Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Kehancuran


__ADS_3

"Aaaaaahhh..." jerit yang menyayatkan hati setiap insan yang mendengarnya.


Sebuah bayangan terlempar dan terjun kedalam jurang yang sangat dalam, sangat sangat dalam hingga dasarnya tidak kelihatan. Kabut tebal menutup segala apa yang ada didalam jurang, yaaaa kabut yang sangat tebal, pekat dan beracun, jurang yang sangat mengerikan, burungpun tidak berani terbang diatasnya, jurang yang terkenal dengan sebutan Jurang Seribu Kematian.


"Ayah, Ibu,, maafkan anakmu yang lemah ini,,,"


 


\\\*


 


Suasana masih hening hanya suara kicauan burung yang menyambut datangnya pagi. Sinar matahari pagi masuk menerobos disela sela dedaunan, warna kuning keemasan mengusir kabut pagi di lereng gunung Hengshan, yang semalam serasa membekukan apapun yang ada di lereng tersebut. Gunung Hengshan terletak di wilayah Shanxi sebuah daerah kekuasaan Dinasti Qin, sebuah dinasti yang baru menyatukan Tiongkok dibawah kepemimpinan Qin Shi Huang sebagai kaisar pertamanya.


Seorang anak kecil umur 6-7tahun berdiri mematung menikmati suasana pagi yang tampak begitu indah. Berdiri kokoh layaknya seorang jenderal perang yang terkenal, memandang tanpa bergerak lurus ke depan, wajah yang imut bundar dengan alis yang tebal bibir mungil yang selalu menyunggingkan senyum, senyum yang wajar tanpa kemunafikan sebuah senyum anak kecil yang tanpa dosa. Matanya tajam memandang hamparan pemandangan yang indah menakjubkan.


"Liong'er,,, Liong'er,," sebuah panggilan membangunkan dari ketakjubannya akan indahnya alam.


"Iya Ibu.. anak datang" sambil berlari anak tersebut masuk ke rumah menjumpai sang Ibu.


"Liong'er, apa yang kamu lakukan diluar? Ingat kesehatanmu jangan sampai kedinginan, udara masih dingin dipagi ini".


"iya Ibu, anak hanya menikmati suara burung ibu, mereka begitu ceria, anak senang".


"iya tapi pakai baju yang tebal, ibu takut nanti kami sakit. Itu ibu sudah bikin bubur kesukaanmu".


"baik ibu, anak senang hari ini, ibu sayang banget sama anak Liong". "ibu, ayah kok belum pulang? Memangnya ayah pergi kemana? anak sudah rindu sama ayah, mudah mudahan ayah pulang bawah buku baru lagi".


"ayahmu pergi ke rumah adik angkatnya". jawab ibu


" Ooooo ke rumah paman Kang, kok kita tidak diajak ibu, anak juga ingin ketemu sama paman Kang, anak ingin belajar silat sama paman Kang".


" iya Long'er, pamanmu itu orang yang pandai, ayahmu berkunjung ke sana sekalian untuk menyelesaikan tugas perguruannya".

__ADS_1


Sambil memandang anaknya Lian Hong berkata dalam hati "kasihan kamu Long'er, sejak lahir kamu memiliki kelainan dalam tubuhmu, setiap kelelahan penyakitmu pasti kambuh".


Liong'er, Tio Sin Liong nama jagoan kita kali ini adalah seorang anak yang terlahir dengan kelainan ditubuhnya, dia dilahirkan dengan aliran pembulu darah terbalik sehingga tidak bisa beraktifitas normal seperti layaknya anak kecil yang lincah, hanya karena tenaga dalam ayahnya yang disalurkan dengan takaran tertentu yang bisa membantunya bertahan.


Pernah suatu hari Tio Wan Cong nama sang ayah pergi ke tabib terkenal dan mengetahui bahwa didalam tubuh anaknya terdapat racun dan hidupnya tidak akan bisa melewati usia 8 tahun. Bagai disambar petir perasaannya ketika mengetahui penyakit yang diidap anaknya, Kwe Lian Hong hanya bisa menangis mengetahui nasib yang menimpa keluarganya. Sejak saat itu Tio Wan Cong yang sebenarnya adalah pendekar dengan julukan tapak sakti, seorang pendekar pembela kebenaran disegani kawan dan ditakuti lawan berusaha untuk menyembuhkan penyakit anaknya. Sedangkan Kwe Lian Hong seorang yang sangat cantik lemah lembut, tidak kelihatan tua walaupun sudah memiliki anak, yang berasal dari keluarga bangsawan hanya bisa pasrah dengan keadaan fisik anak mereka. Pernah suatu waktu Lian Hong mencoba minta bantuan kepada keluarganya, tapi hanya hinaan yang didapatkan. Mereka merasa bahwa keluarga bangsawan tidak pantas hidup berdampingan dengan kaum persilatan yang hidupnya penuh dengan berbagai kekerasan, perkelahian, pertarungan, hidup di alam bebas, tanpa aturan dan tidak punya derajat yang tinggi. Mereka akhirnya hidup menjauh dari keramaian, memilih sebuah desa terpencil di lereng gunung Hengshan, meninggalkan dunia persilatan dan lingkungan keluarga bangsawan, hanya untuk berusaha menyembuhkan anak mereka.


