
Beberapa tahun kemudian... Dimana sebuah pertemuan pasti akan ada perpisahan. Itulah yang terjadi terhadap kehidupan, seperti perpisahan sesama sahabat, saudara maupun pasangan. Begitu juga persahabatan antara Miya, Dina dan Sassha, dimana mereka bertiga telah menyelesaikan ujian untuk kelulusan di SMAN 3 Pelita.
Miya harus melanjutkan pendidikan akademiknya di Kota J, dimana adik kandung dari ayahnya yaitu tante Mirna yang meminta ditemani karena kedua anaknya kuliah di luar negri. Wanita paruh baya yang memiliki wajah cantik dan berkulit putih yang merupakan mantan Pramugari ini tidak ingin tinggal sendiri di rumahnya, apalagi suaminya masih aktif sebagai Pilot penerbangan internasional.
Begitu juga kedua sahabat Miya, Dina dan Sassha. Mereka berdua melanjutkan masa depan masing-masing. Dina sebagai atlet nasional bola voli, sedangkan Sassha harus menikah dengan seseorang yang merupakan pilihan dari orang tuanya. Bagaimana hubungan antara Sassha dan Ragha?
Hubungan mereka tidak berlangsung lama sejak Ragha lulus dari SMAN 1 Jaya. Dimana orang tua Sassha tidak merestui, sebab semenjak lulus pemuda desa sederhana ini hanya bekerja serabutan membantu orang tuanya. Apalagi hubungan mereka berdua ini, sering putus-nyambung. Sassha mempunyai sifat cemburu, dimana pemuda yang disayanginya ini sering kali membantu Miya, bila pemuda itu diminta tolong oleh sahabatnya itu. Apalagi mereka berdua tinggal sangat berdekatan di Desa S. Walaupun sering kali terjadi kesalah-pahaman, mereka bertiga tetap menjalin persahabatan yang sangat baik.
Bagaimana dengan teman dekat Ragha si Wawan? Setelah lulus, pemuda bertubuh tegap ini meneruskan masa depannya masuk ke pelatihan militer di Kota B. Sejak masih duduk di kelas 1 SMA, Wawan kerap kali bercerita kepada Ragha tentang keinginannya ingin menjadi Tentara.
Pada suatu sore hari beberapa hari sebelum perpisahan.. Terlihatlah ketiga dara sedang berjalan ke rumah salah satu dari mereka bertiga. Mereka adalah Miya, Dina dan Sassha yang baru saja membeli sesuatu dari pasar Desa S. Dimana Miya dan Dina sedang membantu Sassha yang akan menikah beberapa minggu lagi. Ketiga dara ini sedang bercengkrama sambil berjalan menuju rumah Sassha...
“Sha, semua sudah lengkap belum?” tanya wanita berambut ikal di sebelah kiri, ia adalah Dina.
“Sudah ko Din,” jawabnya, “Nanti sisanya akan dilengkapi dari pihak keluarga pria,” sambung Sassha.
“Cukup disayangkan ya ... kalo hubungan kamu dan Ragha tidak berlanjut,” ucap lirih Dina.
“Ya ... belum jodohnya Din,” jawabnya dengan tersenyum getir.
“Oh ya! Kamu sudah bertemu dengan pasanganmu Sha?” tanya Miya yang berjalan di samping kanan Sassha, memecahkan suasana cangung saat itu.
“Sudah Mi,” jawabnya, “Beberapa hari lalu, ia datang bersama orang tuanya,” lanjut wanita berambut panjang sepunggung itu.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu Mi,?” tanya Dina tiba-tiba, “Kapan kamu akan pergi ke Kota J?”sambungnya.
“Setelah pernikahan sahabat kita ini Din,” jawabnya dengan senyum sambil melirik sahabatnya yang berdiri diantara mereka berdua.
Beberapa minggu kemudian.. akhirnya terlaksana pernikahan Sassha dengan pasangan pilihan orang tuanya. Pada waktu itu, semua sahabat, teman maupun saudara dari kedua belah pihak datang dan pergi silih berganti, untuk mendoakan dan memberikan selamat kepada kedua pasangan ini. Begitu juga Ragha dan Wawan pun hadir ke acara tersebut, walaupun saat itu sempat terjadi suasana canggung namun tidak lama kemudian suasana menjadi cair sebab sikap Wawan yang suka jail selama acara itu berlangsung.
