KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM

KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM
Chapter : Cinta Dan Persahabatan Part 1


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.. tidak terasa, Miya tumbuh menjadi gadis menginjak kelas 5 SDN Pelita di Desa S. Gadis berparas cantik yang berpostur sintal dan memiliki tinggi 125cm ini, cukup digandrungi anak laki-laki di sekolahnya, apalagi Miya cukup cerdas di bidang akademik, ia selalu saja mendapatkan Ranking pertama di kelasnya. Selain itu, Miya juga mempunyai dua sahabat yang juga pintar dan tidak kalah dalam mencatat prestasi akademik sekolah. Selain itu, dua sahabat ini juga tidak kalah cantik sama seperti Miya, mereka bernama Dina dan Sasha.


Dina adalah gadis berkulit sedikit kecoklatan dengan postur tubuh cukup tinggi untuk ukuran anak Sekolah Dasar, ia berparas cukup cantik dengan rambut ikal yang panjang sebahu. Selain pintar, ia juga mahir olahraga bola voli dan sering ikut membela sekolah di turnamen antar Desa. Sedangkan Sasha adalah gadis mempunyai kulit putih dengan postur tubuh padat dengan tinggi badan yang sama dengan Miya.


Sasha adalah gadis pribumi Desa S lebih cantik dari Dina maupun Miya, ia mempunyai paras wajah seperti blasteran eropa timur. Sasha mahir menari seperti Miya, namun ia lebih tertarik ke Tarian Tradisional sedangkan Miya Tarian Ballet.


Mereka bertiga ini sering kali mendapatkan perhatian dari adik kelas hingga kakak kelas mereka. Walaupun rumah mereka sedikit berjauhan di Desa S, namun itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menjalin persahabatan.


Sedangkan di sisi lain, Ragha sudah menginjak kelas 6 SDN 1 Jaya di Desa R. Pemuda bertubuh tinggi semampai ini, memiliki sifat pendiam di sekolahnya. Namun dalam hal pendidikan, Ragha juga cukup pintar yang selalu menduduki posisi Ranking lima besar di kelasnya. Pemuda kulit sawo matang yang suka beladiri ini, belajar di padepokan Pencak Silat di Desa S. Walaupun Ragha mempunyai sifat pendiam, ia memiliki banyak teman di sekolahnya, namun hanya ada satu teman paling dekat dengan dirinya, ia bernama Wawan.


Wawan merupakan teman sekelas dan satu padepokan dengan Ragha. Ia memiliki tinggi tubuh sedikit pendek dengan postur tegap. Pria dengan tubuh tegap ini, memiliki paras yang cukup tampan ini, cukup pintar di sekolahnya dan ia terkenal dengan sifat jail di sekolah. Oleh sebab itu, ia acap kali di panggil oleh Kepala Sekolah karena sifat usilnya.


Suatu hari, ada sebuah ajang kompetisi olahraga antar sekolah. Dimana saat itu Desa S menjadi tuan rumah pada ajang tersebut. Selain kompetisi olahraga juga terdapat kompetisi akademik antar sekolah, yang selalu menjadi ajang kebolehan para siswa sekolah di empat desa di Kota M.


Dari empat desa itu, yang paling menonjol Sekolah Negri 1 Jaya dari Desa R dan Sekolah Negri Pelita dari Desa S. kedua sekolah ini, sering kali melahirkan bibit-bibit pintar dalam akademik maupun menjadi atlet olahraga.


“Miya ... Tunggu!” terdengar suara perempuan dari lorong sekolah.


Miya menoleh ke arah sumber itu, dan ia adalah Dina dan Sassha yang berjalan mendekatinya.


“Ya ... ada apa Din?” sahut Miya sambil menunggu kedatangan kedua sahabatnya.


“Kamu udah dengarkan tetang Kompetisi Sekolah antar Desa yang sebentar lagi akan diadakan kan?” ucap Dina antusias.


“Kamu ikut kan Mi (panggilan kecil Miya),?” celetuk Sassha dengan nada penasaran.


