Ketulusan Cinta Mas Duda

Ketulusan Cinta Mas Duda
~ Mommy! ~


__ADS_3

Sudah menjadi rutinitasnya sebelum berangkat ke perusahaan miliknya, Alan lebih dulu mengantar sang anak ke sekolah TKnya. Bukannya tidak mampu menyewa seorang sopir, namun Alan tidak mudah percaya dengan orang lain. Apalagi ketika melihat berita di luar sana tentang pekerja yang menyakiti anak majikannya, membuat Alan berpikir seribu kali untuk menyewa jasa sopir.


Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tidak terlalu tinggi, sesekali duda tampan itu melirik sang anak yang duduk manis di sampingnya. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kala melihat sang anak yang tumbuh begitu sehat.


" Dad, nanti jangan lupa datang ke sekolah Alvin ya. Jangan seperti tahun lalu yang tidak datang. "


Ucap anak empat tahun itu yang menekuk wajahnya. Masih di ingat betul olehnya ketika tahun lalu saat ada acara di sekolahnya, Daddynya tidak datang. Hanya dirinya yang orangtuanya tidak hadir saat itu, sedangkan anak anak yang lain semuanya kedatangan kedua orangtua mereka.


Alan mengusap rambut sang putra ketika mendengar ucapan sedihnya. Alan masih merasa bersalah karena kesibukannya dulu, dia tidak sempat menghadiri acara sekolah sang anak. Terkadang dia begitu lelah membesarkan sang anak sendirian tanpa seorang istri di sampingnya. Tetapi ketika mengingat perjuangan sang istri yang berjuang melahirkan Alvin sampai kehilangan nyawanya, membuat Alan semakin bersemangat membesarkan buah hatinya itu.


" Iya sayang. Daddy berjanji hari ini Daddy pasti akan datang. Kamu jangan bersedih lagi ya! "


Alvin tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan sang Daddy. Hingga tak lama kemudian, mobil yang di tumpangi oleh mereka sudah tiba di parkiran sekolah Alvin. Terlihat gedung sekolah yang begitu mewah, padahal yang bersekolah hanyalah anak anak kecil seperti Alvin.

__ADS_1


Namun sekolah tersebut begitu lengkap fasilitasnya, Alan sengaja menyekolahkan sang anak di sekolah itu. Baginya tidak masalah harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyekolahkan sang anak di sekolah dengan fasilitas lengkap.


...----------------...


Di tempat lain yaitu di sebuah rumah besar dan mewah, terlihat dua orang yang berbeda generasi sedang berkebun. Namun berbeda dengan sang Mommy yang begitu senang berkebun, Jihan hanya menemani wanita yang di cintainya dengan malas.


Jihan berkali kali kena tegur sang Mommy, bagaimana tidak karena dia sama sekali tidak membantunya. Gadis cantik itu hanya sibuk mencongkel tanah di hadapannya. Jihan terpaksa mengikuti perintah penguasa rumahnya, untuk ikut berkebun dengan alasan tidak boleh bermalas-malasan.


" Ishh Mom, Jihan capek. Sudah dulu ya, Jihan mau masuk dulu! "


Nyonya Renata hanya menggelengkan kepalanya melihat sang putri satu satunya. Sedangkan Jihan segera berlalu meninggalkan sang Mommy yang masih sibuk dengan pekerjaan berkebunnya.


Gadis yang baru berusia 18 tahun itu berjalan memasuki rumahnya, di lihatnya jama ternyata sudah menunjukkan angka 10. Karena tiba tiba dia merasa lapar, tanpa berpikir panjang dia pun mengambil kunci mobil serta beberapa lembar uang.

__ADS_1


Tak lupa meminta izin kepada sang Mommy, Jihan sudah meninggalkan perkarangan rumah besarnya. Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sangat sedang karena matanya sibuk melihat sesuatu yang ingin dia beli. Dan akhirnya senyuman di wajahnya terbit ketika melihat sebuah gerobak bakso yang menjadi langganannya.


Meskipun terlahir dari keluarga kaya, tetapi tidak membuat gadis itu sombong. Dia tetap seperti orang pada umumnya, berteman dengan siapapun tanpa memandang derajat. Itulah Jihan, meskipun sering bersikap ceria dan ceplas ceplos tetapi dirinya tetap gadis yang baik dan tidak pernah sombong dengan segala yang ia miliki.


" Baksonya seporsi ya bang! "


Setelah mendapatkan pesanannya, Jihan melihat toko es krim yang seketika membuat tenggorokannya kering. Dia pun membeli beberapa jenis es krim, sebuah es krim rasa cokelat kini sedang di nikmati olehnya.


Gadis itu berjalan dengan tangan kiri menenteng kresek berisi bakso, sedangkan tangan satunya lagi memegang es krim yang sesekali dia makan. Dan saat dirinya sedang berjalan di pinggir jalan, tiba tiba seorang anak kecil menabrak dirinya.


Es krim yang sedang dia nikmati pun terjatuh ke tanah. Namun bukan es krim itu yang dia lihat tetapi seorang anak kecil yang melihat ke arahnya dalam keadaan sedang menangis.


" Mommy! "

__ADS_1


__ADS_2