Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Keramaian Di Rumah Nyo Taijin


__ADS_3

Siang itu udara tidak terasa begitu panas karena cuaca sedikit mendung, masih banyak orang yang melanjutkan aktivitasnya. Ada yang menjajakan dagangannya, ada yang melakukan tugasnya membersihkan kandang kuda, ada memberikan makan ternak-ternak. Banyak orang yang berlalu lalang di jalan, ada yang mencari kebutuhan, ada yang sedang melakukan pertemuan dengan kerabatnya, tak sedikit pula yang hanya sekedar jalan jalan.


TENG,, DUNG,, DUNG,, TENG,,


Terdengar suara tetabuhan sedang dimainkan oleh sekelompok orang untuk menarik perhatian orang orang yang sedang lewat jalan itu. Seorang yang laki laki usia sekitar lima puluh tahun kemudian memberi kata sambutan


"Cuwi sekalian, mohon maaf kalau kami menggangu anda sekalian. Kami adalah orang dalam perjalanan jauh dan kehabisan bekal, ijin kami untuk mempertontonkan sedikit kebodohan kami dalam permainan seni cakar ayam ini."


Seorang gadis cantik kemudian maju dan mulai menari mengikuti suara musik, tubuhnya melenggak lenggok mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah membuat semua orang terkagum kagum." Kemudian setelah agak lama gadis itu menari gadis itupun menjura mengucapkan terima kasih karena banyak penonton yang memberikan sumbangan.


"Cuwi sekalian, berikutnya adalah pertunjukan tari pedang dari anak gadis kami."


Seorang gadis maju dengan membawa sebilah pedang "Cuwi sekalian, mohon maafkan saya mempertontonkan kebodohan dalam memainkan pedang."


Setelah memberi hormat ke segala sudut disertai dengan bersoja gadis itupun mulai memainkan pedangnya, mula mula gerakannya lembut dan gemulai seperti seorang bidadari sedang menari, lama kelamaan semakin cepat dan banyak berubahan, sukar untuk orang awam mengikuti gerakannya.


KRAAAKK..


Tarian itu diakhiri dengan membabat sebuah blok kayu yang langsung terpotong dengan rapi.


Tepuk tangan dan sorakan terdengar mengagumi kemahiran gadis tersebut, makin banyak orang yang memberikan sumbangan, gadis itupun beroja untuk memberikan penghormatan dan ucapan terima kasih.


"Tidak buruk,,, tidak buruk,,, ilmu pedangmu sangat indah nona manis, ingin rasanya aku menikmati belaian pedangmu." ucapan yang kurang pantas dilontarkan oleh seseorang kepada gadis itu. Orang itu adalah seorang yang berperawakan tinggi besar usia sekitar lima puluhan.


"Tuan maafkan kedangkalan ilmu pedang yang kumiliki" kata gadis itu sedikit gusar.


"Gadis manis daripada bermain pedang lebih baik kau temani aku, kujamin kau akan senang."


"Jaga bicaramu orang tua!" umpat si gadis.


"Ha ha ha, galak juga kau manis, sungguh menarik,, sungguh menarik, baik akan kukalahkan kau, dan malam ini kita akan bersenang-senang !"


"Jaga serangan gadis manis,,"


WUUUD WUUUSH WUUUSH TIIING


Si gadis melompat kebelakang setelah menangkis serang dari orang tua ke bagian tubuhnya yang terlarang, sebuah serangan yang sangat memalukan untuk dilakukan seorang laki laki.

__ADS_1


Merekapun sama sama mundur selangkah, ternyata tenaga dalam mereka setara tetapi dalam kecepatan dan kelincahan masih unggul si gadis.


Setelah sepuluh jurus pertandinganpun terus berlanjut gadis itu mengangkat pedangnya, mengayunkan ke atas kepalanya dan maju menyerang. Putaran pedangnya kuat dan tebasannya cepat menyerang kebagian leher lawan.


SRIIING TIIING CRAAASH,,,


"Aiyaaaaa..." suara orang tua itu mengeluh dengan memegangi sebelah kupingya yang telah putus.


"Pak tua, terima kasih sudah mau mengalah." ucap gadis manis itu kepada lawannya


"Enak aja kamu ngomong, teman teman cepat ringkus mereka!!"


Ternyata orang tua itu adalah salah satu dari anggota pengawal pemerintahan sengaja mencari gara gra untuk mengambil keuntungan.


Pemimpin rombongan pengamen jalanan itupun bingung segera minta maaf atas apa yang terjadi.


"Maafkan kami tuan, kami hanya sekedar mencari uang tambahan untuk biaya hidup."


"Siapa yang memberi kalian ijin untuk melakukan pekerjaan disini, apa kalian pikir ini tempat nenek moyang kalian!" tiba tiba saja muncul seorang pemuda bersama serombongan pengawal pemerintahan. Dia adalah Nyo kongcu.


"Cepat bawa mereka !"


"Berhenti,, lepaskan mereka !" seorang pemuda tiba tiba saja muncul di depan pintu gerbang rumah Nyo Taijin, seorang pemuda yang sangat tampan usia tidak lebih dari dua puluh tahun, badan tinggi tegap, kulit putih halus, rambut disisir rapi dan klimis diikat dengan tali pita warna biru mudah serasi dengan warna pakaian yang dikenakan. Bisa dibilang inilah pemuda paling tampan di dunia.


