
Waktu terus berlalu, tidak terasa Miya dan teman-temannya telah masuk SMPN Pelita 1 di Desa S, yang tidak jauh letaknya dari SDN Pelita. Persahabatan mereka semakin erat, sehingga mereka dijuluki Tiga Bidadari dari Pelita.
Begitu juga Ragha, ia dan sahabatnya Wawan saat ini duduk di kelas 2 SMPN 1, yang terletak di Desa K. SMPN 1 merupakan salah satu Sekolah Favorit di Kota M. Untuk masuk ke Sekolah ini adalah murid-murid pilihan yang pintar dalam segi akademik maupun non-akademik (Olahraga). Ragha dan Wawan 5 siswa dari SDN 1 Jaya yang mendapatkan beasiswa karena prestasi Olahraga di cabang pencak silat, yang masuk ke SMPN 1.
Di suatu hari, Miya dan kedua sahabatnya jalan pulang dari sekolah, tidak disengaja pas diperempatan jalan penghubung dari Desa K menuju Desa S, mereka berpapasan dengan dua pemuda yang sedang jalan pulang Sekolah juga, Mereka adalah Ragha dan Wawan.
“Hai cowok!” panggil salah satu dari ketiga gadis itu.
“Hai juga!” sahut Wawan dengan antusias, “Eh ... Ternyata tiga bidadari pelita,” sambungnya dengan tersenyum.
“Mau pulang bersama?” ajak Dina kepada kedua pemuda yang tiba dari sebelah kanan jalan.
“Oh! Siapa takut,” sahut Wawan, “Saya dan Ragha sangat senang hati bisa jalan bareng kalian bertiga,” sambungnya.
Dan mereka pun melanjutkan jalan pulang bersama. Di selah-selah perjalanan mereka melakukan berbincangan tentang Sekolah dan kabar masing-masing.
“Bagaimana sekolah dan kabar kalian?” tanya Wawan kepada ketiga dara yang ada di depannya.
“Alhamdulillah ... baik dan lancar ko,” sahut Sassha dengan ramah, “Kalo kalian berdua?” tanya gadis seperti bule ini kepada kedua pemuda yang dibelakangnya.
“Alhamdulillah baik juga,” jawab Wawan tersenyum.
“Wan, sekarang kamu sedikit dewasa ya,” tanya Dina, “Apalagi kamu sekarang sedikit berkumis” sambungnya dengan nada mengoda.
“Iya tentu dong ... itu namanya saya lelaki sejati kan,” sahutnya dengan nada bangga.
“Iya beda banget sama temanmu itu,” goda gadis berambut ikal itu,”Aga pendiam akhir-akhir ini,” sambungnya.
“Maksudmu dia?” sahutnya sambil jembolnya mengarah pemuda berada samping kirinya.
“Oh! Enggak juga sih ... kalo di kelas dia bawel loh,” jawab pemuda bertubuh tegap itu, dengan mengoda sahabatnya.
__ADS_1
Ragha dengan spontan menjitak kepala temannya yang sedang mengodanya itu, lalu suasana pecah diiringi gelak tawa mereka berlima...
Di sepanjang perjalanan, suasana sedikit hening diantara mereka berempat.. tiba-tiba.. Sassha memulai percakapannya kepada pemuda yang ada dibelakangnya.
“Oh ya ... kapan kamu audisi untuk masuk platnas Ra,” tanya gadis seperti bule itu, memecahkan kesunyian.
“Setelah ujian Sha,” sahut pemuda itu, “Semoga saja berjalan lancar,” sambungnya.
“Semoga kamu lolos ya Ra,” ucap Miya.
“Amin ... Terima kasih Mi, atas doanya,” sahut pemuda yang ada dibelakangnya.
Di selah-selah perjalanan, Sassha sedikit melambat langkahnya agar ia bisa beriringan dengan Ragha. Mereka berdua memulai percakapan cukup hangat, sedangkan Wawan yang pindah sebelah kanan Ragha.
Merasa sedikit dicuekin, Wawan mengambil inisiatif untuk melangkah maju menghampiri kedua gadis yang di depannya yang asyik berbincang kecil. Saat menghampiri kedua dara itu, Wawan dengan sifat jahilnya membuat kedua gadis itu sedikit terkejut.
