
Dengan kecepatan begitu tinggi Alan melajukan mobilnya membelah jalan raya. Namun pria itu kesal ketika dia harus terjebak macet sekarang. Berkali kali dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu sangat terlambat untuknya.
Dan sekali lagi Alan melanggar janjinya dengan sang putra. Pria berstatus duda itu memukul setirnya ketika dirinya kembali melajukan mobilnya. Alan sungguh sibuk sehingga dia tidak bisa hadir ke sekolah sang putra. Dan hal itu Alan merasa sangat bersalah kepada buah hatinya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dia kemudikan sudah sampai depan gerbang gedung sekolah anaknya. Tak menunggu lama, Alan segera keluar dari mobil dan matanya melihat suasana sekolah yang sudah sunyi.
" Pak Amir, apa Alvin masih di dalam? "
Alan pun bertanya kepada penjaga gerbang yang begitu di kenalnya. Bagaimana tidak, karena hampir setiap hari Alan menitipkan Alvin kepada pria tua itu sampai dirinya datang menjemput.
" Maaf pak Alan. Sejak waktu anak anak pulang, saya tidak melihat Alvin. Saya pikir Alvin sudah pak Alan jemput. "
" Sial! "
__ADS_1
Alan pun segera memasuki mobilnya frustrasi karena sang anak yang sudah pulang duluan. Dia menjambak rambutnya Frustrasi, sekali lagi dirinya melanggar janjinya kepada Alvin.
Alan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari melihat lihat kiri kanan berharap sang anak masih berada di sana. Namun Alvin sama sekali tidak terlihat di matanya, membuka dengan kasar dasi yang melilit di lehernya. Alan memukul setir mobilnya mengkhawatirkan sang anak yang tidak tahu pergi kemana.
Pikirannya teralihkan dengan suara ponselnya yang berdering. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Alan segera menggeser tombol hijau dan ponselnya tersambung. Tak lupa pula Alan menghentikan laju mobilnya. Alan menghela nafasnya ketika mendengar suara Mbok Ratih yang mengatakan bahwa Alvin sudah pulang ke rumah.
" Ya sudah kalau begitu saya matikan Mbok! "
Alan menyandarkan kepalanya ke kursi kemudinya, tangannya memijit keningnya. Hatinya seketika tenang ketika mendengar kabar bahwa sang putra ternyata sudah sampai di rumah. Pria itu terlihat kelelahan, karena tanpa mengistirahatkan sejenak tubuhnya dari pekerjaan di kantor, dia segera menjemput sang anak.
...----------------...
Mobil Jihan berhenti di sebuah gerbang kokoh yang berdiri begitu tinggi. Mata Jihan sekilas menatap kagum rumah yang lebih besar dan mewah daripada rumah miliknya. Hingga lamunannya buyar ketika seorang pria tua berseragam mengetuk mobilnya.
__ADS_1
Jihan pun segera menurunkan jendela mobilnya dan melihat pria itu itu. Namun Jihan bisa melihat tatapan pria itu yang berhenti di Alvin yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
" Nona, anda siapa? Kenapa Tuan muda Alvin ada dengan Nona? "
" Ah begini, aku tadi tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Jadi sekalian aku antarkan dia pulang, karena tidak ada yang menjemputnya tadi. "
Pria tua itu mengangguk mengerti ucapan Jihan. Jihan pun menghela nafasnya lega, karena dirinya sudah khawatir pria itu akan menuduhnya melakukan penculikan kepada Alvin. Namun setelah dia jelaskan, ternyata pria itu percaya.
" Kalau begitu terima kasih karena sudah mengantar Tuan muda Alvin ke rumah, Nona. "
Setelah Alvin di bawa oleh pria itu, Jihan pun segera meninggalkan rumah itu. Dirinya bisa bernafas lega ketika sudah mengantar anak tampan itu pulang ke rumahnya. Jujur Jihan sangat suka melihat wajah imut Alvin, namun dia berharap agar tidak bertemu dengannya lagi.
Bukan apa apa, karena panggilan anak itu kepadanya membuat dirinya merasa tidak tenang. Jadi lebih baik dirinya agar tidak pernah bertemu dengan Alvin lagi setelahnya.
__ADS_1
" Ya ampun. Mommy pasti sudah marah marah tidak jelas di rumah karena aku pulang telat. "