
Di sebuah rumah mewah nan megah, dengan di hiasi taman dan air mancur yang berisi banyak jenis ikan. Terlihat begitu indah, mungkin siapa pun yang berkunjung pasti akan betah untuk berlama-lama.
Terlihat sangat asri dengan tanaman hias yang tumbuh di area sekitar taman luas tersebut. Sangat kontras dengan rumah berlantai dua itu. Rumah yang lebih dominan berwarna putih, sungguh mewah.
Terlihat sebuah mobil hitam mewah baru saja terparkir di depan sana dan seorang pria turun dengan begitu gagahnya. Balutan jas yang masih sangat rapih seperti tadi pagi saat berangkat, sebuah kacamata hitam tak lupa bertengger di hidung mancungnya.
Melangkahkan kaki jenjangnya, namun terhenti saat suara anak laki-laki memanggil dirinya. Menarik sudut bibirnya seraya melepaskan kacamata, Alan pun membawa tubuh sang putra ke pelukannya. Tak lupa pula mengecup sekilas kening dan pipi putra kesayangannya.
" Ayo masuk Dad. Oma tadi udah buat makan malam buat kita. Ayo! " Ujar Alvin seraya menarik tangan sang Daddy.
Ayah dan anak yang sangat mirip itu memasuki rumah besar itu. Yang mana kedatangan mereka langsung di sambut dengan teriakan kegirangan dari seorang wanita paruh baya yang langsung memeluk anak serta cucunya.
" Pelukannya ma, Alan bisa sesak loh ini. " ujarnya yang mendapatkan kekehan dari wanita paruh baya yang di panggil Mama.
Sedangkan di meja makan terlihat seorang pria paruh baya yang sudah siap untuk menyantap makan malam mereka.
" Ya udah ayo kita makan dulu. Kamu kenapa pulangnya lama sih Al, kasian Alvin dari tadi udah tunggu. " ujar wanita bernama Marissa seraya menarik tangan putranya.
__ADS_1
" Maaf tadi Alan banyak pekerjaan di kantor. "
Setelah melepaskan jas dan dasi yang sejak tadi melilit lehernya, Alan pun berjalan ke meja makan seraya menggulung kemejanya sampai siku. Sungguh keluarga yang harmonis jika di lihat.
Ke empatnya mulai memakan makan malam begitu khidmat, tak ada pembicaraan apapun hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Hingga beberapa menit kemudian semuanya sudah menyelesaikan acara makan malam bersama.
Dan mungkin ini adalah makan malam bersama setelah sekian lama tidak pernah berkumpul seperti ini. Alan pun segera naik ke lantai dua rumahnya untuk membersihkan terlebih dahulu tubuhnya. Tak lama kemudian, dia kembali turun dengan sudah mengenakan pakaian rumahan.
" Selamat malam semuanya. " teriak seorang gadis yang baru saja masuk dengan senyum mengembang di wajahnya.
Gadis itu segera memeluk Om dan Tantenya, juga memeluk sekilas Alan yang merupakan kakak sepupunya. Tak lupa pula mencium pipi Alvin yang menurutnya begitu lucu. Namun seperti biasa Alvin tetap menghindar karena tidak ingin di cium oleh Aunty bar barnya itu.
" Udah Van. Kenapa gak bilang dulu kalau mau ke sini? " tanya Marissa sembari menyuruh keponakannya duduk di sofa.
" Sengaja, mau kasih kejutan. Ini aku bawain martabak buat kalian semua. " Vania pun meletakkan bungkusan martabak ke meja.
" Gimana kuliahnya Van? Apa berjalan lancar? " tanya Alan setelah memasukkan martabak ke dalam mulutnya.
__ADS_1
" Seperti biasa kak. Masih gitu gitu aja. " jawabnya sembari melihat Alan sekilas.
Vania sudah menganggap Alan sebagai kakaknya sendiri karena bagaimanapun Alan sudah sangat baik terhadapnya. Begitu juga Marissa dan Winata yang sudah menganggapnya sebagai putri sendiri. Vania adalah anak dari adiknya Winata yang sibuk bekerja di luar negeri. Karena itu Vania lebih dekat dengan mereka di bandingkan orangtuanya sendiri.
" Eh bentar temen aku telpon. " ujar Vania kala melihat ponselnya berdering dan tertulis nama Jihan sahabatnya.
Vania pun berjalan menjauhi mereka sebentar dan kembali bergabung setelah menyelesaikan telponannya.
" Mommy! " ujar Alvin yang membuat semua pasang mata menatapnya.
" Alvin tadi lihat ada foto Mommy di ponselnya Aunty. "
Perkataan Alvin sukses membuat semua mata yang memandangnya heran. Alvin pun dengan cepat merebut ponsel dari tangan Vania dan mengotak atik ponsel berwarna putih tersebut.
" Gak ada Mommy di ponsel Aunty Alvin. Mungkin kamu salah lihat tadi. " Vania mencoba mengambil kembali ponselnya namun Alvin tidak memberikannya.
" Tadi aku lihat Mommy. Alvin tidak mungkin salah lihat kok. " lirihnya kala tidak menemukan lagi foto yang sangat di yakininya adalah Mommynya.
__ADS_1
Hati Alan kembali teriris kala melihat sang putra seperti itu, begitu pula dengan Oma dan Opa nya yang begitu memprihatikan melihat cucu mereka. Kasian sekali anak sekecil itu yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu sedikit pun.
" Maafkan Daddy nak. Maaf karena belum memberikanmu yang terbaik selama ini. Vina, lihatlah anak kita begitu merindukanmu. "