Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Jurang Seribu Kematian


__ADS_3

Ketika matahari mulai menampakkan diri, banyak warga desa yang sudah mulai berkumpul. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, api sudah melahap habis bangunan tempat tinggal Wan Cong, tinggal puing puing belaka. Semua mata menatap nanar puing puing bangunan merasa iba dengan apa yang menimpa keluarga Wan Cong yang baru tinggal selama 3 tahun.


"Terlambat, mudah mudahan mereka baik baik saja" guman seseorang sambil menatap puing puing bekas kebakaran "Sebaiknya segera aku susul mereka" sebuah bayangan berkelebat ke arah timur.


"Bertahanlah Liong'er,, segera kita sampai rumah paman Kun mu kita terselamatkan". Sambil memacu kudanya Lian Hong menenangkan anaknya. Tapi alangkah malangnya, kuda yang dipacu berlainan arah dengan tujuan. harusnya mereka menuju arah barat ke kota Nan, tapi sekarang mereka mengambil arah timur menuju ke kota Kuaiji, sebuah kota yang sangat sangat jauh melalui ribuan mil, hutan belantara hutan hutan yang belum pernah dijamah manusia. Lian Hong yang notabene dari keluarga bangsawan tidak pernah melalang buana, tidak tahu arah mana yang benar. Nahas bagi mereka berdua, sejenak setelah melewati hutan kuda yang mereka tunggangi sudah tidak kuat berjalan, dari mulutnya sudah keluar busa, karena berlari tiada henti kuda akhirnya sudah sampai batasnya. Sialnya lagi jalan mereka sudah buntu, dihadapan mereka terbentang jurang yang sangat dalam, tidak ada jalan lain. Semua jalan yang akan diambil adalah jalan kematian.


"Hahahaha, manis menyerahlah, serahkan buku catatan itu !" seru Macan Merah "Kalian tidak bisa lari lagi, dibelakang kalian adalah jurang seribu kematian, jangankan kalian dewapun terkencing kencing melihat jurang itu, hahahaha !"


"Tuan pendekar apa yang kamu maksud, aku tidak tau buku catatan apa ?" sambil mendekap Sin Liong, Lian Hong menjawab kebingungan, dia tidak tau apa yang diminta Macan Merah


"Sudah, jangan banyak omong segera serahkan, catatan itu atau kami akan membunuhmu."


Tiba tiba Sin Liong yang ada dalam dekapan Lian Hong melepaskan diri, dengan beraninya sambil berkacak pinggang menatap tajam ketiga macan Hengshan dan berkata "Heiii, tiga kucing gila jangan ganggu ibuku, kalian beraninya cuma sama perempuan, dasar pengecut !"


"Huahaha, dasar bocah tengik, minggir kau !"


DEEESSHH,, HUUEEKK..


Tubuh Sin Liong bergulingan setelah terhantam kepalan Macan Hitam, dari mulutnya memuntahkan darah, terkulai dan tak bergerak lagi.


"Liong'er, kalian baji**an !" Lian Hong mencoba untuk meraih Sin Liong. Sebuah tangan mencengkeram lengannya, mendekap mencoba melucuti bajunya


"Hahahaha, hari ini akan ku nikmati dulu tubuhmu janda muda, Hahaha" Sambil mulut Macan Hitam menelusuri wajah Lian Hong dengan nafsunya, nyosor sana nyosor sini sebelum sebuah bentakan menghentikannya.


"Heeeii kalian, sudah puas !!"

__ADS_1


"Apa kalian sudah menyelesaikan tugas kalian ?" Tiba tiba dibelakang mereka telah berdiri seorang yang kelihatan garang dengan pakaian Hijau wajah tertutup dan dua bilah pedang di pinggangnya.


"Mana catatan itu ??" " Kenapa diam, manaaaa ?!"


Dengan tubuh gemetaran Macan Merah menjawab


"Maaf Tuanku, kami tidak menemukan catatan apapun di tubuhnya."


"Siaaall, bodoh kalian," "Balik ke markas, hukuman segera menanti kalian !"


"Haduuuhh gimana ini kakak ?" Macan Hitam kebingungan, hilang sudah nafsunya


"Kau tanya aku, aku tanya siapa bodoh !"


"Sebaiknya kita segera kembali ke markas, Hitam, kamu cari alasan yang tepat."


"Baik kakak,, gara gara kamu bocah tengik !"


HWUUUT.. DUUUKK..


Sambil bersungut-sungut Macan Hitam menendang dada Sin Liong yang masih tergeletak disertai dengan tenaga dalam yang membuat tubuh Sin Liong terlempar jauh dan jatuh ke dalam jurang.


