Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Penyusup di Markas Kapak Merah


__ADS_3

"Lhu Pangcu, bukankah pemuda ini terlalu mengada ada, kepintaran apa yang dia punya sampai bisa menyanggupi menyelesaikan masalah Kapak Merah." kata ketua Ma seorang ketua bagian perlindungan partai


"Saudara Sin Liong, kami dari partai Kapak Merah sudah dipusingkan dengan masalah kami jadi tolong jangan kau tambah dengan masalahmu." kata Lhu Tian Ji


"Lhu Pangcu, sudah lama saya mendengar nama harum partai Kapak Merah, tapi kemarin apa yang saya lihat sangat tidak sesuai dengan berita yang saya dengar selama ini. Saya merasakan ada sesuatu dibalik semua ini, dan saya tau itu tidak muda, mungkin ada penyusup di partai Kapak Merah untuk merubah jalan lurus yang selama ini ditempuh partai." jawab Sin Liong


"Anak muda jaga mulutmu, apa yang terjadi dengan partai kami, kau orang luar jangan turut campur. Lhu Pangcu, mohon ijin untuk memberi pelajaran bocah kurang ajar ini !" kata ketua Ma


"Ketua Ma, bukannya saya berlaku lancang,," belum selesai Sin Liong berkata sudah dipotong oleh ketua Ma


"Bocah kurang ajar, jaga mulutmu, atau aku robek mulut busukmu itu.!"


"Hemph aku takut kau tidak akan bisa mewujudkannya ketua Ma !" akhirnya gusar juga Sin Liong dibuatnya


Sambil melompat berdiri di tengah ruangan ketua Ma mengacungkan senjatanya ke arah Sin Liong


"Kalau berani cepat maju sini kau bocah edan !"


"Hahahaha ketua Ma, kululuskan keinginanmu, mari,, mari silahkan!" dengan tenang Sin Liong maju ke tengah ruangan.


"Lhu Pangcu mohon maafkan kelancanganku." kata Sin Liong sambil menjura kepada ketua Partai Kapak Merah.


"Sudah jangan terlalu banyak adat, cepat keluarkan senjatamu. Dalam sepuluh jurus kalau kau bisa menahan seranganku aku anggap kau layak ikut dalam urusan Partai Kapak Merah" bentak ketua Ma


"Hahaha ketua Ma, Kau sangat meremehkan aku. Selamanya aku tidak pernah menggunakan senjata, dan ingat hanya cukup satu gerakan aku bisa mengalahkanmu. Ingat,,, SATU.. !" Sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada setiap orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Semua orang menatap keheranan kepada Sin Liong, ada juga yang menatap sinis, apakah bisa anak yang masih muda usia sekitar tujuh belas tahun mengalahkan ketua Ma mereka hanya dalam satu gerakan saja, padahal mereka tau kepandaian ketua Ma hanya berada satu tingkat dibawah ketua Lhu.


Seketika hawa membunuh yang pekat keluar dari tubuh ketua Ma,


"Baj***an, besar juga mulutmu !" ketua Ma membentak dan melancarkan serangan ke arah Sin Liong, jurus yang digunakan adalah jurus tertinggi dari partai Kapak Merah, mungkin untuk memberi pelajaran pada Sin Liong atau bahkan mungkin membinasakannya. Ketua Ma sudah membuang rasa malu, menyerang pendekar angkatan muda dengan jurus pamungkas disertai dengan menggunakan senjata andalannya. Hawa panas menyengat disertai dengan pusaran angin menderu bagaikan badai yang maha dahsyat menerjang ke arah Sin Liong. Semua mata menatap ngeri dengan apa yang akan terjadi, sampai Lhu Tian Ji berdiri dari kursinya kuatir dengan apa yang akan menimpa Sin Liong.


DUUUUK,,, PUUUSSSHH..


