
Setahun kemudian..
Di suatu ruang kelas 2 SMPN 1 Pelita, Miya dan Sassha sedang asyik berbincang-bincang bangku kelas. Pada saat itu sedang waktu istrahat, sebelum Guru mata pelajaran berikutnya datang ke dalam kelas. Tiba-tiba seorang Guru perempuan datang memanggil Miya sedang duduk di tengah kelas.
“Miya!” tegur Ibu Guru ini bernama Ibu Lastri, beliau adalah merupakan wakil kelas 2B yang merupakan ruang kelas Miya.
“Iya Bu Lastri,” sahut Miya kepada Ibu Guru yang memanggilnya di depan pintu kelas.
“Kamu kenal dengan namanya Ragha?” tanya Bu guru yang ciri khas kacamata itu.
“Iya kenal Bu,” sahut gadis itu, “Dia teman dan juga tetangga saya Bu,” sambungnya dengan nada sedikit takut.
“Ayahmu meminta izin agar kamu pulang cepat hari ini,” ucap Bu Lastri memberi pesan dari Ayah Miya.
“Memang ada apa ya Bu?” tanya gadis itu dengan was-was.
“Temanmu Ragha ... mengalami kecelakaan,” ucap Bu guru itu.
“APA!!” teriak Sassha yang kaget dan berdiri dengar kabar itu, dan ia meminta izin untuk ikut bersama Miya.
“Bu! Saya minta izin juga ... Ragha itu juga sahabat dekat saya Bu,” pinta gadis cantik itu.
“Baiklah,” jawab Bu Lastri yang memberikan izin mereka berdua untuk pulang cepat.
Dan mereka berdua dengan cepat berkemas dan melangkah keluar dari ruang kelas itu. Di saat di luar sekolah, kedua gadis itu melihat Ibunda Miya sudah menunggu dengan sebuah mobil taxi terparkir di depan gerbang sekolah dan mereka bertiga masuk ke dalam taxi tersebut, lalu berangkat menuju ke Rumah Sakit di Kota M.
Sepanjang perjalan kedua gadis itu penasaran dan bertanya awal tragedi kecelakaan yang dialami Ragha kepada Ibunda Miya yang duduk di samping supir taxi tersebut.
__ADS_1
“Bun ... apa yang telah terjadi sama Ragha?” tanya anak gadisnya dengan nada bergetar, yang masih terkejut atas tragedi terhadap sahabatnya itu.
“Ibu juga tidak tahu pasti Nak ... Kata Pak Tino Ayah Ragha, anaknya kecelakaan pas waktu latihan,” jawab sang Ibunda.
“Nak Ragha saat ini dirawat di Rumah Sakit X,” ucap lirih wanita paruh baya itu, dan berkata “Ayahmu saat ini sedang merawatnya Nak,”
Satu jam kemudian mereka tiba di Rumah Sakit X. Setelah membayar taxi tersebut mereka bertiga langsung turun dan bergegas berjalan ke dalam Rumah Sakit tersebut, menuju ruang Ragha dirawat.
Saat tiba tempat Ragha dirawat, mereka bertiga melihat Pak Tino bersama Istri dan kedua adik Ragha sudah di dalam kamar perawatan. Pemuda sawo matang itu lagi terbaring dengan kaki yang telah di gips, tersenyum melihat seseorang yang disukainya datang menjenguk bersama temannya.
Saat itu Sassha berjalan ke arah Ragha dan langsung memegang tangannya sambil menangis. Sontak kejadian itu membuat yang ada di ruangan itu memandang heran. Tidak lama kemudian Miya berjalan mendekati dan menanyakan keadaan pemuda yang terbaring saat itu.
“Hai Ragha ... Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Miya yang sedang berdiri di belakang Sassha yang masih menangis, sambil memegang erat tangan pemuda itu.
“Alhamdulillah sudah aga membaik,” jawab pemuda itu dan bertanya, “Kemana Dina? Apa dia gak ikut?”
“Dina ... dia sedang ada urusan keluarganya,” ucap Miya sambil mengelus punggung gadis yang di depannya, untuk menenangkan Sassha.
