KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM

KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM
Chapter : Sebuah Pendekatan Part 2


__ADS_3

Dalam benak Marwan, ia bisa mendekati gadis pujaannya malam ini. Namun itu sia-sia karena malam ini ia harus duduk berdekatan dengan Rani. Sedangkan Jhon juga sama, ia duduk bersama dengan Mona. Di sisi lain, Miya juga tidak menyangka bahwa pemuda yang dia taksir harus duduk bersebelahan dengan sahabatnya yang ia ketahui bahwa Rani ada rasa dengan pemuda yang sama.


Miya merelakan duduk sendiri di barisan tengah Bioskop, sedangkan Rani dan Marwan duduk bersamaan di barisan tempat duduk di atas tempat Miya duduk. Lalu Jhon dan Mona duduk di barisan seberang kanan. Di sisi lain, Lana dan Shinta bersama pasangannya duduk dibarisan paling atas.


Di saat fim ditayangkan....


“Andaikan saja, saya berikan tiket itu di tempat ini,” gumam penyelasan Marwan saat melihat gadis yang disukainya tidak duduk bersamanya.


“Kamu bilang apa tadi Awan?” tanya Rani penasaran, yang tidak sengaja mendengar sedikit gumaman pemuda yang duduk di sebelahnya.


“Oh gak ... ini film bagus ya ceritanya,” jawab pemuda itu kalang-kabut, ia tidak menyangka gadis di sebelahnya mendengar keluhnya.


Di lain sisi, Jhon yang duduk bersama dengan Mona, ia juga merasa sedikit kesal dengan apa yang direncanakan oleh Marwan saat diberikan tiket waktu di kampus. Dirinya juga sadar bahwa ia akan mempunyai saingan yakni Marwan, yang sama-sama menyukai gadis yang sama dengan dirinya. Ia pun tidak akan menyangka bahwa pemuda itu bisa melangkah mendahuluinya untuk mendekati Miya. Walaupun, pada akhirnya pemuda itu harus duduk dengan Rani dan dirinya hanya bisa membayangkan gadis pujaannya yang duduk bersamanya.


Saat Jhon sedang membayangkan gadis pujaan duduk bersamanya, terdengar suara yang membuyarkan lamunannya...


“Jhon ... Jhon,” suara gadis di sebelahnya sambil menarik-narik baju yang dikenakan


“Eh! Iya,” jawabnya gelagapan, “Ada apa Mona?” tanya pemuda itu


“Enggak, dari tadi kamu seperti melamunkan sesuatu,” ujar gadis itu penasaran


“Oh ... aku gak ngelamunin siapa-siapa kok,” sahut pemuda itu, “Hanya kagum sama filmnya, kok bisa ya mereka buatnya seperti itu,” ungkapnya.


Satu jam berlalu... film yang ditayangkan pun berakhir. Dan Miya dan kawan-kawan keluar dan berkumpul di depan pintu keluar Bioskop.


“Habis ini, kalian punya acara apa lagi,” tanya Lana kepada teman-temannya


“Aku mau ajak Mona makan dulu,” jawab Miya yang dari tadi sudah terasa lapar.


“Kalo kamu Lan?” tanya gadis itu kepada Lana


“Aku mau lanjut jalan sama pasanganku,” jawabnya sambil mengandeng pacarnya


“Aku kayanya mau nemenin pacarku ke RS,” ujar Shinta..


“Memang siapa yang sakit Shin?” tanya Miya

__ADS_1


“Oh enggak ada yang sakit ko! Hanya mau jenguk kakaknya pacarku habis lahiran ko,” ungkapnya


“Wah ... selamat ya bro, atas kelahiran keponakannya,” ujar Marwan sambil memberikan salam kepada pemuda yang berdiri di samping Shinta.


“Iya terima kasih,” sahut pemuda itu sambil menyambut salam tersebut, lalu diiringi dengan teman-teman yang lain juga memberikan selamat kepadanya.


“Oh iya! Saya boleh minta tolong engga sama kamu Awan,” ucap Lana kepada pemuda yang berdiri di depannya.


“Apa itu?” tanya pemuda itu


“Boleh tolong antar Rani ke rumahnya ya,” pinta gadis itu, “Berhubung saya dan Shinta masih ada acara, jadi dia gak ada yang antar,” sambungnya.