Semua yang hadir terbengong melihat apa yang terjadi, Sin Liong masih berdiri di posisinya semula, sikap tubuh pun masih tetap sama, tubuh berdiri tegak, tangan kanan dibiarkan menjuntai ke bawah dan tangan kiri dilipat di belakang tubuh (sikap andalan Sin Liong) sedangkan ketua Ma berada dalam posisi memukulkan kapak merahnya tetapi diam tidak bergerak. Banyak yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Serangan Ketua Ma memang sangat dahsyat, tetapi Sin Liong dapat mengetahui titik lemah dari jurus tersebut, titik lemahnya adalah di pusat pusaran dari gelombang angin badai yang di keluarkan oleh ketua Ma. Begitu pusat lingkaran angin badai dapat dibuyarkan maka yang terjadi adalah pukulan tersebut akan amblas seperti batu kerikil jatuh ke laut, tidak menimbulkan apa apa. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada ketua Ma, kekuatan penghancur dari jurus tersebut hilang seketika dan tubuh jadi kaku tak bergerak karena berbarengan tertotok pada jalan darah diamnya.


"Lhu Pangcu maafkan saya yang terlalu ceroboh, beri saya waktu memberi penjelasan apa yang sebenarnya terjadi."


Begitu yang lain sadar dari rasa kagetnya segera mereka mengangkat senjata untuk mengeroyok Sin Liong,


"Tangkap bocah tengik itu" ucap salah satu diantaranya

__ADS_1


"BERHENTI...!!


teriak Lhu Tian Ji yang suaranya menggelegar kesemua penjuru, menandakan tenaga dalamnya sangat tinggi.


"Partai Kapak Merah bukan tempat orang orang pengecut, mengandalkan jumlah meraih kemenangan, kita dengarkan dulu penjelasannya. Masih banyak waktu untuk meringkusnya jika dia berulah."


"Baik Pangcu !!" jawab mereka bersamaan


"Terima kasih Lhu Pangcu, saya akan sedikit bercerita."


"Tiga pekan yang lalu sebelum saya tiba di kota ini, saya bertempur dengan enam orang berandalan di sebuah hutan. Dari mereka saya mengorek keterangan bahwa mereka adalah orang orang suruhan dari ketua Ma untuk mengunjungi suatu tempat untuk melakukan suatu pertemuan. Waktu itu saya menghiraukan segala keterangan mereka, karena saya pikir tidak penting. Selang satu pekan kemudian secara tidak sengaja saya bertemu dengan seseorang yang sedang terluka parah di dalam goa.


* Flashback kejadian dua pekan sebelumnya


"Hari sudah menjelang malam, baiknya aku mencari goa daripada nanti tidur di atas pohon lagi." batin Sin Liong pada suatu hari ketika melintasi sebuah hutan, hutan tersebut ada di Timur sungai Nanfei, sebuah hutan yang sangat lebat dan jarang dilalui orang. Setelah mencari cari akhirnya ketemu sebuah goa yang tidak terlalu besar, dari kejauhan tidak akan kentara kalau terdapat sebuah goa karena keadaan pintu goa tertutup oleh reruntuhan batu gunung yang sudah ditumbuhi rumput rumput liar.


"Aduuuhh,,, aaahh,, aaahhh"


"Sepertinya ada orang sedang terluka, coba aku lihat. Dalam kitab yang aku baca untuk menolong orang tidak boleh pandang bulu, siapapun yang butuh pertolongan harus ditolong."


Setelah masuk goa Sin Liong menjumpai orang tua yang sedang meringkuk sambil mengerang kesakitan, tubuhnya menggigil, wajahnya pucat pasih, bibir dan jari jari sudah membiru jelas bahwa orang ini keracunan.


Segera Sin Liong melakukan pertolongan dengan memasukan setetes darah dari ujung jarinya ke mulut orang tua itu, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya untuk mempercepat proses penyembuhan.


Sepeminuman teh kemudian wajah orang tua itu berangsur angsur memerah warna biru di bibir dan jari sudah tidak membiru.


Akhirnya Sin Liong membaringkan orang tua tersebut untuk beristirahat, Sin Liong sendiri keluar untuk berburu kelinci atau ayam hutan untuk bekal santapan di dalam goa.


Sedang sibuknya Sin Liong membakar ayam hutan terlihat orang tua itu sudah siuman.


"Anak muda, apakah kamu yang menolongku?"


"Aaaaahh pak tua, apa sudah merasa baikan?" tanya Sin Liong sambil membolak balikan ayam bakarnya tanpa menoleh.


