
Rupanya sudah satu bulan mereka tinggal di kota Bali ini yang harusnya waktu mereka habiskan untuk bulan madu, tapi kenyataannya tidak seperti itu melainkan Wira yang sibuk dengan bisnis.
Kini pria itu siap untuk pulang dengan Bulan tentunya.
''Pak kita jadi pulang?'' tanya Bulan melihat Wira sudah selesai memasukkan barang-barang miliknya
''Iya jadi dan untuk apa berlama-lama.'' jawabnya.
''Tapi gimana nanti dengan Nyonya ?'' lirih Bulan
''Apa?''
''Ya ... itu em ... kita.'' bulan terbata
''Bicara yang jelas apa maksudmu ?''
''Bukankah kita disini untuk em, itu!'' cicit Bulan
''Bulan, aku disini ingin menegaskan atau hal padamu ya kita ini kan menikah dengan terpaksa jadi aku rasa kau harus sadar kita tak saling cinta jadi aku ingik kau jangan berharap banyak padaku maaf Bulan aku tidak menyukai mu, aku menikahi mu karena Mama.''
Jduaarrrr
Hati Bulan merasa teriris sekali dadanya terasa sesak juga nafasnya seolah berhenti.
''Baiklah aku paham maksud Anda pak.'' balas Bulan
''Bagus kalau kau mengerti, ayo cepat bereskan pakaian mu kita ke Bandara sekarang.'' tanpa perasaan Wira berlalu pergi
''Kita lihat saja setelah ini kau yang akan mengejar ku mas Wira!'' Bulan tersenyum lebar
Di pesawat.
''Lan , kalau nanti Mama nanya soal kita tidur bersama kau jawab saja kita sudah melakukannya jangan jujur pada Mama!'' perintah Wira menyuruh Bulan berbohong
''Kenapa aku harus bohong ya? Kenapa gak jawab jujur saja kita ini terpaksa menikah, Aku gak ingin bohong.'' Bulan menolak
''Kamu berani lawan Aku Bulan? Sudah pokoknya turutin saja yang aku suruh tadi.''
''Tapi kenapa gak mau mengatakan yang sebenarnya? Pak Wira takut sama Ibu?'' ejek Bulan
''Bulan, ah sudahlah.'' Wira membuang muka ke samping
Dan benar saja saat sampai dirumah, Mama Nur sudah menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
bahkan Mama terlihat sangat bahagia sekali, dan Wira tahu apa itu artinya. Yang artinya Mama percaya hubungan Bulan dan Wira mulai terjalin.
__ADS_1
Rupanya setelah mengetahui Mama nya mengirimkan mata-mata Wira menunjukkan keromantisan nya dengan Bulan saat diluar ini semua untuk mengelabuhi sang ibu.
''Wira, Bulan selamat datang di rumah lagi Nak.'' ucap Mama
Wira hanya cuek
''Hehe iya Bu.''
''Eh, eh, Mama!''
''Em iya Ma.'' Bulan menatap Wira
''Ayo duduk Bulan kamu pasti capek kan Nak, kalian sudah melakukan perjalanan jauh bahkan kalian disana pasti sudah itu kan?'' Mama jadi bertanya yang aneh-aneh
''Uhukk!'' Bulan tersedak minumannya
''Tuh kan kamu sampai tersedak kamu tidak usah malu sayang.'' sangka nya Mama dengan senyum-senyum
''Wira, Bulan jawab Mama, kalian sudah melakukan hubungan suami istri kan?'' kini wajah Mama nampak serius
Bulan menegang ia kira pertanyaan ini tidak akan berlanjut.
Wira dan Bulan saling tatap.
''Ma, apa tidak bisa jangan bahas ini teruslah mana kita baru sampai Ma!'' tegur Wira dengan Menatap sebal sang ibu
''Kita sudah melakukan yang Mama inginkan.'' jawab Wira
''Benarkah itu? Bulan dia mengatakan yang sebenarnya kan?''
Bulan mengangguk dengan malu-malu agar ibu mertua nya ini percaya kalau dia serius dan malu membahas ini. ''Benar Ma, s-sudah.'' jawabnya
''Alhamdulillah ya kalau begini, duh Mama sangat senang sekali mendengarnya. Mama begitu bahagia dan Mama yakin anak Wira sudah mulai tumbuh di rahim kamu, Bulan.'' celetuk Mama membuat mata Bulan membulat sempurna.
Bulan mengusap perut nya yang kenyataannya tidak akan ada anak Wira, bahkan benih itu pun, tidak ada!
**
Suatu sore Wira menghampiri sang Mama.
''Ma!'' panggilnya
''Eh Wira, kenapa?''
''Ma, aku ingin bilang sesuatu ini tentang Bulan.'' ujar Wira
__ADS_1
''Bulan? Ada apa dengan dia, apa dia ngidam?''
''Ma, tolong serius dong.''
''Oh ya apa dong Wira, jangan buat Mama cemas deh.''
''Ma, aku ingin dia menjadi wanita karir dan mulai terjun di dunia bisnis, apa Mama setuju?''
Mama diam dan langsung seperti tercengang ''Benarkah Bulan akan kau ajak dalam perusahaan Wir?''
''Iya Ma, gimana? Aku ingin dia membantu mengurusi perusahaan.''
''Tentu Mama sangat mendukung ini, Mama setuju sekali Wira. Kalau Bulan akan jadi wanita berkarir sungguh Mama hari ini sudah dibuat bahagia oleh kalian, Mama setuju.'' Mama pun setuju dengan usul Wira
''Bagus lah kalau Mama setuju, maka mulai besok Bulan akan ke kantor.''
''Oh ya apa kamu juga yang akan mengajari dia dalam bisnis kan Wir?''
''Ma, aku sibuk .''
''Loh lalu siapa?''
''Ada Angga yang akan membantu nya, Ma.''
''Kenapa gak kamu saja sih Wir, kamu ini suaminya loh terus kalau Bulan selalu sama Angga apa kamu tidak akan cemburu Wir?''
Wira diam.
''Mereka gak akan selalu bersama Ma, Angga juga akan bersamaku, dan aku pastikan mereka hanya melakukan bisnis bukan hanya lainnya dan aku percaya si Angga tidak seperti itu.'' tegas Wira
''Lalu bagaimana kalau tiba-tiba Istrimu berlabuh pada Angga, dia jadi nyaman dengan nya dan kau tidak mendapatkan apa-apa Wir?'' Mama sengaja menakut-nakutinya Wira
''Itu tidak akan pernah terjadi Ma, aku ini suaminya itu artinya dia tidak bisa berbuat semaunya.'' pekik Wira
''Ya bisa saja kalau Bulan lebih nyaman dengan Angga, karena kamu nya cuek Wir.''
''Itu tidak akan terjadi selama aku masih ada!''
''Yasudah berarti tugas mu, urusi istrimu di kantor jangan biarkan dia nyaman sama Angga.''
''Mama tidak perlu cemas, aku percaya pada mereka.'' Wira percaya Angga tak mungkin merebut Bulan.
Tapi tanpa Wira sadari memang kenyataannya Angga sudah menaruh hati pada Bulan dari pandangan pertama dulu mereka bertemu..
Dan gara-gara ucapan Mama Nur tadi itu membuat terngiang-ngiang di pikirkan Wira sekarang.
__ADS_1
''Apa keputusan ku untuk memilih Angga salah ya?''
''Sial ini membuat ku bingung, tapi entah kenapa aku jadi tidak ingin mereka dekat, oh Wir ada apa sih dengan mu ini.''