Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Kapak Merah


__ADS_3

Pertarungan di lantai atas rumah makan siang itu masih berlangsung. Banyak pelanggan yang berlarian keluar rumah makan karena takut terkena imbasnya, tapi tidak jarang juga yang mendekat untuk menonton keramaian. Banyak dari mereka yang mengawatirkan keselamatan dari Dewa Lengan Seribu, karena mereka sangat mengetahui perangai dari Nyo Kongcu.


Nyo Kongcu adalah putra dari pembesar Nyo Taijin di kota itu, setiap hari kerjaannya hanya bersenang senang dan menggangu warga, tak jarang istri orang juga diganggunya. Warga hanya bisa pasra dengan keadaan tersebut, mau bagaimana lagi, lawannya adalah pembesar negara.


Setelah pertarungan berjalan empat puluh jurus Dewa Lengan Seribu mulai mendesak para pengeroyoknya. Sudah banyak cidera yang dialami oleh para pengeroyok yang sekarang hanya tinggal lima orang dari belasan orang yang berilmu tinggi. Melihat hal ini Lhu Tian Ji tidak bisa diam, dengan menghunuskan pusakanya yang berupa kapak berwarna merah dia menghujamkan serangan ke arah Dewa Lengan Seribu. Lhu Tian Ji mendapatkan kesempatan bagus disaat Dewa Lengan Seribu membelakangi dirinya, sebuah jurus yang maha dahsyat menerjang membabat ke kepala Dewa Lengan Seribu jurus "Petir Menyambar Samudera". Semua mata memandang dengan yakin bahwa kepala Dewa Lengan Seribu akan hancur berkeping keping diterjang jurus Lhu Tian Ji.


"Kakek... Awas.." Sebuah jeritan terdengar.


Dewa Lengan Seribu pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dikarenakan usia yang sudah tidak muda lagi, tenaga juga sudah terkuras untuk melawan pengeroyok.


HWUUUSS TIIING


Dalam detik detik akhir, jarak sekira ujung jari pusaka kapak merah akan menyentuh kepala Dewa Lengan Seribu tiba tiba terpental dan berbelok arah.


Dalam kagetnya Lhu Tian Ji membentak


"Baj***an darimana berani berurusan dengan partai Kapak Merah" amarah Lhu Tian Ji makin menjadi jadi karena kapaknya ditangkis oleh seseorang dengan menggunakan kacang yang disambitkan, ketika dilihat ke lantai, kacang masih utuh tidak pecah sama sekali. Bahkan tangannya masih terasa panas akibat bentrokan senjatanya tadi, tanda bahwa pelempar biji kacang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.


"Jagoan macam apa beraninya hanya membokong orang??!"


Tidak tau bagaimana ceritanya tiba tiba saja Sin Liong sudah berdiri di samping Dewa Lengan Seribu yang berdiri membelakangi Lhu Tian Ji.


Sambil tersenyum ke arah Dewa Lengan Seribu, Sin Liong berkata


"Senior Han, maafkan yunior ini yang lancang mengganggu kesenangan Senior." dari cerita A San, Sin Liong dapat mengetahui riwayat tentang dewa Lengan Seribu


"Aaiihh Tuan muda, kamu ini bisa aja. Tua Bangka ini mengucapkan terimakasih karena tuan muda telah menyelamatkanku dari tindakan manusia manusia licik dan hina itu, kalau saja tidak tuan muda tolong, tubuh ini pasti sudah tidak bernyawa." ucap Dewa Lengan Seribu sambil menjura ke arah Sin Liong


"Aaaahh senior Han terlalu sungkan." "Senior Han sebaiknya istirahat dulu, selebihnya serahkan pada yunior yang bodoh ini" kata Sin Liong


Sin Liong berbalik menghadap ke Lhu Tian Ji dan berkata


"Lhu Pangcu kabar yang aku dengar Pangcu adalah orang yang bijak, melakukan segala tindakan sesuai dengan aturan bu-lim. Tapi hari ini Lhu Pangcu merendahkan diri dengan melakukan tindakan yang sangat memalukan" Sin Liong pernah mendengar cerita dari A San tentang partai Kapak Merah yang tergolong partai bersih, tapi hari ini ketuanya berbuat memalukan pasti ada sesuatu dibalik semua ini.