Pak tua itupun duduk bersila mencoba untuk mengumpulkan tenaga dalamnya yang terkuras habis.


Tak seberapa lama kemudian


"Pak tua pasti sudah lapar, ini aku sudah siapkan ayam bakar untukmu, rasanya tidak begitu nikmat tapi yaaaa lumayan untuk menangsal perut."


"Terima kasih anak muda, kalau tidak ada pertolongan darimu mungkin aku sudah menemui Giam Lo Ong"


"Aaih pak tua terlalu sungkan, aku hanya memberikan sedikit perawatan saja. Ohya pak tua, siapa yang tega melukaimu dengan pukulan beracun itu ?"

__ADS_1


"Aaaahh kalau diceritakan sungguh memalukan, aku yang sudah setua ini harus meregang nyawa ditangan seorang gadis berjuluk Walet Merah."


Kemudian pak tua itu menceritakan kejadian yang membuatnya hampir mati.


"Apakah dia sehebat itu?" tanya Sin Liong.


"Yaaaaa begitulah, jurusnya sangat keji dan beracun, suatu hari nanti kalau kau harus hati hati kalau bertemu dengannya."


"Akan kuingat pesanmu pak tua." "Pak tua siapakah nama dan julukanmu, dan kenapa pak tua sampai bertempur dengan si Walet Merah?" tanya Sin Liong


"Karena aku lebih tua panggil saja aku kakak Lie, julukanku Tikus Bermata Giok."


"huwaah jadi pak tua ini si Maling Budiman, tak disangka aku bisa bertemu dengan Si Maling Budiman yang terkenal."


"Kamu sudah tau siapa aku? Siapa namamu anak muda?" Tanya Tikus Bermata Giok


"Oooh aku sering mendengar cerita dari temanku A San, dia sangat mengidolakanmu pak tua, namaku Sin Liong" jawab Sin Liong


"Dari tadi kamu panggil aku pak tua pak tua, panggil aku kakak Lie dan aku panggil kau adik Liong."


"Apakah pantas kalau aku panggil kakak padamu, kau kan sudah terlalu tua!"


"Tidak ada yang tidak pantas di dunia ini, asal kita suka kenapa tidak !"


"Baiklah Lie twako" sahut Sin Liong


"Nah begini kan enak Liong lote."


"Twako, kau belum cerita sebab apa kau bertempur dengan si Walet Merah."


" Aaiih hampir lupa, kejadiannya berawal dari dua pekan yang lalu, aku bertemu dengan sahabatku, dia adalah ketua Ma, ketua bagian perlindungan partai Kapak Merah. Dia sedang melarikan diri dan terluka parah." "Aaaaah aku sudah berusaha menolong jiwanya, tapi apa daya kemampuan twakomu ini terlalu cetak." sesal Tikus Bermata Giok.


"Sebelum menghembuskan nafasnya ketua Ma, mengatakan bahwa akan ada pertemuan rahasia di kuil tua dekat sungai Nanfei. Dan ketua Ma titip pesan untuk disampaikan kepada Lhu Pangcu mereka akan adanya persekongkolan di kerajaan, tapi aku tidak tau persekongkolan apa yang dimaksud ketua Ma.


"Lote, bisakah sekali lagi aku minta bantuanmu,?"


"Lie twako jangan sungkan, katakan saja pasti aku wujudkan." jawab Sin Liong


"Bawalah lencana ini, tunjukan kepada Lhu Pangcu dan sampaikan apa yang aku ceritakan tadi. Aku akan pergi mencari muridku, bocah semprul itu entah ada dimana sekarang!?"


"Legakanlah hatimu twako, permintaanmu segera aku laksanakan."


***--****

__ADS_1


"Begitulah kejadian yang ku alami ketua Lhu, dan ini lencana yang di titipkan Lie twako untuk diberikan kepada Lhu Pangcu." Sin Liong menyerahkan sebuah lencana kepada Lhu Tian Ji yang kemudian diperiksa dan memang lencana itu asli.


Semua terdiam setelah mendengar cerita Sin Liong, antara percaya dan tidak percaya. Kalau ketua Ma benar sudah meninggal lalu siapa orang yang ada dihadapan mereka sekarang.


__ADS_2