Ketulusan Cinta Mas Duda

Ketulusan Cinta Mas Duda
~ Ajakan Arkan ~


__ADS_3

" Woi! Ngelamun aja sih. " teriak Vania sambil menggoyangkan bahu Jihan yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya.


" Sialan Lo Van. Untung gue gak jantungan. " kaget Jihan yang langsung memegang dadanya.


Vania hanya terkekeh sembari mendudukkan tubuhnya di samping sahabatnya itu. Keduanya saat ini sedang berada di kantin kampus setelah beberapa saat lalu menyelesaikan mata kuliahnya. Namun ketika melihat Jihan yang sibuk melamun, ia pun mendekati sahabatnya itu.


Tak lupa mengambilkan sekantong makanan yang baru saja ia beli dan di letakkan di atas meja hadapan mereka. Jihan pun langsung mengambil makanan yang sahabatnya beli tanpa perduli sang sahabat yang menggerutu karena makanannya di ambil.


Jihan terus memakan dengan tatapan kosong ke depan, hal itu pun membuat Vania mengerutkan keningnya. Dengan cepat tangannya menyentuh kening Jihan yang mendapatkan lirikan tajam dari sang empunya.


" Gue pikir Lo sakit Ji. Kenapa sih dari tadi gue lihat ngelamun aja? Apa ada masalah? " tanyanya sembari memakan cemilan setelah berhasil merebut dari sahabatnya.


Jihan menghela nafasnya saat melihat sang sahabat. Gadis itu sama sekali tidak ingin menceritakan masalahnya dengan siapapun karena menurutnya sangat tidak penting. Toh dia juga pasti tidak akan bertemu lagi dengan orang orang yang membuatnya resah.


Sejak pertemuan terakhirnya dengan anak laki laki itu, dirinya sungguh bingung. Hatinya sangat berharap bahwa ke depannya dia tidak pernah bertemu dengan anak kecil itu. Benar sih tampan, imut, tetapi Jihan tidak suka saat dia memanggilnya Mommy.

__ADS_1


" Aishh... Semoga gue gak pernah ketemu lagi sama bocah itu. Enak aja orang cantik kayak gue di panggil Mommy Mommy. Kan bisa bahaya kalau lagi jalan terus ketemu dia, panggil gue Mommy, aduh mau taruh di mana muka cantik gue. Yang ada cowok cowok malah jauhin gue karena di kira udah punya anak. Gak boleh di biarin, bisa bisa kak Arkan nanti malah ilfeel sama gue, gak boleh terjadi! " Batin Jihan.


" Heh Markonah! " teriakan Vania berhasil membuat Jihan tersentak kaget dari lamunannya.


" Sialan Lo Van. Bisa bener bener jantungan gue kalau kayak gini terus! " teriak Jihan yang memegang dadanya karena terkejut.


" Ya elah si Markonah. Makanya jangan ngelamun terus, kesambet baru tau rasa! "


" Markonah Markonah mbahmu. Nama gue Jihan, enak aja Lo ubah ubah nama cantik yang ortu gue kasih. " ujarnya yang mendapatkan cengiran dari gadis cantik di sampingnya.


" Gak ada kok. Lo tenang aja, kalau ada pasti gue ceritain ntar. "


Keduanya pun kembali sibuk memakan makanan yang di beli oleh Vania. Di tengah kesibukan memakan makanan, seorang laki laki tampan dengan tubuh sempurna berhasil mengalihkan perhatian kedua gadis cantik itu. Lebih tepatnya sih Jihan, yang terlihat senang saat melihatnya gebetannya datang ke arah mereka.


Ya, Arkan datang dengan gaya cool nya. Serta sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya yang berhasil membuat kaum hawa yang berada di sana terpesona dengannya. Namun laki laki itu sama sekali tidak memperdulikan mereka, karena fokusnya hanya untuk gadis yang sudah berhasil membuat hatinya berdebar.

__ADS_1


" Hai Jihan. " ujarnya yang membuat Jihan tersenyum begitu manis kepadanya.


" Kak Arkan ngapain ke sini? " pertanyaan yang berhasil membuat Jihan merasa bodoh karena bertanya hal itu. " Bodoh Lo Jihan, ngapain nanya hal itu sama kak Arkan? " batinnya.


Arkan hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia mengerti bagaimana perasaan gadis yang dulu menjadi adik kelasnya. Berbeda dengan Vania yang memutar bola matanya malas karena merasa seperti nyamuk di antara sahabat dan gebetan sahabatnya.


"Ya elah jadi nyamuk lagi gue. Mau pergi tapi makanannya belum habis, kan rugi kalau gak di habisin! " gerutu gadis itu dalam hati yang kembali memasukkan makanannya ke dalam mulutnya sembari memasang telinga untuk mendengar obrolan mereka.


" Gak kenapa sih. Aku ke sini cuma mau ajak kamu nanti malam jalan jalan. Mau gak? " tanya laki laki itu.


Jihan membulatkan matanya tidak percaya dengan ajakan gebetannya. Sungguh hatinya seakan berbunga bunga karena ini pertama kalinya di ajak oleh Arkan. Dan dengan senang hati Jihan menerima ajakannya.


Sama halnya dengan Jihan, Vania juga ikut senang melihat sahabatnya yang akhirnya bisa dekat dengan Arkan.


" Boleh kok kak. Jihan mau! " ujarnya dengan hati yang berbunga bunga.

__ADS_1


__ADS_2