
Di suatu tempat ruang kelas SDN 1 Jaya, Ragha sedang memasukan buku-bukunya untuk pulang sekolah. Tiba-tiba...
“Ra!” terdengar suara pria memanggil nama kecilnya dari pintu kelas 6, ia adalah Wawan sahabat Ragha.
“Ya ... sebentar,” sahut Ragha.
“Ayo cepat, kita nanti telat nih” ujar pria bertubuh tegap ini kepada sahabatnya.
“Ya ... Ya!” sahut Ragha dengan menatap lurus ke arah temannya.
“Kita langsung ke padepokan kan?” tanya Ragha ke Wawan.
“Aku ga mau loh ... mampir-mampir seperti kemarin,” lanjutnya, sambil menginggat kejadian tingkah konyol Wawan di pasar kemarin.
“Tenang saja kawan, kita langsung ke padepokan kok,” sahut Wawan sambil merangkul Ragha dan berjalan menuju keluar sekolah.
Di sepanjang lorong kelas, dua sahabat ini sering disapa oleh teman-teman mereka yang juga ingin pulang sekolah pada siang hari itu. Tidak lama kemudian terdengar suara sapaan dari ruang kelas 6 A, mereka adalah Tono dan Dino
“Hai! Ragha ... Wawan!” sapa salah satu kawan mereka yang datang dari sisi kiri kelas.
“Halo Ton! Din!” sahut Wawan dengan cengar-cengir.
“Kalian kepadepokan kan” tanya Dino ke kedua pemuda di depannya.
“Ya ... mau barengkah?” tanya Ragha ke pria coklat matang berambut kriting tersebut.
“Ya harus barenglah ... kalo rame-rame kan seru,” sambar Tono.
Tidak lama kemudian ke-empat pemuda ini berjalan keluar sekolah menuju padepokan pencak silat yang terdapat di desa R. Walaupun ke-empat pemuda berteman sangat akrab, namun Ragha lebih dekat dengan Wawan, yang secara kebetulan tinggal di Desa R.
Sedangkan Dino dan Tono, tinggal di seberang Desa L dan Desa K. karena sebab itu Dino dan Tono hanya bisa bersama saat di sekolah dan di padepokan.
Di suatu tempat Desa S, terlihat tiga gadis sedang berjalan ke rumah Miya. Sebelumnya mereka pergi ke pasar Desa S untuk membeli cemilan. Di tengah perjalanan, mereka melewati rumah Ragha sebelum tiba di rumah Miya.
“Eh! Ini rumah Ragha kan?” tanya Dina ke sahabatnya yang ada di samping kanannya.
“Ya!” jawab pendek Miya kepada sahabatnya.
“Oh ya! Sejak kapan si Ragha ikut beladiri Mi?” tanya penasaran Sassha yang berdiri di samping kiri Dina.
“Kalo tidak salah sejak kelas 1 SD,” jawab Miya dengan senyum lembut.
__ADS_1
“Oh ... pantas dia di panggil ke pelatnas, selain itu dia sering juara kompetisi antar sekolah beberapa kali kan,” ujar Dina dengan nada kagum.
Tidak lama kemudian mereka tiba di tempat tinggal Miya, dan mereka pun serempak mengucapkan salam dari teras rumah.
“Assalamualaikum!” ucap ketiga dara ini dengan penuh semangat.
“Waalaikumsalam!” sahut suara perempuan paruh bayah dari dalam rumah.
Krrriiiiieeekkkk... terdengar suara pintu terbuka, terlihat seorang wanita tinggi semampai keluar dari rumah.
“Oh ... rupanya kamu nak, ayo masuk ke dalam,” sambut perempuan tersebut yang merupakan ibunya Miya ketiga gadis yang ada di depannya.
“Terima kasih Ibu ... kami ingin belajar kelompok untuk kompetisi sekolah di sini boleh Bu?” ucap salah satu teman anaknya.
“Tentu Boleh dong,” sahut hangat wanita paruh baya itu dan berucap “Ayo masuk, anggap aja rumah sendiri,”
Mereka pun masuk menyusul Miya yang lebih dulu masuk rumah, dan langsung menuju ke belakang untuk mengemas cemilan yang mereka beli di pasar tadi.
“Silahkan duduk dulu Neng-neng cantik,” ajak wanita paruh baya itu sambil mempersilahkan duduk di ruang tengah rumah.
