
Rumah Dini
Tok-tok-tok
"Assalamualaikum Tante Leni!"ucap Elia, Ayuna dan Mela
Yaps, mereka telah janjian pergi kerumah Dini bersama
"Waalaikumsalam, kalian lagi cari Dini yah?"
"Iyah nih tan, Dininya mana?"tanya Ayuna
"Lagi dikamar Ayuna, coba kalian hibur deh. Soalnya tadi habis pulang kan Tante sama Om langsung ngasih tau Dini, kalau Dini mau dijodohkan"
"Jadi Tante langsung ngasih tahu Dini?"ucap Mela kaget
'Apa secepat ini ngasih taunya'batin Mela
"Iyah Mela, sesuai rencana kan seperti itu"
"Tapi Tante, gimana perasaan Dini sekarang? pasti dia sedih banget"sahut Elia
"Yah mau gimana lagi, biar surprise lagian seminggu lagi aja kan"
"Iyah juga sih Tan"
"Yaudah sana gih, hibur Dini Tante mau ke supermarket dulu soalnya. Tante titip Dini ya!"
"Iyah Tan, tenang aja Dini aman kok sama kita"
"Yaudah Tante pergi dulu, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam hati-hati Tan"
"Iyah"
Akhirnya Ayuna, Elia dan Mela naik kelantai dua tempat kamar Dini berada
Ceklek
Ayuna membuka kamar Dini tanpa permisi, karena sama sekali tidak ada sahutan dari si pemilik kamar
Hal pertama kali yang tertangkap pancaran sinar mata ketiga gadis itu ialah adanya seorang gadis yang melamun duduk dibalkon, ia adalah tidak lain dan tidak bukan yakni Dini. Entah apa yang dipikirkan oleh Dini
Flashback On...
Setelah sampai dirumahnya, Dini segera masuk tak lupa mengucapkan salam
"Dini, sini duduk dulu ada yang mau kami bicarain"
Dini hanya mengernyit heran, pasalnya raut wajah ayah dan bundanya sangatlah serius kali ini
"Ada apa? Bunda sama Ayah kok kayaknya serius banget"
"Bunda mau ngasih tau kamu, tapi tolong jangan marah yah sayang!!"ucap Bunda Leni sembari mengelus puncak kepala putri bungsunya yang berbalut hijab
"Aku nggak akan marah kok Bund, emang ada apa?"
"Bunda sama Ayah udah jodohin kamu, satu minggu lagi pernikahan kamu"
"Apa Bund? nikah? seminggu lagi? Dini nggak salah denger kan?"
"Nggak Dini, ini emang benar"
"Dengan siapa Bund?"
"Dengan anak temen Bunda sama Ayah"
"Tapi Bund, Dini aja baru berumur 17 tahun. Kenapa mau dinikahkan? pokoknya Dini nggak mau. Gimana nanti masa depan Dini yang menikah dengan orang yang nggak Dini cintai"
"Masalah cinta pasti bisa datang seiring berjalannya waktu, jadi kamu nggak usah khawatir sayang"
"Nggak, Dini NGGAK MAU!!"
"DINI!! Ayah nggak pernah ngajarin kamu bicara lantang sama orang tua, mau nggak mau pernikahan ini akan tetap terjadi"
"Tapi Ayah!! Hiks-hiks kalian jahat"Dinipun pergi berlari masuk kekamarnya
"Sabar Yah, jangan bentak Dini. Wajar dia seperti itu, pasti karena syok"
"Ayah sebenarnya kasihan sama Dini, kenapa juga harus pakai rencana kayak gini"
"Udah nggak papa Yah, yang penting pasti nanti setelah menikah Dini bahagia. Karena Bunda lihat dan perhatikan sepertinya Dini menyukai David"
"Iyah Bund, biarkan saja Dini menenangkan dirinya terlebih dahulu"
Flashback Off...
Dini sama sekali tidak menyadari keberadaan ketiga sahabatnya itu
Sedih? tentu saja, mau marah? dengan siapa. Dini adalah anak penurut, mustahil jika ia tidak melakukan perintah kedua ortunya. Walau saat ini hatinya sedang dilanda kesedihan yang menggelora.