“Ya ... Saya ikut! Tapi ... Saya belum yakin akan menang,“ sahut Miya dengan nada keraguan dan berkata..“Kalian tau kan, Sekolah Negri 1 Jaya itu siswa-siswanya sangat pintar dan unggul di bidang olahraga”


“Iya sih ... tapi kita harus mencobanya Mi,” ujar Sassha.

__ADS_1


“Setidaknya, kita bisa bersaing di Kompetisi Cerdas-Cermat nanti,” lanjutnya dengan nada antusias.


“Ya ... Aku ikut, asalkan kalian ikut juga,” sahut gadis manis ini yang berdiri di depan kedua sahabatnya.


“Ya tentu dong Mi,“ sahut mereka dengan nada riang.


“Oh ya! Kamu punya teman yang sekolah di Negri 1 jaya kan?” tanya Sassha dengan tiba-tiba.


”Siapa Sha?” jawab Miya dengan raut wajah kebingungan.


“Itu loh! Si Ragha,” sahut Dina dan berkata, “Dia kan tinggal dekat rumahmu Mi,”


“Ya ... lalu, ada apa dengan dia?” tanya gadis manis ini di depan kedua temannya.


“Gimana kalo kita minta informasi ke dia, siapa saja yang ikut dalam Kompetisi Cerdas-Cermat dari sekolahnya,” ujar Dina dengan raut wajah penasarannya.


“Jangan! Kalo kita melakukan itu namanya curang dong,” ujar Sassha tiba-tiba dengan nada ketus.


“Btw, aku dengar-dengar si Ragha ingin dipanggil masuk pelatnas loh!” ujar Dina.


“Oh! Saya juga dengar kabar itu dari Bapak Lurah kita,” sambung Sassha dengan antusias.


“Iya ... kalo itu saya juga tahu dari Ayahnya, pada saat main ke rumah waktu lalu,” jawab Miya.


“Ooo,” sahut mereka secara bersamaan.


“Gimana kalo sore ini kita belajar bersama di rumah Mi?” ucap Sassha tiba-tiba.


“Kita kan mau ikut Cerdas-Cermat, setidaknya kita harus mempersiapkan diri dengan matang kan,” Sambung gadis cantik ini di depan Miya dan Dina.

__ADS_1


“Boleh! Tapi kita harus ke perpustakaan dahulu, untuk mencari bahan-bahan nanti” sahut Miya dengan antusias.


“Sebelum kita ke rumah Miya, kita mampir dulu beli jajan pasar buat cemilan ya,” sambar Dina dengan nada riang.


Dan mereka bertiga beranjak dari lorong sekolah menuju perpustakaan untuk mencari bahan-bahan sebelum ke rumah Miya... Sepanjang lorong ketiga gadis ini selalu menjadi perhatian murid-murid di sekolah, terutama murid pria.


Tak lama mereka berjalan ada suara pria menegur dari belakang mereka..


“Hai Miya ... Dina ... Sassha,” ucap dari pemuda berperawakan tubuh besar dan memiliki kulit sawo matang ini, memberi salam ketiga dara di depannya.


“Hai juga Ramon,” jawab mereka bertiga ramah.


“Mau ke Perpus ya?” tanya pemuda itu.


“Ya, kamu juga ingin ke sana kah Mon?” sahut Dina kepada pemuda di depannya.


“Oh tidak! Terima kasih,” jawab Ramon dengan nada setengah kecewa.


“Saya kira kalian ingin pulang,” ucapnya kembali.


“Kami akan pulang kok, tapi kami ke Perpus dulu ... habis itu ke pasar,” sahut Sassha dengan antusias.


“Apa ada yang bisa dibantun Mon,” selah Miya kepada pemuda itu.


“Oh tidak Miya, saya hanya ingin jalan pulang bareng bersama kalian saja,” jawab Ramon.


“Mungkin dilain waktu,” sahutnya kembali, dan beranjak pergi menjauhi ketiga dara itu.


“Ayo! Kita lanjutkan ke Perpus, sebelum di tutup,” ajak Dina kepada kedua temanya.

__ADS_1


Dan Miya dan Sassha menjawab dengan mengangguk dan tersenyum ke Dina, akhirnya mereka bertiga berjalan menuju Perpustakaan Sekolah dan melanjutkan rencana mereka.....bersambung.


__ADS_2