Ketulusan Cinta Mas Duda

Ketulusan Cinta Mas Duda
~ Kehilangan Jejak ~


__ADS_3

Jihan menghela nafasnya ketika melihat lampu lalu lintas yang mengharuskan dia berhenti sejenak menunggu lampu kembali berubah menjadi warna hijau. Duduk di depan kemudinya, Jihan terlihat menarik nafas berkali kali dan menghela kasar.


Bagaimana tidak? Karena dia merasa seakan lampu berubah hijau begitu lama. Belum lagi tenggorokannya kini sudah kering sedangkan di dalam mobil tidak ada persediaan air. Sembari mengetukkan jarinya di setir mobilnya, Jihan tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang berjualan air mineral.


Dengan cepat dia menurunkan jendela mobilnya dan melambaikan tangannya memanggil anak penjual air mineral itu.


" Air mineralnya satu botol ya, Dek. " ujar Jihan dan tak lupa memberikan pecahan 50 ribu kepada anak itu tanpa berniat mengambil kembalian.


Setelah mendapatkan air itu, Jihan pun kembali menutup jendela mobilnya.


" Mommy! " ujar Alvin berbinar ketika melihat seseorang yang ingin di temuinya.

__ADS_1


Ternyata dunia begitu sempit, karena saat Jihan membeli botol minuman kemasan tadi, seorang anak kecil yang tak lain adalah Alvin melihatnya. Dan hal itu membuat Alan segera mengalihkan pandangannya kepada Alvin ketika menyebut Mommy.


" Dad, Mommy dalam mobil itu. Ayo kita temui Mommy. Cepat ikuti mobil itu, Dad! " Alvin berkata sembari menyuruh sang Daddy.


Alan yang tidak belum bisa berpikir jernih segera menjalankan mobilnya mengikuti mobil yang di tunjukkan oleh Alvin barusan. Entah sadar atau tidak, kini mobil yang Alan kendarai mulai mengikuti mobil Jihan.


Alvin terlihat begitu berbinar dengan wajah ceria yang bisa di lihat oleh Alan. Sesekali Alan melirik sang putra yang begitu senang dan hal itu membuatnya ikut tersenyum. Rencana untuk menjemput kedua orangtuanya tadi, di batalkan karena mendapat telpon dari sang mamah yang menyuruhnya tidak jadi menjemput.


" Dad, kemana mobilnya? Kenapa menghilang? " tanya Alvin saat matanya tidak lagi menemukan mobil milik Jihan.


Alan pun demikian, dia mengerutkan keningnya ketika mobil putih yang dia ikuti tidak terlihat lagi. Dia pun menepikan mobilnya dan menatap dalam manik biru milik putranya.

__ADS_1


" Kenapa berhenti? Nanti Mommy menghilang lagi bagaimana? " Alvin mengerutkan keningnya saat mobil Daddynya berhenti.


" Sudahlah Alvin. Kita pulang sekarang ya, lagian Oma dan Opa sudah pulang. Apa Alvin tidak merindukan mereka, hm? " Alan tersenyum sembari mengusap rambut Alvin.


" Baiklah, Dad. Mungkin lain kali Alvin ketemu sama Mommy lagi. " putus Alvin sendu.


Di tempat lain, Jihan menepikan mobilnya sejenak di pinggir jalan ketika melihat mobil yang tadi mengikutinya sudah tidak terlihat.


" Siapa sih, iseng banget. Lagian ngapain coba ikutin gue, aneh. " kesalnya.


Setelah itu, Jihan pun kembali melajukan mobilnya untuk segera pulang ke rumah setelah seharian lelah mengantar sang sahabat ke bandara. Dengan begitu pintarnya, Jihan mengemudikan mobil kesayangannya yang di hadiahkan oleh kedua orangtuanya saat ulang tahun ke 17 satu tahun yang lalu.

__ADS_1


Sejak itu mobil berwarna putih miliknya menjadi kesayangannya. Kemanapun dia pergi, pasti mobil putih itu yang akan dia bawa. Dengan penuh kebahagiaan, gadis 18 tahun itu membelah jalan raya dengan mobil kesayangannya.


__ADS_2