
Kisah ini berawal ketika tiga gadis yang baru memasuki sekolah barunya. Mereka bertiga adalah siswi pindahan kelas 11. Mereka di tempatkan di kelas yang sama, kelas 11 IPA 2.
Mereka bertiga ialah Ayuna Dyahputri, Elia Azzahra Reynaldi dan Andini Rahma Kusuma.
Suasana kelas sangat ramai, tapi setelah Pak Rendi, guru mapel Fisika masuk mereka langsung diam seketika.
"Assalamu'alaikum, anak anak!" Kata Pak Rendi.
"Wa'alaikumsalam, pak!"
"Baik silahkan buka buku mapel Fisika halaman 31, disitu ada 10 soal latihan kalian kerjakan dengan baik dan benar. Saya keluar akan rapat. Jadi, sebelum jam ketiga pelajaran selanjutnya kalian harus sudah mengumpulkannya."
Pak Rendi adalah guru yang paling diidolakan oleh para murid perempuan. Karena Pak Rendi guru tertampan sekaligus paling cuek di Sekolah Bina Karya. Walaupun cuek dan terkesan tidak peduli, Pak Rendi tetap mengajar di sekolah dengan profesional.
"Pak ganteng, kurangin dikit lah soalnya. Masak, baru masuk kelas udah di kasih soal segitu banyaknya. Mana fisika lagi." Ucap salah seorang siswi yang duduk di bangku depan.
"Udahlah kerjakan saja, itu sudah tugas kamu, jangan banyak ngeluh!"kata Pak Rendi.
"Iya pak, iya" Ucap siswi tadi sambil mendengus kesal.
Beberapa jam kemudian...
Setelah kembali dari rapat, pak Rendi kembali ke kelas untuk menerangkan bab selanjutnya.
"Ish... Ganteng banget sih dia" Puji Ayuna kepada pak Rendi.
"Biasa aja tuh" Kata Dini, alias Andini.
"Sirik aja lo" Sambung Ayuna.
"Oke anak anak, barang kali ada yang mau menerangkan bab selanjutnya?" Tanya pak Rendi.
Elia langsung mencetuskan ide cemerlangnya. Dia memang sedikit jail. Cuma sedikit kok nggak banyak, haha.
"Ay, baju lo bagian kanan basah tuh!" Kata Elia.
Seketika itu Ayuna mengangkat tangan sebelah kanannya.
"Yang mana?" Tanya Ayuna.
"Oh, iya kamu silahkan maju!" Suruh pak Rendi.
"Ha, sa - saya pak?" Jawab Ayuna terbata.
"Iya kamu, ayo maju!" Sambung pak Rendi.
Ayuna memberikan tatapan tajam pada kedua sahabatnya yang terlalu mengesalkan hatinya
"Udah maju sana katanya mau deket sama pak Rendi" Ucap Dini.
"Udah sana!" Ucap Elia dengan entengnya.
"Nggak usah cengar - cengir, dasar jail!" Mau tidak mau Ayuna akhirnya maju ke depan untuk menerangkan.
Ayuna pun maju untuk menerangkan seperti yang diperintahkan Pak Rendi. Untung saja Ayuna bisa menerangkan dengan baik, coba saja kalau tidak bisa, bisa jadi apa dia nanti dihukum sama Pak Rendi guru tercuek yang sayangnya tampan dan termasuk idolanya itu.
"Okey Ayuna, silahkan kembali ke bangkumu!"
Ayunapun menimpali"Iya pak"
Setelah Ayuna kembali ke bangkunya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas.
"Permisi pak!"
"Ohh iya ada apa Bu Ningsih?" Bu Ningsih pun menjelaskan maksudnya mendatangi kelas.
Beberapa saat kemudian...
Datanglah seorang laki-laki berpakaian seragam sma masuk ke kelas.
Kelas 11 Ipa 2 gempar karena kedatangan seorang murid baru yang masuk. Bukan apa, karena memang kadar ketampananya yang mengalahkan semua laki-laki dikelas itu.
Elia yang saat itu melihatnya sangat terpesona akan ketampanan murid baru itu
"Wahhhh ganteng banget sihh, hati gue meleleh rasanya"
Ayuna menimpali perkataan Elia itu
"Elehhhh gitu doang katanya ganteng, B aja kali"
"Apaan sih Ay, lo ini nggak ngerti banget... Sahabat lagi seneng juga" Kata Elia.
"Husssst, kalian ini ribut banget sih! Emang kalian mau dihukum Pak Rendi karena ramai terus dari tadi"kata Dini menimpali.
Murid baru itu memperkenalkan dirinya
"Perkenalkan nama gue Iqbal Putra Mahardika"
__ADS_1
Murid satu kelas itu sangat terkejut, pasalnya Mahardika adalah nama marga kepsek sekolah ini.