"Din! udah yuk jangan sedih terus"ucap Elia
"Ehhh kalian udah dateng!!"ucap Dini sembari tersenyum dan segera menghapus sisa air mata yang menetes dipipinya
Ayuna, Elia dan Mela merasa prihatin serta kasihan pada Dini, pasti perasaanya saat ini sedang double sakit hati. Disisi lain mendengar kabar David dijodohkan, sekarang iapun akan dijodohkan. Definisi Kisah Cinta Rumit, tapi jangan khawatir lah yah toh yang mau dijodohin sama Dini itu David pada akhirnya.
"Gue mandi dulu yah!"pamit Dini
"Okey Din, kita tunggu"sahut Mela
Beberapa menit kemudian, Dini telah menyelesaikan ritual mandinya dan segera berkumpul bersama ketiga sahabatnya
"Din, kalau lo mau curhat. Mending curhat aja deh, kita ini sahabat lo"ucap Ayuna mengawali pembicaraan
"Gu-gue nggak tau harus curhat kayak gimana"
"Apa lo suka sama David?"
"Nggak lah Ay, siapa bilang gue suka sama David"
"Tapi, kalau emang lo nggak suka David terus kenapa setelah mendengar David mau dinikahkan lo seakan berperan sebagai kekasih yang dilanda kecemburuan" sangkal Elia
"Betul tuh, Din mending jujur ajalah sama kita. Kita ini udah saling kenal dari dulu" sahut Mela
__ADS_1
"Gue sendiri juga nggak tau sama perasaan gue, entah kenapa saat mendengar David akan dijodohkan hati gue kayak nyesek gitu. Seakan ada rasa tak rela yang nggak bisa gue definisikan"
"Lalu, gimana perasaan lo saat bersama David?"tanya Ayuna
"Maksudnya gimana nih Ay, nggak paham gue"
"Hadehh, gini gue jelasin"ucap Ayuna mengalah
"Jelasin tuh Ay, mangkanya toh lo jadi orang jangan nggak pekaan"ejek Elia
"Husstt El, udah deh mending dengerin Dini curhat aja jangan memotong pembicaraan"saran Mela
"Ehhh okey-okey gue diem"ucap Elia sambil mengarahkan telunjuknya pada mulutnya, tanda akan diam
"Ketika kalian saat berdua yah Din, apalagi lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan pasti salah satu punya perasaan lebih sekedar teman, secara kalian kan sering pulang berdua"penjelasan Ayuna bak seorang Guru Cinta
"Lah emang tandanya gimana?"tanya Dini sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
'Bingung gue'batin Dini menjerit
"Gini, apa jantung lo berdetak tak normal saat bersama David? atau lo ngerasa gerogi kadang lo ngerasa malu saat dapet perhatian dari David. Pernah nggak?"
"Emm kalau jantung berdetak nggak normal sih pernah, kayak habis lari marathon gitu. Terus kalau gerogi pernah juga, sedang malu sih gimana yah pernah juga. Apalagi David yang notabene nya cowok cuek malah ngasih perhatian"jelas Dini panjang kali lebar kali tinggi kali alas
"Fiks, lo emang udah jatuh cinta sama David"sela Elia
"El, diem dulu napa. Sidang Percintaan belum selesai nih"ucap Mela sambil tertawa ngakak
"Ehhh iyah juga yah, sorry-sorry sok atuh dilanjut"jawab Elia
"Kalau menurut gue sih, itu baru perasaan suka. Belum cinta"opini Ayuna
"Kok bisa?"tanya Elia dan Mela bersamaan
"Bisa lah, kan gini diumur kita yang masih remaja ini itu perasaan cinta belum beneran. Ibarat kata kita itu baru bermimpi belum sadar kenyataannya. Tapi entahlah gue juga belum bisa mastiin mengenai perasaan Dini, karena kan dia yang ngerasain bukan gue"
Elia, Dini dan Mela hanya mengangguk-anggukan kepala mereka tanda mengerti. Kenapa sahabat mereka satu ini paham banget soal percintaan, paling kalau ada lomba debat cinta Ayuna menang nih kayaknya.
