
"Jasmine dengan mama di rumah ya, besok papa sudah kembali bersama kakak J" bujuk Martin
"No papa no.. jasmine mau ikut" pekik jasmine sambil meneteskan airmatanya membuat hati martin hancur.
"Jasmine kalau mau coklat harsey, harus di rumah . kalau mau ikut sebulan tidak boleh beli apapun karena esok papa sudah pulang" tegas lala. jasmine langsung ciut dan mengusap airmata yang selalu ia gunakan mengancam papa dan kakaknya tapi tak berlaku buat mamanya
"Sayang.. jangan terlalu keras pada putri kita" lirih martin
"Ikuti peraturanku atau aku yang pindah tinggal diluar sebulan" jawab lala tegas .
"Sayang nanti papa belikan coklat ya, sayang di rumah dengan mama" bujuk martin , jasmine hanya mengangguk karena takut pada tatapan tajam sang mama
Akhirnya jericho berangkat bersama dengan martin setelah satu jam berpesan pada suster dan lala agar berhati hati menjaga jasmine. bahkan sepanjang perjalanan menuju bandara martin terus mengulangi ucapannya membuat lala sangat jengah
"Dede tunggu kakak pulang, kakak J akan belikan barbie, coklat dan mainan" pesan Jericho sambil mengecup pipi gembul sang adik
"Tidak ada barbie dan mainan, rumah sudah penuh. hanya coklat" tegas lala membuat J diam
Akhirnya Meeting dengan klien dari japan sudah selesai , mereka baru saja sukses menandatangani kontrak dengan laba puluhan milliar
usai meeting sore itu martin dan jericho pergi ke orchard, pusat perbelanjaan terbesar di negara singa.
"Jangan beli mainan, nanti mama marah malah minggat J" tegur martin
"Papa tenang saja. mainan akan J titip ke oma, biar oma yang berikan. coklat kita bawa pulang" martin diam sesaat tapi dia merasa tidak benar mendidik putranya berdusta
"Sayang. kita belikan perhiasan saja buat J ya, supaya mama tidak marah. kalau perlu sekalian beli untuk mama" J langsung setuju. jadilah keduanya ke toko perhiasan membeli perhiasan untuk kedua wanita kesayangan mereka
Usai belanja keduanya segera berangkat ke changi airport menuju jet pribadi design princess yang dihadiahkan louis dan wanda untuk jasmine untuk pulang ke jakarta
turun dari pesawat keduanya bergegas keluar untuk secepatnya bertemu dua wanita kesayangan mereka. tampak jasmine sudah menunggu dengan wajah masam sambil merajuk.
"Sayang.." panggil Martin sambil mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongan lalu mengecup pipi gembulnya. sebelah tangannya meraih pinggang sang istri dan mengecup keningnya
Jericho segera meraih tubuh jasmine dari gendongan sang papa dan menyerahkan dua paper bag berukuran besar
"Holeeee ... cokat" pekik jasmine kencang mengundang perhatian orang sekitar
"Kita pulang ya sayang" ajak martin sambil meraih pinggang istrinya. barang barangnya sudah di bawa asisten menuju mobil
***
__ADS_1
"J mau naci padang papa" rengek jasmine saat di perjalanan pulang, martin mengangguk sambil tersenyum lalu meminta supir mengarah ke rumah padang favorite mereka yang tak jauh dari depan komplex mereka
"Jadi nda ada mainan buat dede?" tanya jasmine
"Uang papa habis sayang, nanti papa kerja lagi, kalau sudah ada uang banyak kita beli mainan ya" bujuk martin lembut
lala menatap malas pada sang suami yang memiliki dua standard itu. kalau kepada Jericho suaminya terkesan tegas dan disiplin, kalau pada Jasmine suaminya cenderung kehilangan segala ketegasannya dan mengalah tanpa batas
Dari sudut pandang martin, hidupnya sudah hampir sempurna, memiliki bisnis baru, usaha baru yang sangat berkembang. memiliki sepasang anak yang cerdas. keluarga bahagia impiannya sudah nyaris terpenuhi
sisa bagaimana menahlukkan hati istrinya yang sepertinya sudah membeku. istrinya seperti menjalani pernikahannya hanya karena memenuhi permintaan sang mama sebelum berpulang.
