
Musim semi telah datang ditandai dengan berakhirnya musim dingin, banyak tumbuhan mulai berkembang kembali memunculkan banyak beraneka bunga, musim ini biasa disebut musim bunga. Pada saat saat seperti ini banyak sekali warga yang datang berkunjung ke telaga untuk menikmati pemandangan sebuah telaga yang ada di pinggiran kota Hong Zau. Diantara bunga bunga yang bermekaran di sekitar telaga banyak terdapat banyak sekali angsa yang bergerombol membentuk kelompok sendiri sendiri berenang kian kemari, karena itulah penduduk sekitar menamakannya Telaga Angsa.
Seorang pemuda tampan berpenampilan layaknya siucai berjalan menyusuri setapak jalan di pinggiran telaga. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan, akar akar dan ranting tampak terlihat jelas di dasar telaga, air yang sangat jernih memantulkan pemandangan pegunungan yang ada di balik telaga.
Tiga bulan sejak Sin Liong tinggal di Kampung Cahaya, banyak kejadian yang terjadi di luar sana. Berita tentang mangkatnya kaisar Qin Shi Huang, diangkatnya Hu Hai menjadi kaisar dan berita putra mahkota Fu Su yang dipaksa untuk bunuh diri bersama dengan jendral Meng Tian. Banyak desas desus yang mengatakan bahwa ada persekongkolan antara Kasim Zhao dengan perdana menteri kerajaan Li Si untuk menjadikan Hu Hai sebagai kaisar Qin.
Banyak para pendekar golongan putih yang menghawatirkan keadaan ini, dimana kaisar yang baru adalah kaisar lalim, khawatir tentang adanya kejadian kejadian besar yang segera akan terjadi, tentang kekacauan maupun pemberontakan yang pada akhirnya rakyat yang sengsara.
"Tuan,, tuan,, beri kami sedikit uang tuan."
Sebuah suara mengagetkan Sin Liong, menyadarkannya dari lamunan. Dan memang sudah hal yang lumrah jika di suatu keramaian selalu muncul banyak pengemis.
Sin Liong hanya sekilas saja mengerling ke arah pengemis itu, perhatiannya kembali ditujukan ke arah telaga.
"Tuan,, tuan,, kasihanilah hamba yang belum makan tuan." pengemis itu masih saja menyodorkan mangkok logam meminta sedekah pada Sin Liong.
Tanpa menoleh Sin Liong meletakkan sesuatu ke mangkuk si pengemis itu.
"Tuan, ini,,, ini,,," pengemis itu berkata terbata bata karena yang di terimanya adalah batu permata yang harganya sangat mahal.
"Apalagi, apa masih kurang?" jawab Sin Liong sambil menatap ke pengemis, dan sekali lagi meletakkan satu lagi batu permata yang lebih besar ke dalam mangkuk si pengemis.
mata pengemis berbinar binar menatap permata pemberian Sin Liong.
Tiba tiba,,
"A San, sampai kapan kamu berpura pura di depanku.!?"
Dalam kejutnya A San menjawab
"Aaaiiihh saudara Sin, kamu mengenaliku, tapi bagaimana mungkin,!!?" dalam benak A San berkata "Padahal aku sudah merubah penampilanku, wajahpun sudah aku tutup dengan arang!"
"Ha-ha-ha A San,, A San,, sampai kau berubah jadi abupun aku masih bisa mengenalimu.!" jawab Sin Liong sambil tertawa.
__ADS_1
Mereka berdua menuju ke pohon yang rindang , duduk di atas bebatuan. Sambil menikmati pemandangan luar biasa indahnya yang sajikan oleh alam.
"Saudara Sin, ini batu permatamu aku kembalikan."
"A San, kau anggap aku ini apa, kalau hanya sekedar batu saja buatku tidak sebanding dengan harga persahabatan kita."
"Simpan saja buat kamu, aku masih banyak menyimpan batu seperti itu, lebih bagus dari itu malahan.!" kata Sin Liong
"Huwaah lebih bagus dari ini??"
Merekapun melanjutkan pembicaraan, banyak yang mereka bicarakan terutama tentang situasi sekarang dimana kaisar yang baru berkuasa. seperti biasanya, A San yang banyak cerita dan Sin Liong yang menjadi pendengar setia. Dan ketika waktu menjelang malam mereka mencari penginapan di sekitar Telaga Angsa.