Marwan tersentak dan terdiam mendengar permintaan itu, dan bingung harus menjawab apa.


“Please ... tolongin ya,” ucap Lana kepada pemuda itu


“Lagipula tempat tinggalmu searah dengan rumah Rani kan,” ungkap gadis itu, “Jadi ... please bisa ya Awan,” pintanya...


“Baiklah,” jawab pemuda itu yang menerima permintaan tersebut dengan berat hati.


“Iya ... aku ikhlas kok mau antarin,” jawabnya


“Makasih ya Awan,” ucap Lana kepada Marwan


“Ya udah! Aku duluan ya teman-teman,” pamit gadis itu kepada teman-temannya


“Iya aku pamit pergi juga ya,” ujar Shinta...


Setelah berapa menit mereka pergi, tinggal lah Jhon, Marwan, Miya, Mona dan Rani di tempat itu.


“Kamu mau langsung pulang Jhon?” tanya Mona kepada pemuda itu


“Aku tak tahu mau kemana setelah ini ... mungkin saya mau cari tempat makan,” jawabnya


“Kalo gitu bareng saja sama aku dan Miya,” ajak gadis itu antusias..


Ajakan itu membuat Marwan sedikit kaget mendengarnya, dalam hatinya kenapa ia harus menerima permintaan Lana dan dirinya bisa ikut bergabung.

__ADS_1


“Boleh juga tuh,” sahut Jhon antusias mendengar ajakan itu, di dalam hatinya ini merupakan kesempatan untuk mendekati gadis pujaannya.


“Tapi kamu bawa mobil sendiri ya ... nanti kamu ikuti kami dari belakang,” pinta Mona kepada pemuda itu.


“Sip! Tenang aja” sahut pemuda sambil memberikan tanda jempol kepada gadis di depannya.


“Kalo kamu Ran, Kamu juga mau gabung?” tanya Miya kepada gadis yang berdiri di samping Marwan.


“Aku pass deh! Aku kayanya kurang enak badan,” tolak halus Rani, “mungkin aku mau langsung pulang deh,” ungkapnya kembali


“Marwan! Kasiahan tuh Rani ... antar dia pulang ya,” pinta Miya merasa iba melihat gadis di depannya seperti kurang sehat...


Marwan menjawab hanya menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi meninggalkan tempar itu untuk mengantar Rani pulang ke rumahnya dengan hati yang penuh kekesalan. Bahwa malam ini, ia merasa telah disalip oleh rivalnya untuk mendekati Miya.


Tidak lama kemudian setelah Marwan dan Rani pergi, mereka bertiga juga berjalan keluar dari tempat itu. sesampainya area parkir mobil....


“Jhon! Kamu ikutin kami di belakang ya.” Pinta Mona kepada pemuda itu..


Saat kedua gadis itu masuk ke dalam mobil dan berjalan keluar dari area parkir tersebut, Jhon yang mengikuti dari belakang merasa sangat senang sekali malam ini. Dalam hatinya, ia telah maju selangkah dari rivalnya untuk mendekati Miya...


Di tempat lain, Marwan yang sedang mengantar Rani dengan mobilnya, merasa sedikit kesal telah kehilangan kesempatan untuk mendekati gadis pujaannya. Dalam hatinya ia berharap rivalnya tidak terburu-buru untuk ungkapkan perasaannya.


Pada saat Marwan sedang berkecamuk perang dalam hatinya, terdengar suara dari gadis di sampingnya..


“Awan! Kita ke tempat makan dulu yuk,” ajak gadis itu tiba-tiba..


Sontak Marwan yang sedang mengemudi sedikit terkejut permintaan gadis itu, bukankah tadi ia sedang kurang enak badan? Dalam benak pemuda itu.


“Kamu udah gak apa-apa?” tanya Marwan dengan hati-hati..


“Aku gak apa-apa kok,” sahut gadis itu...


“Bukannya tadi kamu kurang enak badan ya?” tanya ragu pemuda itu..


“Kata siapa aku sakit!?” sahutnya, “Ih! Kamu kurang peka ya,” ujar kembali gadis itu.


Mendengar hal itu Marwan diam seribu kata, ia tidak menyangka bahwa gadis di sampingnya berpura-pura hanya untuk mendekatinya.... bersambung

__ADS_1


__ADS_2