Di saat itulah, perasaan Sassha tumpah yang tak bisa terbendung lagi. Di dalam hatinya, saat inilah yang tepat untuk ungkapkan perasaan yang sebenarnya kepada pemuda itu. Dengan suara bergetar dia berkata...
“Ragha ... disaat aku mendengar engkau celaka.. disaat itulah hatiku tidak kuat untuk menerima kabar itu”
“Perasaanku kacau balau ... aku takut akan kehilangan seseorang yang ku sayangi,”
“Ragha ... tahukah engkau ... aku mencintaimu Ragha,” ungkap gadis itu.
Sontak yang berada di ruangan itu kaget akan hal itu, begitu juga Miya. Ia baru menyadari bahwa sahabat akrabnya jatuh cinta kepada pemuda yang terbaring di kasur itu. Selama ini, Miya dan Dina hanya mengetahui kedekatan Sassha dengan Ragha hanya sebatas persahabatan semata.
__ADS_1
Ragha pun kaget akan pengakuan gadis cantik yang duduk di sampingnya, di dalam hatinya ia berharap bahwa gadis yang berdiri di belakang Sassha yang bisa ungkapkan hal itu kepadanya. Oleh sebab ketulusan hati gadis yang duduk disampingnya, Ragha akhirnya menerima ungkapan gadis itu.
“Terima kasih ya Sha ... dengan tulus aku terima ungkapan hatimu,” ujarnya lirih.
“Ehm! Ehm!” terdengar suara pria memecahkan suasana, beliau adalah Pak Tino ayah kandung Ragha dan berkata...
“Kalian boleh menjadi pasangan ... asalkan itu tidak membuat nilai akademik kalian merosot ya,” mandat Ayah kandung Ragha yang berdiri di dekat jendela ruangan itu.
“Baik Pak,” jawab Sassha dengan tersenyum manis sambil menatap pria itu.
Tidak lama berselang dari kejauhan terdengar suara langkah mendekat ruangan itu, dia adalah Pak Ramadhan yang kini masuk ke kamar perawatan Ragha. Sejak kejadian itu, Pak Ramadhan lah yang turun langsung membawa dan merawat Ragha di Rumah Sakit X.
Saat itu, Pak Tino yang melihatnya dan langsung berjalan menghampiri Pak Rama yang baru saja tiba ke ruangan itu, dan ia pun bertanya...
“Gimana keadaan anak saya Pak Rama?” tanyanya dengan nada cemas.
“Ragha baik-baik saja, tapi ... kemungkinan besar ia harus berbesar hati tidak bisa menjadi atlet,’ ungkap pria paruh baya yang berdiri di depan Pak Tino.
“Patah kaki yang dialami cukup parah ... dan itu membutuhkan 2 bulan penuh kembali walaupun tidak sempurna,” ungkapnya lagi.
Mendengar hal itu keluarga Ragha tertunduk lesu, namun Ragha dengan besar hati akan kenyataan yang terjadi dan ia pun ikhlas, walaupun ia tidak bisa menjadi atlet nasional. Ragha pun memberi pengertian kepada orangtuanya agar ikhlas atas musibah ini...
“Ayahanda ... saya harap ayah bisa ikhlas atas semua ini ya.” ucap anaknya ke ayah kandungnya.
“Terima kasih Pak Dokter Rama ... yang telah mau menolong dan merawat saya” ungkapnya dengan senyuman.
Pak Rama pun tersenyum dan berucap, “Sama-sama Nak Ragha ... sudah tugas saya sebagai dokter untuk menolong sesama,”
__ADS_1
3 bulan kemudian... Ragha telah kembali masuk ke sekolah, walaupun ia harus berjalan dengan alat bantu. Menurut Pak Dokter Rama yang merawatnya di Rumah Sakit, Ragha perlu beberapa minggu untuk pulih dan bisa dapat membuka gipsnya.
Sedangkan Dina juga sudah menjengguk Ragha ketika ia telah dirawat di rumahnya, dan mengenai kabar tentang jadian Ragha dan Sassha pun tersebar di kedua Sekolah mereka. Bersambung.