Sejak usia 3 tahun Tio Sin Liong sudah diajarkan membaca dan menulis oleh kedua orang tuanya, ternyata Sin Liong sangat cerdas, dalam usia 5 tahun sdh bisa membaca dan menulis dengan lancar, bahkan huruf kuno yang terdapat di kitab kitab kuno yang diajarkan oleh Lian Hong dapat dipahami oleh Sin Liong.


BRAAAAAKK....!!!


"Lian'er,,, Liong'er,,, cepat lariii,,,!!"


"Wan Koko kenapa.. apa yang terjadi..??" Lian Hong berlari keluar mencoba membangunkan suaminya yang tersungkur. Darah membasahi seluruh bajunya,,


"Lian'er, cepat lari, bawah anak kita selamatkan anak kita,,, cepat,, cepat,, aku akan menahan mereka,,"


"Wan Koko siapa mereka? ada apa ini??" ayo bangun Wan Koko kita obati lukamu,," sambil nangis terisak Lian Hong mencoba untuk membangunkan suaminya. Dia bingung, apa yang mesti diperbuat, belum pernah dia mengalami hal semacam ini.


Wan Cong menepis tangan Lian Hong


"tidak Wan Koko, biarkan kita hadapi bersama".


"Ayaaaahh,,, huuu huuu,,," Sin Liong hanya bisa menangis.


"Liong'er pergilah dengan ibumu, kamu akan sembuh anakku, ayah menyayangi kalian. Cepaaaatt..!!"


"BOOOOOMM.."


Sebuah pukulan sakti berhasil dihadang oleh Wan Cong


"hahahaha,,, mau pergi?? enak saja, kalian semua harus mati. Hari ini tidak boleh ada nyawa dirumahmu Wan Cong." "hahahaha" mau ayam,, mau ****, mau kucing, semua harus mati ditangan kami Tiga Macan Hengshan"


"Heeeiiitt sebentar kakak,, yang satu itu lewati,," cegah Macan Hitam

__ADS_1


"adik kedua apa lagi maumu??" Macan Merah mulai tidak sabaran, mereka selalu beda pendapat walau saling kerja sama.


"ada mainan menarik kakak, Heeemmm,,," ucap Macan hitam sambil menjulurkan lidahnya sampai liurnya netes membasahi dadanya.


"aaach,, kamu itu,,, kita bantai dulu Wan Cong,,"


"aah,, uuhh,,, aahhh,," Macan Loreng berucap sambil tangannya meremas remas dadanya sendiri.


Macan Loreng punya dendam kesumat kepada Wan Cong akibat perkelahian mereka yang menyebabkan lidahnya terpotong, macan Merah kupingnya hilang satu dan macan hitam matanya tinggal satu. ketika mereka berjanji insaf pendekar Wan Cong hanya memberikan hukuman ringan.


"kalian b@#*ngan tengik, sudah pernah berbaik hati aku melepaskan kalian, dengan busuknya kalian meracuni arakku"


"bukan urusanku, siapa suruh kamu mau minum minum dengan kami, yang penting hari ini kalian harus ******..!!" hahahaha"


"haaaiitt.." WUUUSSSHH,, WUUUSSSHH BRAAAKK..!! dengan jurus tebasan lima iblis Macan Merah menebaskan goloknya ke arah Wan Cong yang bergulingan menghindari tebasan dengan jurus keledai berguling sambil melentikkan kakinya mendepak golok Macan Merah yang menghantam pintu sampai hancur berkeping keping.


"Lian'er cepat lariiii,,, biar mereka aku tahan"!


"Wan Koko,,," hanya itu yang bisa diucapkan Lian Hong sambil menggendong Sin Liong.


"heeeemm masih coba lari, adik tangkap su**el itu" ucap Macan Merah


DEEESSHH BRAAAKK,,!!


sebuah tendangan menghentikan gerakan dari Macam Hitam, sebuah tendangan keras yang membuat Macam Hitam tersungkur, jika saja Wan Cong tidak kena racun mungkin Macan Hitam tidak akan bangun lagi, tapi tendangan itu adalah tendangan terakhir dari pertahanan Wan Cong,, karena racun yang sudah menyerang jantung harus menghentikan harapannya, sebuah tebasan golok tepat mengenai leher Wan Cong.


"Hahahaha,, Wan Cong akhirnyaaaa,,, mam**s!!" PUUUIIHH.. CUUUHH!!


"adik kedua, kamu tidak apa? tanya Macam Merah


"aaaahh sial,, mereka kabur, untung saja Wan Cong kena racun penghancur hati, kalau saja tidak nyawaku bisa amblas, racun ketua memang hebat". kata Macam Hitam sambil geleng geleng kepala


"sebaiknya kita jangan menyinggung ketua, ayo kita kejar mereka" ucap Macan Merah.

__ADS_1


Tiga bayangan melesat meninggalkan rumah yang berantakan sisa sisa pertempuran.


Sejenak setelah ketiga bayangan menghilang, sebuah bayangan berbaju hijau dengan tutup wajah masuk kerumah kediaman Wan Cong, sepeminuman teh kemudian melesat kembali mengikuti arah Tiga Macan Hengshan. Api mulai menyala menghanguskan segala bangunan rumah.


__ADS_2