
Begitu sampai di rumah Alan segera berlari masuk ke rumah menuju kamar putranya. Setelah membuka pintu, di lihatnya sang putra yang terlelap dalam tidurnya. Alan pun melangkahkan kakinya menuju ranjang sang anak. Alan berjongkok di samping ranjang sembari mengusap kepala Alvin.
" Maafkan Daddy, Alvin. Daddy tidak bisa menepati janji Daddy lagi hari ini. " lirihnya.
Alan terus mengusap lembut rambut pirang Alvin. Alan sangat merasa bersalah karena tidak bisa membuat sang anak bahagia. Dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga terkadang sampai melupakan jika ada seorang malaikat kecil yang membutuhkannya.
Tetapi mau bagaimana lagi, dirinya bekerja keras juga hanya untuk masa depan putra kesayangannya. Bahkan terkadang dirinya rela lembur hanya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor.
Duda tampan itu pun berjalan keluar dari kamar sang putra. Alan berjalan ke kamar miliknya yang berada tepat di samping kamar Alvin. Menghela nafas lelah, Alan membuka kemeja yang masih menempel di tubuhnya.
Dia pun menghabiskan sekitar 15 menit untuk menyelesaikan ritual mandinya. Waktu sudah menunjukkan waktu petang, dia merasa sangat lelah dengan aktivitas hari ini yang cukup menguras tenaganya. Setelah mengenakan celana panjang dan bajunya, dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang.
Belum sempat dirinya memejamkan matanya, pintu terbuka dan terlihatlah Alvin yang berjalan ke arahnya. Alan pun segera bangkit dari ranjangnya dan melihat sang putra sendu. Hatinya di penuhi rasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya kepada Alvin hari ini.
__ADS_1
" Alvin, maafin Daddy ya. Soalnya tadi... "
Ucapan Alan terpotong karena Alvin segera menyautnya.
" Dad, aku tadi ketemu Mommy di jalan. Tapi saat aku bangun kenapa Mommy tidak ada lagi? Apa Mommy pergi lagi karena tidak sayang sama Alvin? " ujarnya dengan tatapan sendu.
Alan mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang putra. Sebegitu besarnyakah rasa rindu kepada ibunya sehingga Alvin berbicara seperti itu. Namun sesaat kemudian Alan mengusap lembut pucuk kepala Alvin sembari tersenyum.
" Sayang dengar nak. Maafkan Daddy karena tadi siang tidak bisa ke sekolah. Daddy sungguh sibuk dengan pekerjaan di kantor sehingga tidak ada waktu untuk ke sekolahmu. Sebagai permintaan maaf Daddy, bagaimana kalau besok Daddy ajak kamu untuk membeli banyak mainan? "
" No Dad. Aku tidak mau mainan, aku hanya ingin bertemu lagi dengan Mommy. Apa Daddy tahu, tadi Mommy mengantar aku ke rumah, tetapi saat aku bangun tadi Mommy sudah tidak ada. " Ucapnya dengan wajah berbinar mengingat pertemuannya dengan perempuan yang dia anggap sebagai Mommynya.
Alan kembali mengerutkan keningnya tidak percaya ketika mendengar cerita sang putra. Dirinya tidak percaya begitu saja, bagaimana bisa Vina yang notabenya ibu Alvin bertemu dengan Alvin sedangkan ia sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
__ADS_1
" Hey boy, maybe it's just your dream. There's no way your Mom is driving you, Alvin. " ujar Alan sembari tersenyum kepada putranya.
Alan berpikir itu hanyalah mimpi Alvin yang bertemu dengan sang ibu. Karena Alan sangat tahu itu tidak akan pernah terjadi di kehidupan nyata ini. Melihat sang putra yang terus bermimpi bertemu dengan ibunya, membuat Alan menahan sesak di dadanya.
" Tidak Dad. Aku tidak bermimpi, itu nyata. Aku benar benar bertemu dengan Mommy tadi. Aku mau sama Mommy, ayo kita pergi Dad. Bawa Mommyku kembali. "
Anak tampan itu menarik tangan Alan yang berencana untuk mencari Mommynya yang pergi lagi. Alan sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, dan hal itu membuat Alvin menatapnya sendu.
" Sekarang sudah mau malam. Besok saja ya, Alvin. "
Putus Alan yang langsung di angguki penuh senang oleh Alvin. Alan menghela nafasnya kasar, sembari memeluk erat sang anak. Tak terasa buliran beningnya keluar dari pelupuk matanya.
" Lihatlah anak kita Vina. Dia begitu merindukanmu, bahkan dirinya kembali mengkhayal seperti biasa yang bertemu denganmu, sayang. "
__ADS_1