"Okey Iqbal silahkan duduk di bangku kosong itu sebelahnya Elia!" Kata Pak Rendi
"Iya pak".
Iqbal langsung duduk dibangkunya. Elia merasa senang sekali karena saat ini tempat duduk Iqbal tepat berada disampingnya.
Pelajaran berlangsung dengan baik.
krinnggggg!!!!!! bel tanda istirahat telah berbunyi, murid-murid segera berhamburan keluar untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan dari tadi.
Dini, Elia dan Ayuna segera pergi ke kantin.
"Gue seneng banget dehhh baru masuk di sekolah ini tapi udah ketemu sama yang bening-bening"ucap Ayuna mengawali pembicaraan.
"Ehhh lo dari dulu emang gitu dehh Ay, lihat yang bening dikit langsung jatuh hati, tapi lo masih jomblo aja dah"kata Dini.
"Eleh kayak lo nggak jomblo aja, Din. Lagian jomblo itu kan pilihan. Gue suka seseorang itu cuma kagum aja, iya lo tau sendiri gue gimana orangnya. Suka yang manis, apalagi cowok kayak Pak Rendi. Udah ganteng manis lagi kalau senyum. Ucap Ayuna berbinar-binar
Kedua temannya hanya menggelengkan kepala mereka, melihat tingkah laku temannya yang memang penyuka cogan manis. Iyaaa dimaklumi lah walau ketiganya jomblo tapi mereka juga nggak bodoh-bodoh amat masalah percintaan.
Sesampainya di kantin mereka segera mencari tempat duduk paling pojok, karena hanya itu tempat yang tersisa.
"El, Din kalian pesen apa biar gue pesenin"
"Samain ajalah Ay penting yang enak, murah and mengenyangkan"Ucap Dini.
Dini emang gitu orangnya, kalau masalah makanan dia paling nomer satu.
"Kalau lo El mau pesen apa?"
Sedangkan, yang ditanya malah senyum-senyum sendiri dan tidak menghiraukan pertanyaan yang dilayangkan oleh Ayuna.
Note: Untuk panggilan mereka emang lebih suka panggilan singkat. Untuk Ayuna panggilannya Ay, Elia panggilannya El dan Dini panggilannya Din. Jadi nggak usah bingung masalah panggilannya.
Ayuna yang merasa diabaikan segera mencubit kedua pipi Elia yang saat itu masih sibuk melamun. Eliapun kaget dan marah seketika karena memang cubitan Ayuna nggak main-main.
"Apaan sih lo Ay pake cubit-cubit pipi gue segala, nggak tahu apa cubitan lo itu menyakitkan bangett buat gue"
"Lebay lo El, lagian daritadi juga ditanyain malah senyum-senyum sendiri. Pasti mikirin Si Iqbal anak Kepsek."
"Loh kok Iqbal, emang Elia seneng Iqbal?"tanya Dini.
Gini nih emang Dini itu orang yang nggak peka bangett, sama perasaan sendiri aja nggak peka apalagi perasaan orang lain. Sabar-sabarin aja iya guyssss orang kalau udah nggak peka emang ngadepinnya harus dengan ekstra sabar.
"Udah deh mending gue pesen sekarang aja daripada ngadepin kalian, yang satu melamun terus yang satu lagi nggak peka"Ucap Ayuna
Beberapa menit kemudian Ayuna kembali dengan nampan yang berisi tiga mangkuk bakso juga tiga es teh.
Merekapun makan dengan lahapnya sampai tidak tersisa, tapi piring sama gelasnya masih iyaa. Ya kali orang makan piring sama gelas dimakan juga wkwkwkwk.
Bel masuk kelas telah berbunyi.
Elia, Ayuna dan Dini segera masuk ke kelas.
Tepat pukul 14.00 mereka bersiap-siap pulang setelah bel pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu.
Mereka pulang menggunakan angkot, karena biaya murah juga bisa melihat pemandangan yang indah(lebih tepatnya cuci mata lah lihat cogan wkwkwk).
Selama perjalanan mereka bersenda gurau tanpa melihat situasi, iyaa hanya mereka yang membuat keramaian.
Sampailah mereka di pasar, karena angkot tersebut memang selalu berhenti di pasar. Untunglah rumah mereka berdekatan dengan pasar iya hanya perlu berjalan kaki beberapa menit.
Selama berjalan kaki, Ayuna tidak henti-hentinya membicarakan hal-hal yang menurut mereka unfaedah. Gimana mau berfaedah kalau yang dibicarakan selalu cogan yang katanya manislah, gantenglah, inilah itulah. Untung sahabat kalau nggak udah ditinggal dari tadi.
Baru saja sampai depan masjid, tiba-tiba Dini melihat seorang laki-laki tampan berpeci sedang duduk di serambi masjid. Dini merasa terpesona dengan ketampanannya.