"Guys, gue mau nanya saran kalian nih!"
"Saran apa Din? kita pasti jawab kok kalau emang kita bisa"sahut Elia
"Apa yang harus gue lakuin yah? nerima perjodohan atau gue tolak aja?"
"Saran gue sih mending lo nerima aja Din, siapa tau orang yang mau dijodohin sama lo itu emang bener-bener jodoh lo,yang udah tertulis di Lauhul Mahfudz"saran Elia
"Iyah, mending terima aja. Lo juga pastinya nggak mau kan ngecewain ortu lo. Mereka pasti ingin yang terbaik buat lo" saran Mela
"Kalau menurut gue sih, daripada bingung mending lo sholat istikhoroh. Minta petunjuk sama Allah, serahin semuannya pada-Nya. Pasti akan ketemu kok jawabannya, dan lo nggak akan bingung lagi"saran Ayuna
"Ehh tumben lo Ay, saran lo bener. Ukhty nih"ucap Elia
"Ehh ya-ya dong. Bingung boleh tapi jangan sampai lupa sama pencipta, serahkan semuanya pada Allah. Insyaallah pasti bakal dikasih yang terbaik buat lo Din"ucap Ayuna dengan tertawa kecil
'Gue malah jadi bayangin kalau seumpama Dini sama David ketemu pas pernikahan mereka. Pasti bakalan kaget plus seneng banget'batin Ayuna
"Eh Ay, jangan senyum-senyum sendiri. Ngeri gue"ucap Mela
"Apaan dah, senyum kan ibadah"
Sedangkan Dini tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang kelewat absurd. Dia bersyukur dalam keadaan sedih begini sahabatnya selalu bersamanya
Disisi Lain....
Setelah perdebatan antara David dan ortunya, Devan dan Daren memutuskan untuk menghibur David tidak lupa Andi yang juga kembali setelah mengantar Mela pulang. Bagaimanapun juga mereka merasa kasihan pada David atas perjodohan tersebut.
Iyah siapa yang tidak akan marah atau kecewa ketika dijodohkan dan akan dinikahkan dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalinya.
"Dav, lo jangan sedih terus dong. Gue ngeri lihat lo kayak gini, sedih biasa sih gue B aja nah ini lo sedih tapi tatapan lo tajem banget dah daritadi. Ini beneran lo apa nggak sih?"
David yang ditanya sama sekali tidak menyahut ataupun menimpali perkataan Andi yang serupa dengan ejekan.
"Udahlah Ndi, lo nggak usah ngganggu kak David"ucap Daren
"Lagian daripada ngebangunin singa tidur mending lo ngerjain tugas gue aja"sahut Devan
"Daripada ngerjain tugas lo mending ngegame aja gue"
"Ren, yok ngegame!"ajak Andi
"Lo nggak lihat, gue lagi apa?"ucap Daren dengan wajah datar
Andi yang tahu kalau Daren sedang latihan pasti mode serius ON, tidak mau mengganggu. Yah takut kena batunya dia
"Ohhh Tuhan, beginikah nasib hambamu ini. Punya tiga teman tapi mengapa tak ada yang peduli pada hamba"keluh Andi dengan dramatisnya
David, Devan dan Daren sama sekali tak menyahut. Karena memang ketiganya sedang fokus dengan kegiatan masing-masing. David yang asyik melamun, Devan yang lagi chattingan dengan Elia dan Daren yang sedang latihan dengan samsak kesayangannya tentunya.
"Yaudah lah, kalau nggak ada yang mau ngegame bareng gue mending gue ngegame bareng Rio aja"
Tak lama setelah itu, Andi segera menelpon Rio supaya mau ngegame bareng.
'Halo Yo'
'Apaan sih lo ganggu banget'
'Rio sahabatku, yok ngegame bareng'
'Ogah gue, lagi sibuk'
'Heh, sok sibuk lo. Emang sibuk apa?'