Tidak lama kemudian keluarlah Miya dari belakang dengan membawa cemilan dan minuman ke ruang tengah. Dina dengan antusias membantunya meletakan cemilan dan minuman itu di atas meja, sedangkan Sassha mengeluarkan beberapa buku yang mereka pinjam dari perpustakanan dari tasnya.
Wanita paruh baya berdiri depan bilik kamar dengan tersenyum melihat anak dan teman-temannya yang semangat untuk belajar.
“Ya Bu,” sahut mereka bertiga.
Disuatu tempat di Desa R, empat pemuda yang sedang berjalan beriringan menuju padepokan. Mereka ke sana seminggu dua kali, untuk melakukan latihan beladiri pencak silat. Tak lama kemudian mereka tiba di pekarangan padepokan, dan mengucap salam..
“Assalamualaikum! Selamat hormat Sabeum!” ucap salam mereka berempat dengan sikap hormat pendekar kepada pria tengah baya dengan berperawakan kekar di teras padepokan.
“Waalaikumsalam, ayo cepat ganti baju kalian dan bentuk sikap dan barisan ya,” sahut pria itu.
“Baik Sabeum!” sambut kompak mereka berempat, dan langsung menganti pakaian mereka dengan pakaian pencak silat.
Tidak berselang lama, padepokan itu dipenuhi beberapa pemuda dan pemudi yang datang untuk latihan pencak silat. Sebagian mereka datang dari empat desa dan sebagian lagi dari luar desa, sebab padepokan ini cukup terkenal di Kota M.
“Ayo berbaris dan ambil sikap!” perintah lantang Sabeum dari teras padepokan.
Sekitar 50 orang hadir di padepokan itu langsung bergerak cepat membuat barisan dan langsung membuat sikap kuda-kuda.
“Hari ini seperti biasa, kita mulai dari sikap buka 1 hingga 8!” perintah pria berperawakan kekar itu kepada murid-muridnya.
__ADS_1
“Sikap 1!” Teriaknya.
“Hyaaat!!” suara serempak murid padepokan.
Waktu tidak terasa beranjak sore...
“Berhenti!” perintah tiba-tiba pria itu.
“Waktu sudah menjelang sore, saya rasa cukup latihan hari ini,” lanjutnya.
“Sekarang ambil sikap dan ucapkan salam,” ujar kembali pria tersebut.
“Salam hormat Sabeum!” sahut serempak murid padepokan sambil mengambil sikap hormat pendekar dan membubarkan diri.
Diselah-selah para murid pria berganti baju di pakarangan padepokan, sang guru padepokan melihat Ragha dan teman-temannya sedang berganti.
“Ragha! Kemari!” dengan nada suara lantang memanggil muridnya itu.
“Ya siap Sabeum,” sahut Ragha sambil berlari kecil menghampiri guru pencak silatnya.
“Gimana surat panggilan untuk pelatnas, sudah kau jawab belum?” tanyanya ke pemuda di depannya.
“Belum Sabeum,” jawab pemuda itu.
“Kenapa? Apa kau masih ragu Ragha?” ujar guru silatnya.
“Ya Sabeum, apalagi saya sebentar lagi ujian kelulusan untuk masuk SMP Sabeum,” jawabnya tegas.
“Baiklah, saya harap setelah masuk SMP kamu bisa ambil keputusan” ujar pria berperawakan kekar itu kepada murid padepokannya.
“Baik Sabeum!” jawab pemuda itu dengan tegas.
“Ya sudah, itu teman-temanmu telah menunggu,” ujarnya sambil tersenyum.
“Siap Sabeum ... saya pamit dulu Sabeum,” ucap Ragha dan melihat anggukkan kepala guru silatnya.
“Wah! Kamu ditanya kembali sama Sabeum ya Ra,” sambar Tono ketika Ragha datang menghampiri mereka bertiga.
“Ya ... gitu deh.” sahut Ragha sedikit lesuh.
“Semangat kawan” terdengar tiba-tiba suara dari belakang sambil merangkul Tono dan Ragha. Ia adalah Wawan, dengan keusilannya jarinya mencolek wajah Tono, dan tiba-tiba Tono sadar bahwa wajahnya terdapat upil yang telah dipersiapkan sebelumnya.
__ADS_1
“Kau ... Wawan,” sambil teriaknya gemas, sambil mengejar Wawan yang telah lari sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ragha dan Dino melihat itupun ikut tertawa melihat tingkah konyol temannya yang super ajaib itu.... bersambung.