KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM

KETIKA CINTA MEMILIH UNTUK DIAM
Chapter : Sebuah Pendekatan Part 3


__ADS_3

Marwan yang sedang mengemudi, hanya terdiam mendengar pengakuan gadis yang duduk di sampingnya...


“Jadi kamu gak sakit Ran?” tanya pemuda itu, untuk memastikan apa yang ia dengar...


“Masa kamu gak peka sih Awan,” sahut gadis itu...


“Aku hanya ingin mendekatimu ... apalagi kamu masih sendiri kan,” ucapnya


“Aku suka sama kamu!” ucap gadis itu, “Mau gak jadi pacarku,” tembaknya kepada Marwan...


Marwan yang menyetir hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa tentang itu. jauh di dalam hatinya ia sudah jatuh hati ke gadis lain, yang merupakan sahabat dari gadis yang duduk di sebelahnya....


“Aku bingung harus jawab apa Ran,” ucap pemuda itu..


“Gak usah bingung ... kita jalani aja dulu,” ujar gadis itu..


“Boleh aku pikir-pikir dulu gak?” pinta pemuda itu, “Karena ini terlalu cepat bagiku,” ungkapnya...


“Gak boleh ... kamu harus jawab sekarang Awan,” ujar gadis sedikit memaksa...


Mendengar itu Marwan semakin bingung akan menjawabnya...


“Iya udah ... kita jalani aja dulu ya,” jawabnya, “Tapi kalo kita ga sejalan, jangan salahkan aku kalo putus ya,” pinta pemuda itu..


Rani hanya menjawab tersenyum mendengar jawaban pemuda itu...


“Iya ... jadi, kita rayakan makan di tempat itu yuk,” ajak gadis itu sambil menunjuk sebuah cafe di sisi kiri jalan...


Akhirnya, Marwan pun menepi di tempat itu dan lalu mereka berdua masuk ke cafe tersebut.


Di tempat lain. Miya dan Mona yang akhirnya mendapatkan tempat mereka untuk makan. Mereka berdua menempi sebuah tempat makan seafood di pinggir jalan yang berada cukup dekat dari rumah Mona.


Saat mereka berdua telah memarkir mobilnya, Jhon yang mengikuti kedua gadis itu juga tiba di tempat itu dan bergegas memarkirkan mobilnya di samping mobil kedua gadis itu.


“Ini tempatnya?” tanya pemuda itu sambil memandang tempat itu...

__ADS_1


“Kenapa? Kamu gak terbiasa makan di tempat seperti ini?” tanya Miya.


“Oh! Saya sering kok makan di tempat pinggir jalan kaya gini,” sahut pemuda gelagapan, padahal dalam hatinya baru pertama kali makan di tempat itu.


Kedua gadis itu pun berjalan dan masuk ke tempat makan itu, yang diikuti Jhon yang sedikit ragu-ragu untuk masuk....


“Ayo masuk,” ajak Mona saat memasuki tempat itu dan duduk dekat Miya..


Jhon yang ikut masuk dan duduk di depan kedua gadis itu, dengan celingak-celinguk seakan tidak terbiasa dengan tempat itu. Miya yang melihat itu, ia paham betul bahwa pemuda yang duduk di depannya tidak terbiasa makan di tempat seperti ini.


“Kalo kamu tak biasa, kita bisa pindah tempat!” ujar gadis itu memberi saran.


Jhon akhirnya menghentikan sikap kakunya. Ia menekan rasa gengsinya. Ia juga berharap tak ada yang mengenalinya di sini.


“Apa kata dunia, seorang Jhon masuk tempat rendahan kek gini?” umpatnya dalam hati.


“Oh ga usah, aku suka kok tempat ini.” ujarnya pura-pura seakan menyukai tempat yang di pilih oleh gadis yang disukainya, agar ia bisa mendekatinya...


Dari awal pertemuan dengan Jhon, Miya hanya terkesan pada padangan pertamanya namun saat mengenalnya lebih dekat. Miya kurang tertarik akan karakter pemuda yang di depannya, ia menilai Jhon selalu memamerkan barang branded dan sering kali bawa mobil mewah saat pergi ke kampus. Bahkan gadis itu beranggapan bahwa pemuda di depannya seperti playboy. Hal itu disebabkan ia sering kali melihat Jhon menanggapi godaan mahasiswi-mahasiswi baru maupun senior di kampus mereka.