Keesokan harinya ketika Sin Liong makan pagi di rumah makan penginapan, tiba tiba muncul gadis yang sangat cantik di depan pintu, dengan body yang semampai, kulit putih halus mata lentik, bibir tipis mungil, hidung mancung, rambut berhias tusuk kondai berbentuk burung Hong menambah kecantikannya. Banyak pengunjung yang terbelalak melihat gadis tersebut. Seorang gadis yang sangat cantik dan sangat jarang dijumpai di dunia ini. Untuk sesaat Sin Liong takjub dengan pemandangan yang tersaji di depannya, layaknya bidadari dari langit. Tapi hanya sesaat, kemudian dia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan aktifitas makan paginya.
"Saudara Sin, apa kamu masih bisa mengenaliku?"
"Aiyaaaaa A San, duduklah dulu, silahkan mari mari,, makan pagi dulu, selesai makan baru kita bicara."
"Saudara Sin, aku masih penasaran,,,"
"Ha-ha-ha A San,, A San,, kan sudah pernah kubilang, sampai kau jadi abupun aku masih bisa mengenalimu.!"
"Tapi aku tak pernah menyangka kalau kau secantik ini !" potong Sin Liong.
Wajah A San langsung memerah saat dibilang cantik oleh Sin Liong.
"Emangnya aku cantik ya saudara Sin?"
"Cantik sih, daripada bocah pengemis kemarin, ha-ha-ha!" gurau Sin Liong. Tetapi sebenarnya Sin Liong memuji kecantikan A San dengan sejujurnya.
"Oooo dasar bocah semprul,,!"
"Tapi saudara Sin, aku benar benar merasa penasaran, jangan jangan kamu pernah ngintip aku lagi mandi !?!"
__ADS_1
"Eeiit,,, kau anggap aku ini laki laki mesum apa !!"
"Maaf,,, maaf,,, tapi kan selama ini aku selalu berpenampilan laki laki."
"Itu mudah ditebak, dari dulu ketika kita masuk penginapan kamu selalu minta dua kamar yang terpisah, badanmu selalu harum dan aromanya sama dari pertemuan kita yang dulu, mana ada pengemis laki laki memakai wewangian perempuan, dan yang paling mencolok adalah setiap wanita ketika melihat perhiasan atau batu permata reaksinya akan berlebihan."
"Jadi dari dulu saudara Sin sudah tau kalau aku seorang gadis?" tanya A San sambil menatap sahabatnya itu
"Heeeemm tidak juga, aku baru tau kalau kamu benar benar perempuan saat kami berdiri di depan pintu itu." kata Sin Liong sambil menunjuk ke arah pintu.
"Wangi wangian yang kau pakai masih sama, dan ketika aku tersenyum kecil kepadamu reaksi yang kau tunjukan mengatakan kalau kau sudah ketahuan penyamaranmu."
"Jadi kalau saja tadi waktu kau tersenyum dan aku pura pura marah, pasti penyamaranku berhasil." Sela A San
"Bisa jadi,, bisa jadi,, tapi tak sepenuhnya berhasil !" sanggah Sin Liong
"Emang kenapa ??" tanya A San penuh selidik
"yaaaa Karena kamu A San,," enteng saja Sin Liong menjawab
"Aaaaahh kamu menyebalkan saudara Sin..!!"
Kenapa A San tiba tiba ada di Telaga Angsa, ternyata satu bulan yang lalu dia sudah menyelesaikan pelatihannya. Dibawah bimbingan Lo In Suthay , A San yang tak lain adalah Shu Giok Hong mencapai kemajuan yang berkali kali lipat, apalagi didukung dengan obat dan tanaman langkah yang ditinggalkan gurunya si Tikus Bermata Giok. Dan Shu Giok Hong yang sekarang adalah seorang pendekar wanita yang bisa dikategorikan pendekar kelas atas hanya hitungan jari saja pendekar yang sanggup melayaninya.
"Saudara Sin habis ini hendak kemanakah ?" tanya Giok'er di sela sela pembicaraan mereka.
"Tidak ada, sementara ini aku hanya ingin melihat lihat suasana Kota ini."
"Saudara Sin hari aku ingin ke Telaga Angsa, apakah kau mau pergi bersamaku?"
"Diundang oleh gadis cantik siapa berani menolak?" canda Sin Liong.
"Huuu dasar mesum!!"
__ADS_1