"Bocah ingusan tau urusan apa?" "Sebutkan siapa namamu dan siapa gurumu biar tidak terjadi kesalahpahaman kalau kelepasan membunuhmu!" umpat Lhu Tian Ji bersiap melakukan pertarungan dengan Sin Liong


"Lhu Pangcu, nama hamba Sin Liong, dan mohon maaf hamba tidak bisa menyebutkan nama guru, ada urusan sebaiknya diselesaikan baik baik, urusan ini sudahi saja sampai disini, besok ada waktu luang hamba yang rendah akan berkunjung ke markas Kapak Merah untuk meminta secawan dua cawan arak." sambil merunduk menjura Sin Liong mengerahkan tenaga dalam untuk menekan Lhu Tian Ji. Disaat yang sama Lhu Tian Ji merasakan dorongan yang sangat hebat dan mencoba menahan dengan mengeluarkan tenaga dalamnya, tapi sia sia, dorongan tenaga yang diberikan Sin Liong sungguh sangat hebat.


Dalam hati Lhu Tian Ji berkata

__ADS_1


"Siapa sebenarnya anak muda ini, tenaga dalamnya sangat hebat, pasti ada tokoh maha sakti di belakangnya. Kelihatanya anak muda ini tidak sesederhana penampilannya."


Sin Liong masih tersenyum memandang Lhu Tian Ji, "Bagaimana Lhu Pangcu, apa Pangcu keberatan dengan permohonan hamba yang lemah ini?"


Sebenarnya tindakan yang dilakukan Sin Liong untuk meminta Lhu Tian Ji undur diri sungguh sangat cerdik, dengan membahasakan dirinya hamba, tanpa merendahkan kedudukan Lhu Tian Ji sebagai seorang ketua partai dan tidak mempermalukannya di depan orang lain.


Orang bijak harus mengetahui gelagat, dengan perasaan mendongkol tanpa menjawab pertanyaan Sin Liong, Lhu Tian Ji segera mengajak anggotanya untuk undur diri.


"Semua kembali ke markas!"


Setelah rombongan Kapak Merah pergi Sin Liong berbalik ke arah Nyo Kongcu yang sedang berdiri gemetaran. Tadi ketika masih ada partai Kapak Merah dia bersikap sombong dan angkuh, tapi sekarang tidak ada lagi yang menyokong dirinya. Di bersiap siap untuk melarikan diri tapi Sin Liong tau apa yang ada didalam pikiran Nyo Kongcu.


"Nyo Kongcu, mau kemanakah, bukankah Kongcu mau membikin aku jadi perkedel, kenapa buru buru pergi?"


Dengan tubuh gemetaran Nyo Kongcu berkata


"Jangan kau kira aku takut dengan kalian, kalian hanyalah rakyat jelatah, mana pantas aku berhubungan dengan kalian!"


"Hmpm!!" Sin Liong hanya mendengus mendengar ucapan Nyo Kongcu


"Dengar kalian, jika masalah ini sampai aku adukan ke ayahku hehehe aku yakin kalian akan menyesal dilahirkan di dunia ini.!" "Hahaha, sudah takut? Hahaha tunggulah sebentar kalian akan merasakannya, menyesal telah terlahir di dunia, Hahaha!"


OOUUGH,,, OUUUGH,, HUEEEKK,,


"Mulut layaknya tong sampah yang diucapkan pastilah sampah, pantas juga kalau kau makan sampah!" tiba tiba gadis cantik itu berkata.


"Ka,, kaa,, kamu,, dasar lancang !"


Dengan kecepatan yang sangat luar biasa gadis cantik itu bergerak mendekati Nyo Kongcu dan


PLAAAKK...


Tiba tiba pipi kanan Nyo Kongcu kena tampar gadis cantik itu, langsung saja tergambar lima jari di pipi kanannya.


"Itu untuk hinaanmu padaku tadi !"


"Kam,,, !" belum selesai ucapan Nyo Kongcu tiba tiba


PLOOOOKKK....