"Loh itu siapa iyaa kok ganteng banget sihh apalagi pake peci gitu, adem banget lihatnya"
Elia dan Ayuna yang memperhatikan tingkah Dini merasa heran, pasalnya teman mereka satu ini agak sulit untuk memuji ketampanan seseorang.
"Ishhh baru kali ini gue lihat lo terpesona sampe segitunya Din"kata Elia
"Ternyata temen kita yang satu ini masih normal iya, gue kira perlu diperiksakan dulu biar syaraf kepekaannya kembali lagi" ucap Ayuna sambil tertawa terbahak-bahak.
Dini hanya bisa mendengus kesal mendengar perkataan kedua sahabatnya itu
"Apaan deh gue masih normal kali ya, gini-gini gue juga tau orang ganteng kali".
Setelah itu, mereka lebih memilih untuk berjalan kaki ke rumah dari tempat turun tadi, karena memang sudah dekat. Kebetulan rumah mereka masih satu kompleks, jadi bisa berangkat dan pulang bersama - sama.
******Note******: rumah mereka memang ada di Bandung, ayah dan bunda mereka partner kerja, mereka memilih untuk membeli rumah di Bandung
"Gue pulang duluan ya, hati- hati kalian" ucap Elia ketika sudah sampai di rumahnya. Rumah Elia memang paling dekat daripada dua sahabatnya.
"Yoi, besok jangan lupa sekolah" kata Ayuna bercanda.
"Ya iya lah, masak nggak sekolah" kata Elia menimpali.
"Udahlah, berisik tau nggak, gue capek mau pulang, ayo Ay" kata Dini sambil menarik tangan Ayuna.
__ADS_1
"Ehhh udah sampai aja nih gue Din, duluan iya! " ucap Ayuna sambil melambaikan tangannya pada Dini.
Dinipun melanjutkan perjalanan pulangnya. Tidak sengaja dia melihat laki-laki berpeci yang ia lihat sewaktu lewat depan masjid bersama kedua temannya tadi.
"ishhh gue ketemu dia lagi dehh masak belum ada sejam udah ketemu dua kali aja, apa ini emang jodoh??? " ucap Dini sambil cengar-cengir nggak jelas.
Maklumi lah guyss orang kalau terpesona untuk pertama kalinya iya gitu
Pada malam harinya..
Tidak terduga kalau malam itu,ketiganya sedang memikirkan cowok yang mereka temui waktu pertama kali masuk di sekolah. Ayuna yang memikirkan guru gantengnya, alias Pak Rendi. Elia yang memikirkan Iqbal si anak kepsek dan Dini yang memikirkan cowok berpeci yang ia temui saat pulang sekolah.
Keesokan harinya.....
Di Sekolah
Ayuna, Elia dan Dini telah sampai di sekolah. Mereka segera masuk ke kelas karena bel sudah berbunyi. Ini adalah pertama kalinya mereka sampai di sekolah tepat saat bel berbunyi.
"Untung masih sempet dah sampai di sekolah tepat waktu" ucap Dini
"Ini gara-gara lo Din, coba aja tadi kita nggak nurutin lo lihat cogan berpeci sampai-sampai gue sama Ayuna lo recokin biar tanya tetangga namannya siapa"ucap Elia dengan ketusnya.
"Iya deh gue minta maaf kan gue nggak terlalu kenal sama tetangga sekitar, sedang lo sama Ayuna akrab banget sama tetangga" kata Dini menjawab.
"Gimana lo mau akrab sama tetangga lo aja seneng bangett di kamar, entah ngapain aja lo" kata Elia dengan nada menyindir.
Ayuna yang melihat kedua temannya sedang adu mulut dari tadi hanya bisa memutar bola mata malas.
"Udah deh daripada kalian ribut terus, sekarang gue mau nanya. Kalian udah ngerjain PR dari pak Rendi belum? " tanya Ayuna
"Whattttt hari ini ada PR! kok lo nggak bilang daritadi sih Ay? mana gue nggak tau lagi PR nya yang mana" ucap Elia dengan wajah ditekuk.
Sepertinya mood nya sudah hilang sejak tadi pagi karena kesal dengan Dini, sekarang ditambah PR dari pak Rendi guru paling killer&cuek.Yang ada kepalannya mau pecah mikirin itu semua.
"Ehhh Din lo udah selesai belum PR nya??"tanya Elia pada Dini
"Boro-boro selesai El gue aja semalem mikirin Gus Imron mana ngerti gue kalau ada PR"ucap Dini menimpali perkataan Elia.
Note:Gus Imron itu cowok berpeci yang disukai sama Dini iyh!