“Hayo ... lagi gosipin siapa?” goda pemuda yang secara tiba-tiba sudah berada di samping kanan mereka.
“Sialan kamu Wawan!” ketusnya sambil memukul lengan pemuda itu.
“I am sorry lah Din.” jawabnya dengan nada sedikit bersalah, “Peace ... jangan marah ya,” ucapnya penuh senyum dengan dua jari memberi kode damai ke gadis berambut ikal itu.
Miya yang paling sebelah kiri hanya tersenyum, walaupun dia sempat kaget juga kedatangan Wawan secara tiba-tiba itu. Dan ia pun bertanya ke pemuda itu.
“Oh ya Wan ... kamu juga ikut audisi platnas juga kan?” tanya Miya.
“Iya Mi ... tapi saya ragu akan lolos,” ucap pemuda, dan dengan tegas berkata “Sebab pesertanya cukup berat-berat,”
“Kok! Kamu ragu sih Wan ... kamu kan belum coba,” sahut Dina.
“Iya ... kalian tahu kan, lawan dia saja saya gak pernah menang,” ujarnya sambil tersenyum dengan jari jempolnya memberi kode mengarah pemuda yang sedang berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
“Kamu saja yang kurang serius latihan kali,” goda gadis berambut ikal yang berada samping kirinya.
“Bisa jadi,” jawab pemuda itu sekenanya sambil tertawa.
Dina pun mulai melompat untuk memukul punggung pemuda itu dan berkata, “ Huuuhhuu ... dasar kamu ini ya,” ucap gemas gadis itu.
Tidak lama kemudian mereka hampir tiba di pasar Desa S, dimana Wawan harus mengambil arah lain menuju desa R dan ia pun pamit kepada ketiga teman itu.
“Wah ... pasar nih,” ucapnya, dan mengucap pamit, “Ok kawan-kawan, kita berpisah disini ya,”
“Ra, tolong jaga ketiga bidadari ini sampai rumah ya,” goda pemuda yang ada di depannya.
Wawan pun berjalan ke arah kanan menuju Desa R, dan keempat temannya melihat kepergiannya yang lama semakin menjauh dari mereka. Dan akhirnya mereka memutuskan melanjutkan perjalanan, dimana Miya bersama Dina berada di depan, sedangkan Sassha tetap berada di belakang berjalan bersama Ragha.
Selama perjalanan Sassha terus berbincang-bincang halus dengan Ragha, sedangkan Miya dan Dina membahas pelajaran yang baru mereka pelajari di kelas.
Gadis cantik berkulit putih dengan rambut panjang sepunggung ini, mulai menuai rasa suka kepada pemuda yang berada disampingnya. Namun. Dia masih belum berani untuk ungkapkan perasaannya, karena ia belum pahami yang dirasakan. Apakah itu rasa kagum atau cinta?. Itu yang sedang dia alami saat ini, apalagi kedua sahabatnya juga belum mengetahuinya sama sekali. Sebagai sahabat, Miya dan Dina hanya berpikir bahwa Sassha hanya ingin lebih mengenal tentang Ragha.
Sedangkan Ragha sudah memiliki rasa sukanya kepada Miya, tapi ia juga belum berani ungkapkan. Di sisi lain, Miya hanya memandang semua itu hanya sebagai persahabatan semata.
Tidak lama kemudian dipertigaan jalan, langkah mereka terhenti. Di gang itu merupakan arah rumah Sassha, dan Miya meminta tolong ke Ragha untuk mengantar sahabatnya itu.
“Ra ... Tolong antar Sassha?” pinta Miya kepada Ragha.
“Tentu bisa Mi,” jawab pemuda itu, “Ayo Sha, saya antar sampai rumah,” ajaknya.
Sassha menjawab dengan mengangguk, dan akhirnya mereka berdua berjalan masuk ke gang sebelah kiri menuju rumah Sassha. Sedangkan Miya dan Dina pun melanjutkan perjalanan mereka.
Beberapa menit kemudian sebelum melewati rumah Ragha, mereka berdua berhenti melangkah. Sebab di gang sebelah kanan, merupakan jalan menuju rumah Dina. Mereka berduapun berpamitan dan berpencar ke arah rumah masing-masing.
Pada saat waktu terus berputar, tidak terasa hari pun menjelang malam. Bersambung.
__ADS_1