"Siapa kau pemuda tengik, berani beraninya kau ikut campur urusan pemerintah, apa kamu tidak tau siapa penguasa di kota ini.!' bentak Nyo kongcu.


"Siapa penguasa di kota ini aku tidak peduli, cepat lepaskan mereka!"


"Kalau tidak kulepaskan kau mau apa?!"


Pemuda itupun mendengus


"Hmph lihat saja,, !"


Sebuah bayangan langsung berkelebat ke sana kemari dengan kecepatan yang sangat luar biasa, hanya dengan sekaki tarikan nafas saja tubuh para pengawal bergelimpangan ke tanah mengaduh aduh kesakitan. Nyo kongcu hanya bisa bengong, tubuhnya langsung gemetaran, dalam benaknya berpikir "Kenapa dua hari ini aku sial terus, selalu bertemu dengan pemuda yang pandai ilmu beladiri"


"Sungguh hebat,,, sungguh hebat,,! omongan belum selesai orang sudah muncul berdiri di depan Nyo kongcu.

__ADS_1


"Nama besar Pendekar Kang memang bukan isapan jempol belaka. Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu denganmu hari ini."


"Aaaaiih terima kasih, tak ku sangka sepasang Iblis Hitam Putih yang namanya tersohor di kolong langit ada dibalik semua ini."


"Tutup mulutmu pemuda geblek, mereka adalah tamuku dan kau segera enyah dari sini atau aku akan memenjarakan kalian semua."


Nyo Taijin yang mendengar ada suara ribut ribut akhirnya keluar.


"Hehh!? Ternyata orang tua sama anak sama saja. Aku yakin dengan posisimu sekarang pasti hasil dari kerjaanmu menjilat pantat pembesar kerajaan."


"Itu bukan urusanmu pemuda geblek, sekarang menyingkirlah dari hadapanku."


Pendekar Kang akhirnya melepaskan ikatan yang membelenggu para pengamen. Sebelum pendekar Kang pergi ada suara yang menahannya.


"Pendekar Kang, gedung pemerintahan ini bukan gedung nenek moyangmu, enak saja kau datang pergi semau perutmu sendiri." suara menyeramkan dengan sedikit ancaman keluar dari mulut Iblis Putih. Iblis Putih memang lebih brangasan daripada Iblis Hitam.


"Sepasang Iblis, aku tidak mencari perkara dengan kalian, tapi kalau kalian berdua memaksa, heemph,, dengan senang hati tuan mudamu ini akan mengiringi."


"Tidak sia sia Pendekar Kang mengukir nama indah di bu-lim dengan gelar Pendekar Giok Naga ternyata memang tidak hanya mengandalkan ketampanan wajahnya saja, mari,,, mari,, kami juga ingin merasai jurus Mataharimu itu!"


Merekapun bersiap untuk bertarung di halaman rumah Nyo Taijin, segera setelah sampai merekapun memulai pertarungan. Sebuah pertarungan yang sangat hebat dilakukan oleh ketiga orang sakti. jual beli serangan segera terjadi, pada awal pertarungan adalah sebatas menutul tubuh lawan saja, tetapi seterusnya serangan mereka saling mematikan, serangan sepasang Iblis Hitam Putih banyak sekali mengandung tipuan tipuan dan semua dapat dihalau oleh Kang Liong Giok dengan jurusnya yang mantab dan tegas.


Dengan kemarahan besar Kang Liong Giok mengamuk bagaikan iblis yang benar benar marah. Pada jurus ke tiga puluh suara teriakan ngeri terdengar dan darah menyembur keluar dari mulut Iblis Putih, setelah terkena pukulan jurus matahari tingkat satu yaitu jurus Cahaya Membias Daun Berguguran.


Iblis Hitam segera melompat dan menolong Iblis Putih, dalam hati berkata


"Kami berdua saja tidak mampu menundukkannya apalagi sendirian" tapi dimulut berkata


"Hari ini penghinaan darimu harus ditebus dengan nyawa, tunggulah pembalasan kami dari lembah Iblis."


Dengan acuh tak acuh pendekar Kang memjawab "Kalau kalian masih tetap berbuat onar dimasyarakat, tidak perlu mencariku. Akan ku luluh lantakkan sarang kalian!!"


"Hemph... !" dengus Iblis Hitam, kemudian pergi meninggalkan kediaman Nyo Taijin sambil membawa Iblis Putih yang sedang terluka parah, sedangkan keadaannya sendiripun tidak lebih baik dari Iblis Putih.


Pendekar Kang berpaling ke arah Nyo Taijin dan anaknya,


"Sekali lagi kalian berbuat semena mena akan kuhancurkan kalian, ingatlah kata kataku ini. Didik anakmu dengan benar kau akan menanggung sendiri akibatnya." Setelah melihat rombongan pengamen sudah jauh meninggalkan kota, pendekar Kang segera pergi meninggalkan kediaman Nyo Taijin.

__ADS_1


Sesaat setelah pendekar Kang pergi, sebuah bayangan mendekat, tidak ada yang dilakukannya, sejenak kemudian dia pergi ke arah pendekar Kang pergi


__ADS_2