“Iya aku yakin kok,” jawabnya..


“Memang kamu gak biasa makan di tempat ini Jhon?” tanya Mona merasa tidak enak kepada pemuda itu..


“Oh biasa kok! Hanya saya baru melihat, kalo di sini ada tempat makan ini,” jawabnya berbohong...


“Aduh sial! ketahuan dah kalo bohong, aku harus cari cara agar mengalihkan pembicaraan ini,” ujar dalam hati pemuda itu....


“Tempat ini menu yang enak apa?” tanya pemuda itu, dengan berharap gadis yang duduk di samping Mona tidak mengetahui bila ia mengucap kebohongan....


“Di sini yang paling enak gurame saos tiram,” jawab gadis itu.


“Oh ok! Aku itu aja,” pesan pemuda itu...


“Kamu mau makan sama uduk atau nasi biasa?” tanya gadis itu.

__ADS_1


“Aku pakai nasi biasa saja,” jawab spontan pemuda itu..


Dan kedua gadis memesan menu makanan yang mereka inginkan dengan menu pemuda itu, kepada pelayan tempat makan seafood tersebut...


Sedangkan di tempat Marwan dan Rani...


“Awan, kamu kok diem aja sih?” tanya Rani penasaran melihat pemuda di depannya hanya diam semenjak mereka duduk di cafe tersebut..


“Oh! Saya hanya masih gak percaya saja atas kejadian ini,” jawab pemuda itu, yang masih shock karena merasa kecewa telah dibohongi gadis yang duduk di depannya...


“Maaf ya bila aku sedikit membohongimu,” ucap penyesalan gadis itu...


“Kalo aku gak begitu, aku gak bisa mendekatimu,” ungkapnya lirih...


Marwan yang tidak tegaan melihat wanita menangis, ia pun mengalah atas sikap gadis itu...


“Iya aku maafin kok, tapi tidak ada lain kali ya ... ini yang terakhir bagimu,” ujar tegas pemuda itu..


“Iya aku janji ini yang terakhir kalinya kok,” ucap gadis itu sambil tersenyum di depan Marwan


“Waduh gimana nih, aku semakin susah untuk mendekati Miya,” gumam dalam hati pemuda itu..


“Semoga saja Jhon belum menembaknya!” umpat dalam hati Marwan...


Lalu di tempat Miya, Mona dan Jhon...


“Gimana Jhon? Enak enggak?” tanya Mona kepada pemuda yang sedang lahap makanannya..


“Iya enak kok.” Jawabnya ringkas, dalam hatinya betapa malu dirinya tertangkap basah melahap makanan yang tidak kalah enak dengan restoran mahal yang sering ia kunjungi.


Miya yang melihat sinis prilaku pemuda yang di depannya, dalam hatinya ia berharap pemuda yang ada di depan itu Marwan bukan Jhon. Semenjak gadis itu bertemu Marwan, ia mulai tertarik kepada pemuda itu. Selain mempunya raup wajah cukup tampan, namun karakter pemuda itu seperti bad boy. Dan dirinya bahkan sempat memandingkan Marwan dengan sahabat kecilnya Argha, selama ia mengenal pemuda itu di kampus. Namun dalam karakter kedua pemuda itu, Argha tipikal pria kalem atau good boy.


Hal itulah membuat Miya makin tertarik kepada Marwan dibandingkan dengan Jhon. Jauh di dalam benaknya ia berangan-angan bahwa pemuda itu ada di tempat ini.


“Coba ya dia ada di sini,” khayal gadis itu sambil memikirkan pemuda yang disukainya ada di situ..

__ADS_1


Tidak lama kemudian... mereka setelah selesai makan di tempat itu, Miya meminta pulang dengan alasan mengantuk.. dan akhirnya mereka pun berpisah, dengan membawa perasaan mereka masing-masing.... bersambung.


__ADS_2