
Sore itu Sin Liong sedang melintasi hutan untuk menuju kota tempat tinggal seorang sahabat ayahnya dulu, ya seorang sahabat yang sangat dekat atau lebih tepatnya adik angkat dari ayahnya. Sin Liong ingin mencari informasi tentang keberadaan musuh musuh ayahnya dulu.
TOLONG,,,, TOLOOONG,,,
Terdengar teriakan seorang wanita dari dalam hutan sedang meminta tolong. Bergegas seorang Sin Liong pergi ke tempat asal suara.
Sesaat kemudian Sin Liong sampai pada tempat orang yang meminta tolong. Disitu terlihat ada empat orang yang bertampang menyeramkan sedang mempermainkan seorang wanita cantik yang berusia sekitar dua puluh tahun.
"Ha-ha-ha tak ada gunanya kau berteriak minta tolong cantik, mari layani kami dan kau akan kubiarkan hidup Ha-ha-ha"
"Kalau kau masih melawan kami tak segan segan menghilangkan nyawamu !"
"Tu,,, tuan tolong lepaskan aku tuan,, !"
Salah seorang dari berandalan itu segera menyergap wanita cantik itu, pakaiannya sudah robek disana sini sehingga memperlihatkan bagian tubuhnya yang indah.
"Jahanam tak tau malu,, !"
DEESH DEESH PLAAAK BUUUKK
"Kalian benar benar binatang, beraninya hanya menggangu wanita lemah !" sambil berdiri membelakangi wanita cantik itu Sin Liong menghardik para berandalan.
"Aduuuhh aduuuhh..." hanya itu ucapan yang keluar dari mulut para berandalan.
Sambil menunggu wanita itu membetulkan pakaiannya Sin Liong bertanya tanpa membalikan badan
"Apa nona tidak apa apa?"
"Terima kasih in-kong (tuan penolong), untung ada tuan yang menolong saya."
Selesai membetulkan pakaiannya wanita itu mendekati Sin liong dan mengucapkan terimakasih.
"Mereka hendak berbuat memalukan pada saya tuan." kata wanita itu
"Nona tenang saja, ada saya di sini!" jawab Sin Liong
__ADS_1
Sambil memegang lengan Sin Liong wanita itu mengajak Sin Liong untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Sin Liong yang selama hidup tidak pernah dipegang oleh wanita jadi sedikit gemetar karena sentuhan jari dari wanita tersebut, sesaat tidak bisa mengatakan apa apa diam dan bengong seperti pikirannya sedang terbang kemana mana. Tiba tiba sebuah pisau menempel di leher Sin Liong. Dengan perasaan kaget bercampur heran Sin Liong menatap wanita itu.
"Ha-ha-ha anak muda serahkan semua milikmu pada kami!" Kemudian muncul banyak orang dari balik pohon, dan ternyata mereka adalah satu golongan.
"He-he-he anak muda ku akui nyalimu besar juga mau menolong orang kesusahan, maka dari itu kami tidak akan membunuhmu asal kau mau serahkan semua barang milikmu!" kata pimpinan berandalan itu.
"Aiyaaaaa ternyata aku dijebak oleh mereka betapa bodohnya, baiknya aku ikut bersandiwara , nanti kalau sampai ke markas mereka biar sekalian aku hancurkan ." benak Sin Liong
"Tu,,, tu,, tuan,,, hamba ini pelajar miskin mana punya barang berharga?!" "Dan nona, pisaumu tolong kau singkirkan,, itu bukan mainan lho nona, hamba takut terluka." kata Sin Liong bersandiwara
"Heeeemm baiklah Karena kamu tidak melawan aku luluskan permintaanmu, tapi sebagi tahanan kamu harus diikat." jawab si nona.
"Iya,, iya,, ini,,, ini tangan saya, silahkan diikat. Asal jangan kalian bunuh aku." jawab Sin Liong sambil pura pura gemetaran.
"Baiklah anak anak, bawa tahanan ini ke markas!"
"Baik !!"
Berikutnya Sin Liong manda saja digelandang ke markas para berandalan itu, tempatnya jauh masuk kedalam hutan, banyak jalan berliku yang di lalui naik bukit, turun bukit. "Ternyata untuk masuk ke sarang mereka harus melewati berbagai jebakan dan barisan yang menyesatkan." Sin Liong bergumam dalam hati. Ada satu kesempatan si nona datang pada Sin Liong
Dalam hati Sin Liong membatin "Ini orang otaknya sudah putus barang kali yaa,, orang ditawan perampok kok malah disuruh berterima kasih!"
"kenapa hamba harus berterima kasih nona, apakah hamba akan dilepaskan sekarang?" tanya Sin Liong
"Bukan,,, bukan,,, karena di ibu kota banyak pelajar seperti kau ini ditangkap petugas kerajaan untuk dijadikan tumbal" jawab si nona
"heeehh tumbal...??!" Sin Liong jadi bingung
Setelah berjalan sekian lama akhirnya mereka sampai juga di markas para berandalan tersebut. Di situ terdapat banyak bangunan rumah, orang orang pada beraktifitas, ada yang menjemur pakaian, kulit binatang, ada yang lagi mengasapi daging, ada yang lagi bersih bersih. Sin Liong jadi heran ini kampung apa markas berandalan kok kehidupannya beda dengan apa yang pernah diceritakan orang atau dibaca di buku. Kehidupannya seperti di kampung kampung pada umumnya, juga banyak anak kecil. Si nona dan kawan hanya tersenyum melihat kebingungan Sin Liong. Akhirnya perjalanan mereka berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup besar, tidak ada tulisan yang menandai bangunan tersebut. Setelah tali belenggu dilepas Sin Liong dibawa masuk ke dalam suatu ruangan yang luas mirip dengan aula atau tempat berlatih silat. Di dalam ruangan tersebut sudah menunggu beberapa orang, dan Sin Liong terkejut ketika melihat siapa yang duduk di kursi ketua.