Bisa dikatakan dalam sebulan istrinya berbicara dengannya masih bisa dihitung sebelah jari tangannya. itupun kalau situasi mendesak. sisanya istrinya hanya diam, kaku dan dingin meskipun selalu melayaninya di bawah paksaan martin
istrinya telah berubah sejak 13 tahun lalu saat ia dan mamanya menyakiti hati istrinya sampai mereka kehilangan putri mereka
"Pa..." pekik jasmine , membuat martin sadar dari lamunannya
"Papa uda campe, ayo tulun" ajak jasmine lagi, martin tersenyum lalu menarik pinggang istrinya untuk turun.
jasmine makan dengan lahap, lengkap dengan celotehannya padahal dia hanya di tinggal beberapa jam oleh sang papa.
usai makan lala ke kamar mandi, martin pun membayar makanan mereka. cukup lama dia menunggu istrinya sampai martin memutuskan menyusul sang istri.
"Wow .. kami menunggu lama ternyata kamu disini" ucap martin dingin
"Ah ya.. aku ketemu darren disini, kebetulan sekali. ya sudah kami duluan, see u " pamit lala pada darren. darren tertawa lepas dan mengangguk
martin segera menarik pinggang sang istri keluar restoran menuju ke mobil dengan amarah memuncak , ia bahkan meremas kuat pinggul istrinya
sampai di halaman rumah dia berpesan pada putranya "Kalian bersihkan diri, temani Jasmine bermain J " tegas martin dengan menahan amarah lalu menarik pinggang istrinya ke kamar dan menghempaskannya ke ranjang
"Apa maksudmu?" bentak martin
"Apanya?" tanya lala dingin
"Kenapa kau bermesraan dengan darren dan membiarkannya menyentuhmu? kau terlihat bahagia bersamanya hah?" bentak martin
lala menatap suaminya tajam "Aku hanya berteman dengannya, dia relasi bisnisku"
"Jauhi dia, putuskan bisnis dengannya"
__ADS_1
"Maaf tidak bisa, ada keterikatan kontrak"
"Aku Bayar pinaltinya " bentak martin
"Sudah cukup!!! bersikaplah profesional" jawab lala sinis
"Aku tak sepertimu, menikah dan tidur dengan orang lain diam diam. aku bertemannya didepan umum"
"CUKUP!!! mau sampai kapan kau mengungkit masa lalu"
"Masa lalu yang tak pernah selesai?? kalau begitu mari kita selesaikan semua" teriak lala
martin mengangkat tangannya hendak menampar istrinya yang berani berteriak didepannya . lala hanya memejamkan mata. tapi tangannya tertahan diudara. ia segera menurunkan tangannya
"Aku ingatkan baik baik. jangan ada urusan apapun dengan dia lagi" martin langsung menuju kamar mandi dia mengguyur kepalanya dengan air dingin
setelah agak tenang, martin menyelesaikan mandinya, tapi saat dia keluar kamar mandi, dia melihat istrinya menggeret kopernya menuju pintu kamar
"Kau mau kemana?" tanya martin dingin. emosinya kembali tersulut
"Sementara aku tinggal di apartemen, sebaiknya kita selesaikan dulu urusan kita yang tergantung 12 tahun ini" jawab lala dingin
"Tak ada urusan yang belum selesai, semua sudah selesai"
"Terserah padamu" jawab lala dan mencoba membuka pintu kamar tapi terkunci oleh martin
martin sudah menghafal sifat istrinya, setiap kali ada masalah istrinya selalu memilih berpisah. jadi dia selalu siaga mengunci pintu tiap ada masalah supaya istrinya tidak pergi
"Buka" tegur lala dingin
"Kamu tidak kemana mana, kamu akan disini bersamaku dan anak anak kita"
"terserah padamu. kamu bisa menahanku malam ini, tak akan bisa menahanku esok esok" lala berbalik dan kembali ke walk in closet. dia tak membenahi kopernya. hanya meletakkan di samping lalu menukar pakaian dengan gaun tidur. dan merebahkan diri di ranjang, menarik selimut , memejamkan mata . pososinya membelakangi area tidur martin
melihat istrinya keluar dengan pakaian satin tipis, martin merasa terpancing. dia segera meraih tubuh mungil itu dan memeluknya erat . lala menepis suaminya tapi bukan martin kalau diam saja di tolak oleh lala . posisinya malah di atas istrinya
"Minggir, lepaskan" ucap lala pelan dengan tatapan tajam
krekkkk krekkkkk
suara gaun robek terdengar
__ADS_1
"Baik ratuku, aku lepaskan" jawab martin dengan senyuman , dia pun mulai memaksakan istrinya melayaninya sampai lala sendiri terbuai, mereka akhirnya melewati malam panas sampai jam tiga dini hari bahkan sampai lala tertidur