
''Sudah lah berhenti ngoceh jangan banyak bicara lagi.'' ucap Wira
''Aku bukan banyak bicara Pak, tapi mengatakan fakt nya.'' timpal Bulan
''Lan saya serius, saya sedang tak ingin bicara jadi sebaiknya kita cepat pergi saya udah lapar.'' ujar Wira lagi kemudian berjalan mendahului Bulan tapi dengan tangan yang serta membawa wanita itu pergi juga.
Diam-diam Bulan tersenyum mengulum bibir, dia merasa puas dengan perkataan nya tadi pada Wira juga cukup menghibur melihat reaksi Wira yang tak bisa lagi berkata-kata.
'Rasain itu, agar kamu bisa sadar atas Ucapan yang selalu kamu katakan padaku, kalau kau tak menyukai ku bahkan kau gak menganggap pernikahan ini ada jadi sekarang kau puas kan dengan jawaban ku.' ucap batinnya
Kini Wira dan Bulan sudah sampai di restauran yang ternama di kota itu lalu pelayan pun datang dan bertanya mereka ingin memesan apa.
''Permisi Mas, Mbak, mau pesan makan dan minum apa ?'' tanya pelayan seraya menyerahkan buku menu
Wira juga Bulan lebih dulu melihat lihat di daftar menu.
''Saya ingin steak sama jus buah naga.'' ucap wirausaha memberitahu pesanannya
''Baik, lalu Mbak nya?'' menatap Bulan
''Itu telor---'' Tunggu aku ini kan sekarang pekerja kantoran kan, masa makan nya harus pilih telor dadar, ah kayaknya gak mewah. batin Bulan nampak ingin terlihat elegan dengan memilih makanan nya.
''Ini saya pesan kentang goreng dan jus jeruk saja.'' ucap Bulan setelah menimbang
''Oh baik, di tunggu ya Mbak, Mas.''
__ADS_1
''Iya Mbak.''
''Hm.''
''Tadi kamu mau bilang apa Bulan?'' ucap Wira pria itu menyenderkan tubuhnya di punggung kursi lalu menatap Bulan dengan bersedekap tangan di dada.
''Apa, kentang kan.'' jawab Bulan
''Bukan yang itu tapi sebelum kamu sebutin kentang, kamu mau telor dadar gitu kan?'' tebak Wira lebih tepatnya memperjelas
''Ya ... memangnya kenapa ada yang salah?''
''Tidak salah, tapi untuk sebutan telur dadar di Restoran seperti ini tuh beda Lan.'' ucap Wira
''Beda nya apa memang?''
''Jadi telor dadar di Restoran mewah seperti ini ada juga Pak?'' Bulan sungguh tak menyangka ia kira tidak akan ada.
Wira menganggap sekilas, ''Tentu ada, hanya beda cara pembuatan juga beda nama.'' jawab Wira
''Ooh rupanya ada juga toh, aku kira gak akan ada telor disini.''
''Kenapa? Masih mau telor?'' tanya Wira
''Em tidak.'' wanita itu menggeleng
__ADS_1
''Kalau masih mau, bisa kau pesan Lan.'' kembali Wira menawarkan
''Ah tidak Pak, lain kali saja pesan telor nya.''
''Laik kali kapan? Mungkin esok lain hari saya gak akan ajak kamu ke restauran seperti ini lagi Bulan.''
''Oh gitu yaudah, siapa bilang akan sama Bapak perginya, aku bilang kalau ke tempat seperti ini lagi tapi bukan berarti bakal bareng Bapak ya. Masih banyak kok ORAng lain yang mau aku ajak makan.'' Bulan membalas perkataan Wira yang terdengar menyudutkan juga seperti mengangguk ia kepedean atau tidak mampu.
''Siapa? Kau akan pergi dengan siapa?'' tanya Wira nampak tak suka
''Terserah ku, mau siapa juga.'' balas Bulan
''Jawan yang benar siapa? Apa si Angga?'' tebak Wira tiba-tiba
Bulan diam sejenak lalu berkata ''Kalo iya kenapa?''
''Kamu ini terlalu banyak bicara kenapa-kenapa, kamu sadar dong kau itu istri ku . Masa harus saya ingatkan terus sih Bulan.''
''Khmm, aku dengar-dengar sudah dua kali dalam sehari ini . Bapak menyebut aku istrinya Bapak. Apa ... itu artinya Bapak sudah menerima pernikahan ini? Oh atau Bapak mulai menyukai saya?'' ucap Bulan lalu mendekatkan wajahnya untuk menggoda Wira dan ingin lihat reaksi pria ini.
Wira nampak gelagapan, ''Kamu tidak usah ke geer-an Bulan, itu semua tidak benar.'' Wira mendorong jidat Bulan dengan telunjuknya sehingga kepala wanita itu mundur
''Kalau sudah suka tinggal bilang jujur saja lah Pak, Ngapain malu-malu dan tidak usah di tutupi begitu.'' Bulan sengaja balas mengejek Wira
''Kau--''
__ADS_1
Ucapan Wira terputus karena pelayan datang.
''Permisi ini makanannya mas, Mbak.'' pelayan datang membawa pesanan lalu menata SEMUANYA di meja dan menghentikan perkataan Wira yang ingin membalas ucapan Bulan.