"Yaudahlah terima aja nasib kalian kalau dihukum pak Rendi"ucap Ayuna
"Ay gue minta contek dong, masak lo nggak kasihan sama sahabat-sahabat lo ini. Ayuna, lo kan cantik pake banget lagi kasih contekan ke kita iyaa. Pliss!"ucap Dini dengan mode puppy eyes nya
Ayuna hanya bisa menghela nafas berat, melihat kedua temannya yang sedang menggunakan mode puppy eyes. Yang sayangnya membuatnya tidak tega.
Tapi dia tersadar saat ada yang mengucap salam di kelasnya.
"Assalamualaikum semua! "ucap pak Rendi yang saat itu sudah memasuki kelas.
"Waalaikumsalam pak!" ucap siswa siswi yang ada di kelas itu.
"Ohhh tidakkk gimana ini mana Pak Rendi udah masuk lagi, gue belum ngerjain PR"ucap Dini dengan nada sedihnya
Maklumi guyss kalian juga pasti begitu kan kalau belum ngerjain PR, apalagi yang ngasih PR guru Killer.
"Okey anak-anak kumpulkan PR nya yang kemarin saya kasih, yang belum mengerjakan silahkan maju ke depan sekarang juga atau jika tidak mau maju sekarang saya akan tambah hukuman berkali-kali lipat"
Elia dan Dini terpaksa maju karena mereka memang belum mengerjakan PR. Namun, yang membuat Elia juga Dini kaget ternyata bukan cuma mereka yang belum mengerjakan PR. Banyak teman-teman mereka yang belum mengerjakan, tak terkecuali Iqbal anak pak Kepsek(murid yang disukai sama Elia).
Bahkan yang mengerjakan PR bisa dihitung pake jari, cuma lima anak yang sudah mengerjakan sedangkan dua puluh lima anak yang lain belum mengerjakan PR. Ckckckck sungguh terlalu mereka ini!
Pak Rendi yang melihat hal ini hanya bisa menghela nafas berat. Bagaimana tidak, murid-muridnya sebagian besar banyak yang belum mengerjakan PR. Sedangkan ia saat ini adalah wali kelas 11 Ipa 2,yang mempunyai tanggung jawab penuh untuk mendidik murid-muridnya agar disiplin.
"Karena sebagian besar banyak yang tidak mengerjakan maka saya akan menghukum kalian, kerjakan PR sambil berdiri di tengah lapangan"
Para murid segera melaksanakan hukuman pak Rendi, walaupun sebenarnya mereka kesal karena hukuman yang diberikan tidak main-main.
Di Kantin
Elia dan Dini segera ke kantin setelah melaksanakan hukuman yang diberikan oleh pak Rendi.
"Uhhhhhh panas bangett dah, walau cuma setengah jam" ucap Dini sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk menghilangkan panas yang dialaminnya.
"Gimana nggk panas cuaca kali ini cerah banget, serasa ini cuaca ngedukung banget kita di hukum" kata Elia menimpali.
"El, Din sini!! " ucap Ayuna sambil melambaikan tanganya.
"Eh eh tuh Ayuna disana, kesana aja yukk" ajak Dini pada Elia
Sebenarnya Elia dan Dini masih marah pada Ayuna, karena nggak dikasih contekan. Alhasil mereka kena hukuman. Ayuna yang tahu kedua temannya sedang marah padanya, sudah punya cara jitu yang paling ampuh nih yaitu mentraktir keduanya.
"El, Din maaf deh tadi itu sebenarnya gue udah mau kasih contekan. Tapi iyaa gimana pak Rendi udah masuk duluan ke kelas"ucap Ayuna menjelaskan sambil raut wajahnya dilebih-lebihkan biar pas gitu momennya, emang iyaa ratu sandiwara iya gini hahaha.
Elia dan Dini yang melihat wajah Ayuna seperti itu hanya bisa memutar bola mata malas, pasalnya mereka sudah tahu sandiwara temannya itu. Mungkin kalau orang lain akan percaya dan luluh, tapi tidak bagi mereka karena mereka sudah tahu benar bagaimana sifat dan sikap Ayuna.
"Udah deh Ay, geli gue lihat muka lo kayak gitu. Nggak mempan sama kita" ucap Elia sambil mengedipkan mata sebelahnya, iya kalian tahu lah gimana cara menggoda.
"Ishhhh loh ini nggak peka bangettt dehh setidaknya hargailah sandiwara gue ini" kata Ayuna dengan wajah kesalnya.
Dini yang melihat kedua temannya berdebat masalah sandiwara hanya bisa menggelengkan kepalannya.
__ADS_1
"Udah deh nggak usah drama, mending kita makan aja lumayan udah ditraktir gini. Rezeki mah nggak boleh ditolak".Ucap Dini sambil memakan bakso nya.
Ayuna dan Elia segera menghentikan perdebatan mereka yang unfaedah. Mereka segera memakan makanannya dan kembali ke kelas sambil menungggu waktu masuk jam pelajaran tiba.