
Alan kebingungan ketika selesai membeli es krim yang putranya inginkan, matanya tidak lagi melihat Alvin yang tadi duduk di sebuah meja. Tanpa memperdulikan lagi pesanan sang putra, Alan mencari keberadaan Alvin yang tiba tiba menghilang.
Langkahnya begitu cepat menyusuri setiap area cafe tersebut. Pikirannya sudah kemana mana mengenai putranya. Dirinya begitu takut jika terjadi sesuatu dengan sang putra satu satunya. Kaki jenjangnya terus berlari mencari sang putra yang seketika membuat jantungnya berhenti.
Alvin adalah jantung hatinya, buah cintanya dengan wanita yang sangat ia cintai. Orangtua mana yang tidak cemas dan takut ketika sang anak menghilang, hal itu pula yang kini Alan rasakan. Pria dewasa itu sangat ketakutan ketika matanya tidak melihat keberadaan sang putra.
" Alvin! " teriaknya sembari meremas rambutnya kesal.
Kini dirinya merasa sangat takut, bahkan buliran bening di matanya mulai mengembun di sudut matanya . Ketakutan di hatinya semakin menjadi, hatinya terus mengumpat. Andai saja dirinya tidak meninggalkan Alvin sendirian tadi, pasti hal ini tidak akan terjadi.
Mengusap kasar air mata yang akhirnya jatuh, kakinya kembali melangkah menyusuri area luar cafe tersebut. Hingga matanya tak sengaja melihat seorang anak kecil yang sedang berpelukan dengan seorang perempuan. Dan keyakinannya benar ketika melihat bahwa itu adalah anaknya.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Alan segera berlari ke arah sang anak yang baru saja memeluk seseorang. " Alvin! " Alan segera memeluk sang anak begitu erat dengan sedikit bergetar.
Cukup lama pria itu memeluk sang putra yang hampir hilang karena kecerobohannya. Hingga pelukan itu terlepas ketika Alvin menjauhkan diri dari sang Daddy dan mendekati Jihan yang masih betah melihat anak dan ayah itu.
Alan pun bangkit dan berdiri tepat di hadapan Jihan yang juga menatapnya. Hingga tatapan keduanya teralihkan dengan suara Alvin.
" Ini Mommy, Dad! " ujar bocah bermata biru itu seraya tersenyum ke arah Jihan dan Alan.
Jihan melirik kedua laki laki berbeda generasi itu bersamaan. Tentu saja Jihan kesal bukan main ketika bocah kecil itu menyebutnya Mommy di hadapan pria itu. Lain halnya dengan Alan yang langsung berjongkok di hadapan putranya sembari mengusap rambutnya pelan.
" Sayang dengar Daddy nak. Dia bukan Mommy kamu Alvin, Mommy kamu udah tenang di surga. Ayo kita pulang! " ujarnya begitu lembut berharap sang putra mengerti.
__ADS_1
Alan melirik sekilas gadis yang di panggil Mommy oleh anaknya, jujur dia tidak enak hati kepada gadis itu. Namun dia tidak tahu harus melakukan apa, berharap sang anak mengerti ucapannya tadi.
" No Dad. Ini Mommy, aku cuma mau pulang sama Mommy. " Alvin berucap seraya kembali memegang tangan Jihan.
Jihan, gadis itu semakin tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika melihat raut wajah pria dewasa di hadapannya membuat bulu kuduknya merinding seketika. Berbeda dengan Alan yang merasa tidak enak dengan gadis itu karena sikap putranya.
Sesaat Alan juga merasa wajah Jihan ada sedikit kemiripan dengan mendiang istrinya. Mungkin itulah mengapa Alvin menganggapnya sebagai Mommynya. Menarik nafasnya, Alan pun memberanikan diri menatap gadis yang tingginya hanya sebatas dadanya saja.
" Maaf Nona atas ketidaknyamanannya. Alvin begitu merindukan kasih sayang seorang ibu, jadinya dia menjadi seperti ini. Sekali lagi aku mohon maaf, Nona. " ujar Alan hingga membuat Jihan terperangah dengan suara seraknya.
" What the f**k! Sadar Jihan sadar! Ngapain kamu terpesona dengan suaranya. Emang sih suaranya itu loh sangat sexy. Ah, sadar Jihan. Dia udah tua, lagian kak Arkan juga lebih tampan daripadanya. " batinnya.
__ADS_1