
Karena hari ini merupakan weekend yang berarti semua sekolah dan kantor libur, di jadikan kesempatan oleh Alvin yang kini sudah duduk manis di dalam mobil sembari melihat lihat keluar mencari seseorang.
Ya, sesuai janjinya kepada Alvin, Alan mengiyakan ajakan Alvin, dengan begitu berbinar Alvin kini sudah berada di tempat yang sama saat dirinya bertemu dengan Jihan kemarin. Harapannya hanya satu yaitu kembali bertemu dengan perempuan yang di anggapnya Mommy.
Alan yang duduk di depan kemudi hanya menghela nafas pelan melihat sang anak yang berniat sekali bertemu dengan seseorang yang di anggap ibunya. Rasanya sangat kasihan melihat anak kecil yang haus akan kasih sayang seorang ibu.
" Alvin, ayo kita pulang. Atau kita ke toko mainan saja buat beli mainan, bagaimana? " Ajaknya berharap sang anak mengiyakan.
" Tidak Dad. Alvin harus bertemu dengan Mommy dulu. " Lirihnya pelan sembari terus melihat ke luar namun tak ada orang yang ingin dia temui.
Alan mengusap rambut Alvin, rasanya begitu menyedihkan ketika sang anak yang semakin berhalusinasi bertemu dengan ibunya. Ingin sekali dirinya melihat sang anak mendapatkan kasih sayang dari seorang wanita, walaupun hanya seorang ibu sambung. Namun dia belum bisa mewujudkan keinginan sang putra, hatinya masih di penuhi nama istrinya yang sudah lama meninggal.
__ADS_1
Tak di pungkiri bahwa dirinya masih sangat mencintai wanita yang sudah berjuang melahirkan Alvin ke dunia ini. Hingga sampai saat ini tak ada seorang pun yang bisa menghapus nama itu di hatinya, tak ada. Bahkan kedua orangtuanya sendiri, sudah menyerah untuk sekedar memperkenalkan seorang wanita kepada putra mereka.
Bagaimana tidak, setiap kali orangtua Alan mencoba memperkenalkan seseorang kepadanya, semua di tolak mentah mentah oleh Alan. Tak hanya Alan, Alvin pun demikian yang begitu memilih orang yang mencoba mendekatinya.
" Bagaimana ini? Apa mungkin ini sudah saatnya aku mencoba memberikan yang Alvin inginkan? " batin Alan.
Hiks.... hiks...
" Hiks.... Dad. Mommy kenapa tidak ada? Apa Mommy benar benar tidak sayang lagi sama Alvin ya? Hiks... " lirihnya sembari menyeka ingusnya.
" Sudahlah Alvin, jangan menangis! Sekarang kita pulang. Dengar nak, Mommy sudah tenang di surga. Tidak ada Mommy di sini, yang Alvin temui itu bukan Mommy, nak. "
__ADS_1
Alvin menggeleng " Itu Mommy Dad. Alvin tidak salah lihat, Dad. " tangisannya pecah kala perempuan kemarin tidak ada lagi sekarang.
Alan mengalah mengiyakan ucapan Alvin. Hatinya meringis melihat sang putra begitu merindukan seorang ibu. Di saat Alvin sudah mulai tenang, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Dengan masih sesenggukan, Alvin duduk tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.
Alan sesekali hanya meliriknya sekilas. Sesaat keheningan tercipta di dalam mobil mewah milik Alan. Hingga beberapa menit kemudian, suara ponsel milik Alan mengalihkan perhatian ayah anak itu.
" Iya halo mah, ada apa? " Alan bersuara setelah memasang earphone di telinganya.
" Halo Al, ini mamah sama papah sudah di bandara. Tolong jemput kami sekarang! "
Belum sempat Alan menjawab, telpon itu sudah lebih dulu di matikan dan itu membuat Alan kembali menghela nafas kasar. Melirik sekilas sang putra yang sesekali masih sesenggukan dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
" Maafkan Daddy nak. Daddy belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Tapi jangan bersedih, secepatnya Daddy akan memberikan kebahagiaan itu kepada Alvin. "