
Seorang gadis berambut hitam panjang sedang celingak-celinguk di sebuah meja cafe menunggu seseorang. Sesekali melihat ponselnya yang sama sekali tidak mendapatkan pesan apapun. Jemari lentik tangannya kini sibuk mengetik pesan di aplikasi hijau miliknya.
Setelah selesai mengirimkan pesan kepada sahabatnya, dia pun mulai memakan makanan yang beberapa saat lalu di sajikan oleh pelayan cafe tersebut. Menghela nafasnya kasar, Jihan pun mulai memakan menu yang dia pesan.
Tentunya dengan sendiri karena sahabat yang di tunggunya tak kunjung datang. Hingga matanya teralihkan dengan ponselnya yang bergetar tanda pesan masuk. Dengan cepat dia mengambilnya dan kembali membuang nafasnya kasar.
" Sialan Lo Van. " umpatnya dengan suara sangat pelan karena tidak ingin menganggu orang lain yang sedang di cafe sama dengannya.
Wajahnya seketika berubah kesal ketika mendapatkan pesan dari Vania yang tiba tiba membatalkan acara makan siang bersama karena urusan mendadak. Hal itu membuat Jihan kesal bukan main karena dia sudah berada di tempat yang mereka janjikan.
__ADS_1
Karena moodnya sudah tidak mendukung lagi, dengan perasaan kesal gadis cantik itu memutuskan untuk langsung pulang. Tak henti-hentinya dia mengumpat kesal dalam hatinya karena sahabatnya Vania. Padahal sudah seringkali dia mengalami hal serupa, tapi tetap saja itu membuat Jihan ingin mengumpat di depan sahabatnya langsung.
Begitulah persahabatan mereka, meskipun seringkali saling berkata kasar satu sama lain, tetapi mereka tetap menjalin hubungan baik. Tak pernah ada yang berkhianat dalam persahabatan mereka, tak pernah saling membenci satu sama lain.
" Eh. "
Saat akan membuka pintu mobilnya, Jihan tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak kecil yang sangat di kenalinya. Kedua matanya membola ketika melihat siapa anak kecil yang berada di depannya sekarang.
" Mommy kemana saja? Kenapa tidak pernah menemui Alvin lagi? Apa Mommy tidak sayang sama Alvin? " deretan pertanyaan Alvin layangkan dengan sesenggukan tanpa melepaskan pelukan di kaki Jihan.
__ADS_1
Jihan tidak tahu harus berbuat apa, apalagi ketika keduanya menjadi bahan tontonan orang lain di sana. Karena tidak tahu harus melakukan apa, Jihan pun membawa Alvin ke tempat yang agak jauh dari keramaian.
Jihan pun berjongkok di hadapan anak bermata biru itu seraya mengusap air mata di pipi anak tampan itu. Sebenarnya dia ikut sedih melihat anak tampan itu menangis dan memanggilnya dengan sebutan Mommy. Jihan sangat yakin, anak itu pasti tidak memiliki seorang ibu hingga dirinya di anggap Mommy olehnya.
" Jangan nangis lagi ya. " ujarnya sembari membawa tubuh kecil itu dalam pelukannya.
Jihan bisa merasakan bajunya yang basah karena air mata Alvin yang kini semakin erat memeluknya. Sejujurnya dia kasihan melihat anak kecil itu, tetapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
" Mom, kenapa tidak pulang? " tanya Alvin setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
Jihan gelagapan mendengar pertanyaan anak kecil itu. Di saat dirinya akan menjawab, sebuah suara membuatnya dan Alvin mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria yang sedang berjalan cepat ke arah mereka. Jihan segera berdiri lagi kala melihat seorang pria dewasa segera merengkuh Alvin. Bahkan kakinya ikut mundur beberapa langkah ke belakang untuk memberikan ruang ke dua laki laki beda generasi itu.
" Kamu kemana saja Alvin? " suara bariton itu membuat Jihan tersentak kaget dari lamunannya.