"Bukankah ini Pendekar Kang? Kenapa dia ada disini? Apa dia pimpinan para berandalan ini ?" bermacam macam pertanyaan muncul di benak Sin Liong.
"Selamat datang pendekar Sin, maafkan sambutan kami yang kurang baik." Sambil menjura pendekar Kang menyambut Sin Liong. Sin Liong sendiri masih kebingungan lirik ke kanan ke kiri tersenyum cengar cengir tidak tau harus ngomong apa.
"Ha ha ha, masih bingung? Mari,,, mari,, silahkan duduk dulu." akhirnya Kang Liong Giok mengantar Sin Liong ke tempat duduknya sambil menggandeng tangan Sin Liong.
__ADS_1
"Ini,,, ini,,, " hanya kata itu yang keluar dari mulut Sin Liong
"Pendekar Sin, inilah kampung kami namanya kampung Cahaya. Nanti saya perkenalkan satu persatu orang yang ada di ruangan ini."
Sebuah Perkampungan berdiri ditengah hutan yang jauh dari keramaian. Kampung itu didirikan oleh tokoh pejuang kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, dan semakin lama semakin banyak penduduknya. Semua penduduk bukan orang biasa, mereka adalah para pendekar golongan putih yang mempunyai tujuan yang sama. Dulunya kampung tersebut digunakan sebagai tempat persembunyian para pejuang rakyat. Tidak banyak yang tau keberadaan kampung tersebut kecuali orang yang menjadi penduduknya.
"Pendekar Sin pasti kaget dengan hal ini, maafkan kami sebelumnya tidak memberi tahu kepadamu tentang hal ini." kata Kang Liong Giok
"Aaih pendekar Kang terlalu sungkan, saya sangat kagum dengan kampung ini. Dan saya sangat berterima kasih bisa diundang ke kampung ini.
"Pendekar Sin, sebenarnya sudah sejak kejadian di rumah makan kemarin kami sudah mengikutimu, dan aku sangat salut dengan sepak terjangmu menyelesaikan masalah dalam Partai Kapak Merah."
"Berarti sejak lama mereka sudah mengawasi pergerakanku, sungguh bodoh sekali aku ini, aaahh kalau saja mereka bermaksud jahat pasti sudah celaka aku dari kemarin kemarin." Pikir Sin Liong dalam hati.
"Aaiiih tidak berani,, tidak berani, saya adalah orang bodoh yang sama sekali belum mengerti rimba hijau, masih banyak hal yang harus saya ketahui, mohon bimbingannya pendekar Kang." kata Sin Liong.
"Pendekar Sin, aku tau apa yang ada didalam pikiranmu, engkau adalah seorang yang baru turun gunung, belum banyak makan garam. Di dalam rimba hijau ini banyak sekali orang orang picik dan licik, banyak sekali tipu muslihat, maka dari itu selalu berhati-hati dalam memilih teman." jelas Kang Liong Giok
"Untuk sementara ini tinggalah dulu di kampung Cahaya, karena diluar sana kaisar Qin sedang memerintahkan bawahannya untuk menangkap para siucai untuk dijadikan tumbal, akupun tidak tau apa yang ada dalam pikiran kaisar Qin."
Sin Liong hanya diam dan manggut manggut mendengar penjelasan Kang Liong Giok
"Pendekar Sin, aku ada satu permintaan lagi, apakah pendekar Sin mau meluluskan apa tidak itu terserah pendekar Sin, tapi besar harapanku untuk engkau terima." tanya Kang Liong Giok
"Pendekar Kang tak perlu sungkan, silahkan sebutkan saja, walaupun harus menerjang ribuan pedang kalau untuk kabaikan pasti akan kulakukan." jawab Sin Liong tegas
"ha ha ha bagus sekali bagus sekali,,, tapi tidak sampai seperti itu pendekar Sin, aku hanya ingin menjalani persaudaraan dengan pendekar Sin, biarlah aku yang sedikit lebih tua mengajukan diri untuk menjadi saudara angkatmu." dan Kang Liong Giok akan melakukan sujud di depan Sin Liong, tapi segera ditahan oleh Sin Liong.
"Aaaih aaih,, tidak berani,, tidak berani, pendekar Kang adalah pendekar yang sudah mengharumkan namnya di bu-lim, apakah pantas bagi saya yang sangat bodoh ini disandingkan dengan nama besarmu." Sin Liong bertingkah serba salah menanggapi permintaan Kang Liong Giok.
"Aiyaaahh apalah artinya sebuah nama, semua hanyalah sebutan orang orang belaka.
Dan akhirnya mereka berdua menyalakan hio dan berdoa didepan leluhur pendiri kampung Cahaya untuk bersumpah menjadi saudara,
" Dengan disaksikan arwah leluhur dan para sahabat saya Kang Liong Giok akan menjadi kakak dan saya Sin Liong akan menjadi adik, kami tidak dilahirkan pada hari yang sama, di bulan yang sama dan di tahun yang sama. Kami hanya berharap mati pada hari yang sama, di bulan yang sama dan di tahun yang sama. Semoga Dewa Langit dan Bumi membuktikan apa yang ada di hati kami. Jika kami harus melakukan sesuatu untuk mengkhianati persahabatan kami, semoga surga dan orang-orang di bumi membunuh kami."
__ADS_1