
Bulan terpaku ia masih shock dengan yang dilakukan oleh Wira barusan itu.
Bukannya senang justru Bulan merasa jijik merasakan sesuatu apa gitu yang terasa basah..
''Sorry Lan.''
''Pak, kenapa melakukan kaya gitu. Ihh jijik sekali '' omel Bulan
''Kok jijik, harusnya kamu senyum-senyum berbunga-bunga Bulan '' ucap Wira
''Hah, se-senyum berbunga-bunga ?'' Bulan tak mengerti
''Ya lah, setiap cewek tuh akan senang Bulan bila di kasih ******* gitu. Apalagi saya yang melakukannya.'' kekeh Wira merasa bangga.
''Akan senang ?'' Bulan menggeleng sungguh tak mengerti.
''Ah sudahlah, sana ganti dengan pakaian mu.'' setelah itu Wira berlalu masuk kamar mandi meninggalkan Bulan yang masih shock dengan kejadian beberapa saat lalu.
''Ku rasa, Mas Wira ini sudah seperti drakula saja, kenapa tadi itu dia gigit leher aku--''
''Eh Bulan.'' Mama Nur memanggil dan nongol saat Bulan keluar kamar Wira.
''Ah Bu.'' Bulan kaget
Mama Nur matanya langsung membola saat melihat kondisi Bulan yang keluar memakai kemeja milik Wira anaknya.
Lagi, senyum wanita yang sudah tak muda lagi itu merekah ia sangat bahagia dan sepertinya benar mereka sudah melakukan penyatuan.
''Bulan, ayo kita sarapan.'' ajak Mama Nur
''Iya Bu, nanti aku mau ganti dulu baju.'' jawab Bulan menunduk malu.
''Sudah kenapa harus di ganti, pakai itu saja''
''Eh, tidak Bu. Aku tidak mau seperti ini,'' Bulan menggeleng
''Loh kenapa ?''
''Tidak Bu, aku malu.'' cicit Bulan
''Ah malu ya, gak apa-apa Lan jangan malu agar Wira semakin tertarik padamu Lan.'' bisik Mama Nur
''Aku tidak bisa Bu,'' Bulan pun kekeh
''Yasudah, kamu sana ganti baju dulu eh iya, harusnya semua kebutuhan kamu sudah di pindahkan ke kamarnya si Wira ya, Ah baiklah nanti Mama suruh mang Ucup untuk memindahkannya.''
Bulan mah hanya mengangguk dan segera pergi untuk berganti pakaian, Karena ia sangat tidak nyaman terbuka begini.
Beberapa saat...
__ADS_1
Kini semua sudah berkumpul di meja makan tapi Mbok Marni masih menolak untuk ikut bergabung makan satu meja makan dengan Mama Nur,.
''Mar, ayo kita sarapan bareng.'' kembali ajak Mama Nur
''Tidak Nyah, saya tidak bisa biar seperti biasanya saja saya makan di belakang sama Ucup.'' jawab Mbok Marni ibu Bulan
''Mbok, sudah ikut di sini.'' ajak Wira kini bersuara
''Gak Den, Mbok di belakang.''
''Wir, mulai sekarang jangan panggil Mbok Marni, Mbok lagi tapi ibu.'' suruh Mama Nur menatap Serius
''Jangan, gak apa-apa biar seperti kemarin saja Nyah.'' Mbok Marni merasa semakin tak enak.
Mama Nur menatap Wira dan tak memperdulikan penolakan Mbok Marni.
''Iya Bu, ayo ikut makan.'' tentu Wira tahu tatapan itu dan ya, tak keberatan dia memanggil Mbok Marni dengan sebutan Ibu, hanya dia belum terbiasa saja
Akhirnya dengan paksaan Mama Nur yang memang selalu menang dan tak pernah bisa di bantah mbok Marni pun ikut duduk dan makan bersama di samping Mama Nur, sementara Bulan di samping Wira.
Acara makan bersama pun telah usai.
Mama Nur memanggil Wira dan Bulan ke ruang keluarga ada yang ingin dia sampaikan kepada mereka berdua itu.
Di sini lah mereka..
''Wir, Mama punya hadiah pernikahan untuk kalian.''ucap Mama
''Hm hadiah apa Ma ? dan kenapa Mama harus repot-repot.'' kata Wira
Mama Nur tersenyum, ''Tidak repot-repot kok Wir, toh ini bukti kasih sayang Mama pada kalian, juga Mama gak keberatan memberikan hadiah pernikahan untuk kalian ini '' kekeh Mama ingin memberikan hadiah katanya.
''Ya baiklah Ma, memang apa hadiahnya itu?'' tanya Wira lagi.
Sementara Bulan hanya diam.
''Lan, kamu gak mau nanya apa juga gitu ke Mama ?'' menatap Bulan.
''Eh, ya apa Bu.'
''Sttt kok ibu, Mama.'' tegas Mama Nur
Bulan menatap Wira
''I-iya Ma, apa?.'' Bulan masih karagok alias kaku.
''Nih, hadiah untuk kalian.'' tiba-tiba Mama Nur menyodorkan sebuah kertas di meja ke hadapan Wira dan Bulan.
''Apa nih Ma?''
__ADS_1
''Di lihat dong''
Lalu Wira dan Bulan pun mengambil dua kertas tersebut. Dengan polosnya Bulan membaca cukup keras ''Tiket liburan ke London.'' ucap Bulan
''Ma, Sepertinya ini tidak perlu.'' Wira yang sudah tahu akal dan niat Mama nya memberikan ini pun coba menolak dengan halus.
''No....'' Mama menggeleng ''Ini keputusan Mama sudah sangat bulat, jangan ada yang berani membantah dan menolak.'' kembali Mama Nur tegaskan soal tiket itu.
Hufttt...
Wira kini hanya bisa pasrah.
''Pak, London itu di mana? Apa daerah Bandung bukan ?'' tanya Bulan semakin membuat kepala Wira panas.
Wira mendelik , membuat Bulan keheranan apa salahnya ?
''Bukan Bulan, London itu luar negeri Nak, nanti kamu akan naik pesawat ke sana nya.'' jelas Mama Nur yang menjawab.
''Naik pesawat ?''
''Hm.''
''Naik pesawat, aku mau naik pesawat.'' gumam Bulan nampak senang
''Dasar norak.''
''Wajar dong Wira istrimu sebahagia itu, orang ini pengalaman pertama dia menaiki pesawat '' bela Mama Nur.
''Ha, iya bener Ma.'' Bulan mengangguk dan menjulurkan lidahnya pada Wira tanda ia menang karena di bela Mama Nur.
''Ckkk''
Bulan pergi ke toilet dan kini hanya ada Mama Nur juga Wira.
''Wir Mama bangga padamu.'' ucap Mama senyuman nya hari ini tak luntur.
''Ya dong Ma, Wira kan selalu membanggakan.'' sombong Wira
''Ah kamu ini, iya Mama bangga banget Wir karena kamu bisa melakukan kewajiban mu sebagai suami.'' kata Mama lagi
''Hah ohh.'' Wira kira bukan mengarah ke sana.
''Mama tadi lihat loh karya yang kamu berikan pada Bulan''
''Maksudnya apa Ma?''
''Yang di sini itu loh Wir.'' tersenyum mengedipkan mata.
Untung saja, gue ingat soal itu jadi dengan begini Mama percaya soal malam pergantian gue. Wira cukup senang dengan perbuatannya itu.
__ADS_1