__ADS_1


kali ini mulut Nyo Kongcu yang dapat giliran, bisa dibayangkan walau tangan gadis itu terlihat kecil mungil halus lembut, tapi akan berbeda jika itu adalah tangan seorang pendekar.


"Itu untuk mulutmu yang busuk !"


PLAAAAAKK...


"Dan itu untuk rencanamu membuat pelajar ini menjadi pergedel !"


Tamparan terakhir dilakukan gadis itu dengan sepenuhnya, karena dia sudah sangat jengkel dengan Nyo Kongcu. Tapi setelah mengucapkan kata itu wajah gadis itu jadi memerah karena malu telah kelepasan omongan. Padahal Nyo Kongcu tidak akan mendengar ucapan terakhir gadis tersebut, Nyo Kongcu sudah tak sadarkan diri jatuh tersungkur di lantai. Setelah berbasa basi sebentar Sin Liong dan kakek Dewa Lengan Seribu pergi meninggalkan rumah makan tersebut.


Kejadian tersungkurnya Nyo Kongcu segera menyebar seantero kota, banyak yang menyambut suka ria dengan kejadian itu.


Keesokan harinya Sin Liong pergi ketempat berkumpulnya partai Kapak Merah. Setelah bertanya kepada warga di sekitar dan memperoleh petunjuk Sin Liong akhirnya dapat menemukan tempat tersebut.


Sebuah gedung yang tinggi besar dicat dengan warna merah, pagar yang berdiri kokoh mengelilingi gedung. Di atas pintu gerbang tertulis nama Partai Kapak Merah di cat dengan tinta emas, dua orang penjaga berdiri dengan gagahnya.


"Permisi tuan penjaga, saya Sin Liong hendak bertemu dengan Lhu Pangcu kalian."


Dengan agak heran kedua penjaga gerbang memandang Sin Liong dari ujung kaki sampai ujung kepala, dengan perawakan dan penampilan seperti Sin Liong apakah mungkin ketua mereka mau bertemu.


"Anak muda, kalau tujuanmu ke sini untuk melamar pekerjaan aku katakan kalau tidak ada, karena sudah ada orang yang jadi guru baca dan tulis untuk anak ketua. Tapi kalau kamu mau menjadi perawat kuda mungkin masih ada."


"Mohon maaf tuan penjaga, saya sudah ada janji dengan Lhu Pangcu kalian." Sin Liong menjelaskan


"Heem heemm ada apa ini?" seorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah berewokan yang merupakan kepala penjaga bertanya kepada bawahannya


Penjaga gerbang segera mendatangi orang tersebut,


"Kepala penjaga, ini ada pemuda bernama Sin Liong ingin bertemu dengan Lhu Pangcu."


"Sin Liong? Kenapa tidak ngomong dari tadi, cepat bawa masuk Pangcu sudah menunggu!"


kemudian Sin Liong diantar kepala penjaga menemui Lhu Pangcu ke ruang pertemuan partai. Saat Sin Liong masuk disitu sudah ada beberapa orang yang mendampingi Lhu Pangcu, ada wakil ketua, ada penanggung jawab hukum, ada ketua bagian perlindungan partai dan beberapa orang lainnya.


"Salam kepada Lhu Pancu, semoga Luh Pangcu selalu sehat dan diberkahi Yang Maha Kuasa."


"Terima kasih anak muda, silahkan duduk." Lhu Pangcu sejak Sin Liong datang ke markas Kapak Merah merasa bersimpatik. Seorang pemuda yang sopan, rendah diri, sangat pemberani dan bertanggungjawab.


Pertemuan terlihat sedikit canggung, ada sebagian orang yang tidak terima dengan kejadian kemarin, sehingga tidak ada dari mereka yang mencoba membuka suara. Sin Liong dengan tenang duduk tanpa berkata apa apa. Sesaat setelah mengenalkan beberapa anggotanya kemudian Lhu Pangcu membuka omongan pada Sin Liong

__ADS_1


"Anak muda, urusan ini sudah merembet menjadi urusan partai, aku tidak bisa menjamin kau bisa keluar dari sini dengan selamat jika kamu tidak bisa memberikan jalan keluar yang memuaskan."


"Lhu Pangcu jangan terlalu risau, untuk sebuah kebaikan kita bersama saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa."


__ADS_2