatannya sempat terhenti.


“Kenapa sih tuh cewek! Penasaran banget sama aku!” umpat pemuda itu


“Kalo saja bukan permintaan Lana, aku enggak akan mau antar dia waktu itu,” gumamnya sambil menyirami motornya dengan air..


Pada saat Marwan sedang asyik membersihkan motornya, terdengar suara memanggilnya dari dalam rumah..


“MARWAN! MARWAN!”


“Ya Ayah ... Sebentar,” sahut pemuda itu sambil mematikan air dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Ternyata ayah pemuda itu yang memanggilnya sudah berdiri di ruang tengah sambil memegang telphone rumah.


“Ini ada telphone dari Lana!” sahut pria paruh baya itu, setelah melihat putranya telah berada di pintu rumah sambil mengarahkan gagang telphone tersebut.


Melihat hal itu, pemuda itu berjalan ke arah tempat itu dengan terpaksa mengambil gagang telphone tersebut..


“Ya assalamualaikum,” sapa pemuda itu.


“Waalaikumsalam, ini om Budi Awan,” sahut sang penelphone


“Oh! Ya ada apa om? Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu.


“Iya nih! Bisa enggak kamu antar Lana ke Mall?” tanya pria tersebut..


“Bisa om,” jawab pemuda itu.


“Ok! om tunggu di rumah ya,” ujar pria itu


“Ya om! Saya akan ke sana setelah mandi,” sahut pemuda itu..

__ADS_1


“Mana ayahmu?” tanya pria itu, “Om mau ngobrol sama dia,” sambungnya..


“Om Budi mau bicara sama ayah,” ucap pemuda itu, memberikan gagang telphone itu ke ayahnya..


Setelah ayah pemuda mengambil gagang telphone itu, ia pun bergegas ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Apa hubungan antara Lana dan Marwan? Ternyata Lana dan Marwan itu adalah saudara sepupu dan hal ini juga diketahui oleh sahabat dekat Lana yakni Rani dan Shinta.


Ayah Marwan merupakan keponakan dari Om Budi. Ayah marwan sering beberapa kali dibantu Om Budi untuk mengembangkan usahanya, sehingga bisa menjadi besar sampai sekarang ini. Dan Lana adalah anak keempat dari 3 bersaudara dan ia anak perempuan satu-satunya di keluarga Om Budi.


Lana sangat dimanjakan dan sayangi oleh keluarganya, apalagi semenjak kepergian ibu kandungnya untuk selamanya, ketiga kakak laki-lakinya sangat melindungi Lana. Dan begitu ayahnya yang sangat menyayangi anak perempuannya itu, dan ia selalu menuruti apapun keinginan anaknya. Begitu juga Marwan, ia tidak ingin ayahnya kecewa yang sering dibantu oleh Om Budi.


Satu jam kemudian...


Marwan turun dari tangga, ia melihat ayahnya sedang duduk di ruang tengah sambil membaca koran. Dan ia pun langsung berjalan mendekati tempat itu..


“Ayah ... aku berangkat dulu ya,” pamit pemuda itu, yang telah berdiri di depan ayahnya.


“Oh ya! Sebelum kamu ke sana, mampir ke toko ambil beberapa barang ya,” perintah ayahnya sambil memberikan secarik kertas ke pemuda itu.


“Baik ayah,” sahut pemuda itu, “Kalo begitu saya pergi dulu ... assalamualaikum,” pamitnya.


“Waalaikumsalam,” sahut pria paruh baya itu.


Dua jam kemudian, setelah Marwan mengambil barang di toko. Ia pun tiba di sebuah perumahan cukup elit di Kota J. Mobil pemuda itu sedang berjalan menuju rumah Lana. Setelah melewati beberapa gang, ia pun tiba di tempat itu dan langsung membunyikan klakson.


Tidak lama kemudian, seorang satpam keluar dari pintu pagar sambil berjalan mendekati mobil pemuda itu. setelah tiba di tempat itu, satpam tersebut mengetuk kaca pintu mobil


Tuk! Tuk!


Mendengar hal itu, Marwan segera menurunkan kaca jendela...


“Oh rupanya den Marwan toh,” sapa satpam itu, setelah melihat Marwan yang berada di dalam mobil tersebut.


“Ada pak Boss?” tanya pemuda itu.


“Ada den, masuk aja” sahut satpam itu dan bergegas membukakan pintu garasi rumah itu.


Mobil pemuda itu pun bergerak masuk ke dalam teras rumah yang cukup luas itu.


Saat pemuda itu keluar dari mobil, satpam yang tadi mendekatinya..


“Pak, minta tolong yang ada di dalam bagasi bawa masuk ke dalam rumah ya,” pinta pemuda itu, sambil memberikan kunci mobilnya..

__ADS_1


“Siap den,” sahut satpam itu, sambil menerima kunci tersebut.


“Masuk aja ke dalam den, pak Boss udah menunggu dari tadi,” ungkap satpam itu..


“Terima kasih ya pak,” sahut pemuda itu dan berjalan ke pintu utama rumah itu.


“Assalamualaikum,” sapa pemuda itu saat masuk ke dalam rumah...


“Waalaikumsalam,” terdengar suara sahutan yang cukup jauh dari tempat itu..


“Mana orangnya nih,” batin pemuda itu sambil celingukan sambil mencari sumber suara itu..


“Masuk ke sini aja Marwan!” terdengar suara itu lagi, yang berasal dari ruang keluarga..


Marwan yang mengenali suara itu, dan bergegas masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu...


Saat ia tiba di ruang keluarga, Marwan melihat Om Budi sedang duduk bersama Lana dan Rani.


“Kok dia ada disini sih! Kapan sampainya,” gumam hati pemuda itu dengan sedikit kesal akan kehadiran Rani.


“Siang om,” sapa pemuda itu.


“Siang juga Awan,” sahut pria paruh baya yang duduk di depannya..


“Oh iya om, itu pesanannya sudah diletakan di dalam rumah,” ungkap pemuda itu.


“Oh bilang terima kasih ya sama ayahmu,” ucap pria paruh baya itu.


“Baik om,” sahut pemuda itu..


“Om boleh minta tolong?” tanya pria itu


“Boleh,” jawabnya, “minta tolong apa om?” tanya pemuda itu.


“Tolong kamu antar dan kawal Lana dan temannya ke Mall ya,” pinta pria itu.


“Baik om,” jawabnya tegas.


Tidak lama kemudian, mereka bertiga berpamitan dengan ayah Lana. Saat di teras rumah, pemuda itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Lana.


“Antarnya mau pakai mobilku atau mobilmu nih?” tanya pemuda itu kepada sepupunya itu.


“Ya pakai mobilku dong,” jawab gadis itu dengan sikap acuh, sambil memberikan kunci mobilnya

__ADS_1


Dengan menghela nafas, pemuda itu sedikit berat hati menerima kunci tersebut dan menuruti perintah gadis itu.... bersambung.


__ADS_2