Setelah beberapa hari kemudian acara itu, Dina datang ke rumah Miya untuk mengucapkan perpisahaan. Wanita cantik berambut ikal yang panjang sebahu ini, akan pergi ke Kota S untuk menjalani pelatnas bola voli, yang merupakan kesukaannya akan olahraga ini membuat digeluti sejak Sekolah Dasar dan ia akan melanjutkan sebagai atlet profesional.
Saat itu pada sore hari... terdengar suara wanita mengucapkan salam dari luar rumah Miya.
“Assalamuailaikum,” ucap salam dari luar rumah.
“Wa’alaikumsalam,” sahut suara wanita dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, keluarlah seorang wanita paruh baya yang sedang menatap seorang dara cantik yang merupakan teman anaknya.
“Iya Bu,” sahutnya dan kemudian bertanya, “Miya ada Bu?”
“Oh ada! Miya sudah menunggu di dalam,” jawab wanita paruh baya itu sambil mempersilahkan teman anaknya untuk masuk ke dalam, “Mari nak ... masuk ke dalam,” ajaknya.
Tidak lama kemudian Dina masuk ke dalam, dirinya melihat sahabatnya duduk dilantai sedang menulis mempersiapkan data untuk kuliah di Kota J. Lalu dengan langkah pelan-pelan ia mendekati Miya yang tampak fokus menulis saat itu.
“Hai say ... serius amat sih,” tegur Dina tiba-tiba kepada sahabatnya itu yang sedang fokus menulis.
__ADS_1
“Eh! Kaget aku,” ucapnya tersentak saat melihat wanita berambut ikal itu sudah duduk disampingnya dan berkata, “Eh kamu rupanya Din,”
“Kamu kapan berangkat ke Kota S” tanya Miya kepada sahabatnya yang sedang membantu membereskan kertas yang tergeletak dilantai.
“Lusa siang Mi,” jawabnya dan bertanya ke gadis cantik di sebelahnya, “Kalo kamu kapan berangkat ke Kota J?”
“Tiga hari lagi Din,” jawabnya, “Soalnya ada beberapa hal yang harus aku lengkapi,” ucap Miya.
“Oh! Aduh maaf ya ... aku ga bisa bantu Mi,” ujar Dina dengan nada sedih.
“Iya gak apa-apa kok Din,” ucap Miya, “Ada Ragha kok, yang bantu aku,” sambungnya.
Dina menjawab dengan menganggukan kepala dan ia pun membantu Miya membereskan pakaian yang akan dibawa nanti. Pada sore hari Dina akhirnya pamit pulang dan mengucapkan perpisahan kepada sahabatnya.
“Mi ... sampai kita bertemu lagi ya,” ucapnya sedih sambil memeluk Miya di teras rumah, “Jangan lupakan aku ya,” sambungnya lirih.
“Iya ... kamu juga jangan lupakan aku ya Din” ujar lirih Miya memeluk sahabatnya itu.
Saat Miya dan Dina berpelukan dan akhirnya tak terbendunglah kesedihan pecah kedua sahabat ini. Seakan mereka akan berpisah dengan waktu yang panjang, yang kemungkinan kecil mereka akan bertemu lagi. Hanya waktu bisa menjawab semua itu.
Waktu terus berlalu... sehari sebelum Miya akan pergi ke Kota J. pada saat hari menjelang sore di rumah Miya, terlihat seorang pemuda sedang membantu mengemas barang-barang Miya, dia adalah Ragha. Tidak lama kemudian sebelum pemuda itu pamit pulang, Miya datang menghampirinya.
“Terima kasih ya Ra, atas bantuannya,” ucapnya dan berkata, “Sampai Bertemu laga ya,” lanjutnya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
__ADS_1
“Iya sampai jumpa lagi Mi” jawabnya dengan senyum getir.
Dan akhirnya pemuda itu melangkah pulang, dengan membawa rasa cintanya yang terpendam di dalam hati dan entah sampai kapan itu bisa ia ungkapkan kepada gadis yang disukainya sejak awal mereka bertemu. Bersambung.