"Aaaaaahhh.. " suara teriakan yang mengerikan dari mulut Sin Liong, diantara sakit, ngeri dan takut, diantara sadar dan tidak sadar tubuh Sin Liong melesat jatuh ke dalam jurang matanya tajam menatap langit, tapi hanya kabut pekat yang ada. Dalam ingatannya kembali terbayang wajah kedua orang tuanya saat mereka masih hidup bahagia, selalu tertawa mengisi hari harinya. Tubuh Sin Liong terus meluncur, suara deru angin masuk kedalam telinganya tiada yang lain. Dalam ketidak berdayaannya Sin Liong menutup matanya, dia serahkan semua kepada Yang Maha Kuasa, dia hanya bisa pasrah.


"Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang lemah ini."

__ADS_1


kemudian yang terjadi hanyalah kegelapan, gelap, sangat sangat gelap.


Dan memang kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki kematian seseorang maka tidak akan terjadi walaupun pedang menebas tubuhnya. Dan inilah suatu keajaiban, tubuh Sin Liong yang akan menyentuh dasar jurang tertahan oleh sesuatu yang sangat lembut, akar akar halus dari tanaman beracun yang menjalar jalar di udara layaknya rambut yang tergerai tertiup angin melambai lambai menangkap dan menahan tubuh Sin Liong. Dan sudah menjadi takdirnya akar akar yang sangat beracun tersebut dapat menyembuhkan racun Sin Liong. Sin Liong yang tubuhnya terkena racun sejak bayi ditambah lagi racun dari tendangan Macan Hitam dapat berinteraksi dengan racun akar akar tersebut, seandainya tubuh normal dan terkena akar beracun manusia akan meninggal dalam hitungan detik. Dan memang sudah menjadi kemujuran Sin Liong, nyawa yang harusnya dalam hitungan detik harus menemui Sang raja akhirat dapat kembali.


Dalam ketidak sadaranya, tubuh Sin Liong terbalut akar akar halus yang beracun, akar akar tersebut bekerja secara alami menetralisir racun yang ada di tubuhnya. Tidak ada yang memerintah hanyalah berjalan secara alami menyembuhkan racun dengan racun bahkan pada akhirnya tubuh Sin Liong akan kebal terhadap semua racun.


Ya manusia tidak ada yang pernah tau keajaiban apa yang terjadi, semua adalah rahasia Yang Maha Kuasa.


Sepuluh Tahun Kemudian


Kedamaian sudah tercipta sejak berdirinya dinasti Qin, kaisar Qin Shi Huang telah menyatukan suku bangsa yang beragam di Tiongkok, banyak dibuat peraturan tentang rumah tangga, mata uang, pendidikan, kebudayaan dan perdagangan. Rakyat sudah mulai hidup makmur dibawah kepemimpinan kaisar Qin Shi Huang.


Di suatu pagi diantara kabut pekat terlihat sebuah pergerakan, seperti seekor burung putih raksasa terbang bertengger dari batu yang satu ke batu yang lain dan akhirnya hinggap diujung sebuah batu yang menjorok ke jurang. Terlihat jelas sesosok manusia, ya benar,, seorang pemuda yang sangat tampan, bertubuh gagah, rambut diikat dan disisir rapi, mulut yang selalu menyunggingkan senyum, dan tatapan mata yang mencorong seolah membelah karang dibalut dengan pakaian pendekar berwarna putih yang sangat serasi walaupun pakaian yang dikenakan sedikit kuno, tapi hal tersebut tidak mengurangi ketampanannya.


"Ayah, ibu, anakmu sudah kembali, dendam ini harus terbalaskan. Akan ku lenyapkan mereka yang menghancurkan kebahagiaan kita."


"Ayah, ibu, bahagialah diatas sana, anakmu Tio Sin Liong bersumpah tidak akan hidup tenang jika belum menuntaskan dendam ini."


"Ini masih di atas tebing jurang seribu kematian, aku harus segera pergi, tp kemana aku harus pergi?"


"Aaaahh kenapa pusing segala, lari aja nanti juga ketemu jalan" benak Sin Liong.


Dan setelah sekian lama berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh Sin Liong masih berada di dalam hutan, alih alih mencari jalan untuk menuju kota atau minimal perkampungan, Sin Liong malah semakin masuk ke dalam hutan.


"kalau mau keluar hutan aja ga bisa, gimana mau balas dendam, aaaahh bodoh banget aku ini, aku kan bisa naik pohon yang paling tinggi" Hahaha akhirnya, ada jalan."

__ADS_1


__ADS_2