'Kencan lah, gue gak kayak lo yang udah nelen formalin JOMBLO'
'Ehhh sok banget lo. Nggak ada gunanya gue nelpon lo'
'Y OK'
Sambungan Telepon tersebut langsung dimatikan sepihak oleh Rio, yang sebenarnya bukan sedang kencan. Dia terlalu malas keluar, karena terlalu sayang dengan pacar rumahannya apa lagi kalau bukan kasur, guling, bantal juga selimut kesayangannya itu. Playboy kan Rio? Ohhh jelaslah yah
Tiba-tiba.....
Ting....
suara notifikasi handphone Daren, Daren yang baru selesai latihanpun segera mengambil benda persegi panjang pipih itu.
__ADS_1
Raut wajah yang semula datar bertambah dengan raut wajah memerah, bukan karena malu tapi karena marah. Entah apa yang terdapat dalam benda pipihnya itu, sehingga membuat suasana yang dingin malam itu, malah berubah panas dihati Daren saat ini. Yang ia butuhkan saat ini adalah pelampiasan. Apalagi kalau bukan samsak yang ada di depan nya. Samsak itu bagaikan wajah seseorang yang sangat Daren benci, ia terus menerus meninju samsak yang sama sekali tidak bersalah itu.
Devan yang melihat keanehan Daren, tidak bisa berkata-kata atau bahkan menghentikan ulah Daren. Karena ia sangat tahu adiknya itu, jika sedang marah maka pasti akan di lampiaskan dengan latihannya yang keras. Saat ini dia hanya menunggu emosi Daren mereda dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? tidak biasanya Daren sampai semarah itu, karena Daren adalah tipikal lelaki yang mampu mengendalikan emosinya sejak ia kecil. Dia hanya akan marah saat orang yang dicintainya diganggu orang lain, itupun hanya keluarganya yang dicintainya. Lalu ada apa sebenarnya?pikir Devan yang tak juga menunjukkan titik temu.
"Ehhh Dev, adik lo kenapa tuh? kayak emosi banget"
"Nggak tau Ndi gue, bentar gue cari tau dulu. Terakhir kali sebelum Daren marah yang dipegang kan handphone nya. Gue periksa aja deh"
Devan yang menemukan Handphone tergeletak di matras segera mengambilnya.
"APA!! nggak ini nggak mungkin"ucap Devan tak percaya
"Apaan sih Devan, teriakan lo kenceng banget. Ada apa?"
"Inih.... "Devan tidak bisa berkata-kata
"Ehh yang bener aja nih, gue yakin ini pasti nggak bener"Andipun tidak percaya
Ternyata didalam handphone Daren ada yang mengirim sebuah foto Ayuna dan Andri yang sedang berpegangan tangan. Andri yang sedang bersimpuh memegang tangan Ayuna yang berdiri di hadapan nya.
"Wah nggak bener nih, walaupun nih orang masa lalu Ayuna gue yakin 100% kalau Ayuna nggak bakal mau balik lagi sama dia"
"Iyah Ndi, gue juga tau kalau itu. Nah terus Daren marah buat apa yah?"
Pletak__
"Duhh apa-apaan sih lo Ndi? main jitak gue aja lo"
"Heh Devan anaknya pak Wijaya, Daren alias adik lo itu suka sama si Ayuna, yah jelas lah dia pastinya cemburu lihat foto itu, lo biasanya aja peka terus ini sama adik sendiri nggak peduli amat"
"Bukannya gue nggak peka atau nggak peduli sama Daren, tapi karena emang dasarnya syaraf peka sama peduli gue udah gue kasih semua ke Elia Princessnya Babang Devan yang ganteng nya kebangetan gini"
"Gue nggak yakin deh, kalau Elia bakal suka sama lo Dev"
"Lah kenapa?"
"Introspeksi diri dulu lah, nih gue kasih tau
1.Lo kan playboy
2.Lo juga narsis
3.Mantan lo aja segudang
Emang udah Bener-bener yakin nih Elia bakalan nerima lo"
"Ehh lo jadi sahabat bukannya ngasih semangat kek, ini kata-kata lo ngedeg banget tau nggak!"ucap Devan dengan wajah memelas
Oh ayolah siapa juga yang mau diingatkan dengan masa lalu yang buruk, tapi mau bagaimana lagi masa lalu memang akan selalu bersama kita, tapi sebenarnya masa lalu itu jauh dengan kita. Jadi hanya perlu memperbaiki diri sendiri jadi lebih baik aja usahanya
Setelah sesi perdebatan antara Devan dan Andi selesai, keduanya segera mendatangi Daren yang telah selesai latihan, lebih tepatnya sih melampiaskan emosinya.
