
" Gue pasti sangat merindukan kalian, my best friend. Terima kasih karena sudah mau mengantar sahabat terbaik kalian ini. "
Ujar seorang gadis berambut pendek sebahu, sembari memeluk kedua sahabatnya. Cukup lama berpelukan, ketiganya pun saling melepaskan. Tak sadar gadis bersurai pendek itu meneteskan air mata melihat kedua sahabatnya, yang sebentar lagi akan berpisah dengan mereka karena harus melanjutkan studinya di negara lain.
" Udah ah Dee, jangan nangis lagi. Lihat tuh udah jelek. " Ujar Jihan seraya mengusap cairan bening di pipi Dee sahabatnya.
" Iya bener tuh Ji. Sejak kapan kita bertiga jadi mewek begini? Padahal di sekolah dulu kita biang rusuh, sekarang malah mewek. " ujar gadis yang bernama Vania seraya mengusap air matanya sendiri.
Ya, ketiga gadis itu sudah bersahabat sejak masuk sekolah menengah atas dulu. Dan sekarang ketiganya sudah lulus dan masing masing mulai melanjutkan studinya. Deolinda, atau yang akrab di panggil Dee oleh kedua sahabatnya. Kini akan menempuh pendidikan barunya ke luar negeri.
Sedangkan Jihan dan Vania, mereka tidak keluar negeri. Jadi dengan begitu terpaksa mereka harus berpisah dengan satu sahabatnya. Bahkan mereka rela mengantar sang sahabat ke bandara untuk terakhir kalinya. Entah kapan lagi mereka akan bertemu lagi, tetapi tidak apa. Zaman sudah canggih bukan? Apabila nanti saling rindu, ketiganya masih bisa saling berkomunikasi melalui ponsel.
" Ya udah. Gue berangkat dulu, jangan lupain gue kalian berdua. " ujar Dee sembari memegang kopernya.
__ADS_1
" Iya Dee. Lo juga jangan pernah lupain kita. " lirih Jihan.
" Udah udah. Jangan ada acara nangis lagi, sekarang kita tersenyum. Ayo senyum biar kecantikan kita terpancarkan. " ucap Vania sambil memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Ketiganya pun kembali tersenyum satu sama lain. Jihan dan Vania pun melambaikan tangan mereka kepada Dee. Hingga Jihan maupun Vania tidak melihat lagi tubuh Dee yang sudah masuk ke pesawat.
" Eh Jihan, temenin gue dulu yuk! " ajak Vania sembari menarik tangan Jihan tiba tiba.
" Udah Lo diem aja. Ikuti gue aja! "
Tanpa bersuara lagi mereka pun sudah berada di depan dua orang paruh baya yang masih terlihat sangat awet. Jihan melihat Vania yang kini memeluk wanita dan pria paruh baya tersebut penuh kebahagiaan.
Tak lupa di samping keduanya ada beberapa koper besar yang Jihan yakini baru pulang ataupun akan pergi ke suatu tempat. Jihan hanya memandangi sahabatnya yang masih bercengkrama dengan kedua orang asing itu. Bagaimana tidak, selama bersahabat, Vania sama sekali tidak pernah memperkenalkan pria dan wanita paruh baya itu kepada dirinya maupun Dee.
__ADS_1
" Van, itu siapa? " tanya wanita paruh baya itu seraya tersenyum kepada Jihan.
Jihan pun ikut tersenyum kepada wanita itu sembari memperkenalkan diri kepada mereka setelah Vania menyuruhnya. Dengan bingung Jihan mengulurkan tangannya kepada pria dan wanita paruh baya itu.
" Namaku Jihan Om, Tante. "
" Nama yang cantik seperti orangnya. Kenalin nama Tante Marissa. " ujar wanita itu lembut seraya membalas uluran tangan Jihan.
" Nama Om Winata. " balas Winata.
Jihan hanya tersenyum malu ketika mendapatkan pujian dari mereka yang Jihan yakini sebaya atau bahkan lebih tua mereka daripada kedua orangtuanya.
" Mereka Om dan Tante gue Ji. Mereka baru saja pulang dari London, kebetulan kita di sini jadi gue kenalin mereka kepada Lo. " ujar Vania menatap Jihan yang hanya dijawab oh oleh gadis bersurai panjang itu.
__ADS_1