"Ren, lo jangan termakan emosi dulu. Mending lo tanya Ayuna, siapa tau lo cuma salah paham doang"nasehat Devan dengan bijaknya
"Gue nggak tau kak, yang gue mau saat ini cuma nenangin diri aja. Biarin gue sendiri dulu"
"Yaudah kalau itu keinginan lo, tapi inget pesen gue jangan sampai lo lakuin hal-hal yang bakal nyakitin diri lo sendiri"
★★★
Cuaca pagi ini begitu mendung, awan kelabu bahkan awan kehitaman serasa menguasai wilayah langit. Sang Mentari sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa melihat kelakuan para awan yang menguasai tempatnya. Sepertinya pagi kali ini akan menjadi pagi yang begitu dingin dengan langit yang mulai mencurahkan segala kesedihannya.
Cuaca ini seperti menggambarkan suasana hati David maupun Dini yang saat ini berbeda tempat, tapi sedang memikirkan something yang sama. Apalagi kalau bukan memikirkan bagaimana nasib mereka setelah menikah.
Di Sekolah
"Haishhh bosen banget gue, mana sepi lagi nggak ada sahabat nggak peka kita nih"
"Bener El, kenapa sih Dini harus izin sampai seminggu buat persiapan pernikahannya"sahut Mela
"Ehhh Ayuna mana Mel, daritadi nggak kelihatan batang hidungnya?"
"Tadi sih dia ijin mau ke kantor nemuin Pak Edi"
"Loh emang ada apa?"
"Lo lupa El, Ayuna sama Daren kan bakal ikut turnamen karate di Surabaya paling pak Edi mau ngasih pengumuman tentang itu mungkin"
"Ohh iyah lupa gue Mel"
Disisi lain......
Ayuna yang telah sampai diruang guru untuk menemui pak Edi, jangan lupakan Daren yang sudah terlebih dahulu duduk dihadapan pak Edi. Daren sama sekali tidak menyapa Ayuna, melihatnya saja pun tidak.
"Silahkan duduk Ayuna"
"Eh iyah pak"
"Begini kalian berdua saya panggil kesini karena turnamen karate di Surabaya itu akan dilaksanakan dua minggu lagi, jadi tolong persiapkan sematang mungkin. Karena kalian akan dihadapkan dengan peserta se-provinsi"
"Kalau boleh tau sampai kapan pak karate ini?"
"Dua minggu Ayuna, seminggu untuk babak penyisihan, empat hari untuk babak grandfinal dan tiga hari untuk babak finalnya. Ada yang ditanyakan lagi?"
"Nggak ada pak"ucap Daren dan Ayuna bersamaan
"Yasudah kalau begitu, pesen saya kalian harus sportif, utamakan kerja sama. Saya tidak memaksa kalian untuk memenangkan turnamen karate ini, yang terpenting kalian kembali dengan selamat"
"Iyah pak terima kasih atas pemberitahuannya. Kalau begitu kami permisi"ucap Ayuna pada Pak Edi
'Kenapa Daren terlihat begitu tak bersemangat dengan turnamen ini, apa yang mengganggu pikirannya? kenapa sikap nya dingin dan kayaknya marah sama gue?'pikir Ayuna
Ayuna dan Daren segera keluar dari ruang guru
"Ren!"
"Hm" jawab Daren singkat tanpa melihat Ayuna sedikit pun
"Lo Kenapa?"
"Gpp"
Daren meninggalkan Ayuna tanpa memberikan jawaban yang pasti
'Lo sebenernya kenapa Ren? sikap lo kok kayak gini, apa gue punya salah sama lo?'ucap Ayuna dalam hati bertanya-tanya
__ADS_1