Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Mendapat Teman


__ADS_3

Setelah berlari agak jauh Sin Liong berhenti dan berbalik sambil menyilangkan tangan kirinya ke belakang tubuh.


HOOOSSH... HOOSSH..


Dengan nafas ngos-ngosan salah satu dari mereka membentak


"Hei bocah bau kencur, serahkan semua hartamu atau kupotong lehermu !!"


"Apa kalian lihat aku banyak harta." sahut Sin Liong


"Halaaaah banyak omong, A Kwi cepat geledah anak tengik itu,,!" perintah salah seorang yang mungkin pimpinan gerombolan tersebut.


"Eeeiiit sebentar, mana pemimpinnya?" balas Sin Liong


"Aku, namaku Xing Yu berjuluk Si Tinju Besi penguasa hutan ini. Cepat serahkan semua milikmu."


"Heeeem jadi kamu kepala berandalan ini!" batin Sin Liong yang sudah tau tingkat beladiri gerombolan tersebut menyahut


"Tunggu sebentar tuan tuan, kita bikin taruhan."


"Hahahaha, muslihat apalagi yang kau rencanakan bocah tengik!" "A Kwi tangkap bocah itu !" seru Xing Yu


"Sebentar tuan-tu,,"


"Aaaaahh banyak cincong, cepat habisi bocah sialan itu !" serentak anggota gerombolan itu mengurung dan bersiap menghajar Sin Liong, mereka bergerak bersama menerjang, membabat, menusuk ke arah Sin Liong.


Sebelum mereka menyentuh Sin Liong tubuh mereka bergelimpangan ke tanah, sambil mengaduh aduh memegangi kepala dan muka masing masing. Tidak ada yang tau apa yang dilakukan Sin Liong, jurus yang dikeluarkan memang sangat cepat, terlihat Sin Liong hanya diam ditempat tidak bergerak sama sekali, padahal tadi Sin Liong menampar satu persatu dari lima anggota gerombolan tersebut dengan satu gerakan. "Memang hebat jurus Petir Menyambar Kerbau Menubruk milik guru, aku harus lebih berhati-hati lagi menggunakannya."


"Manusia apa siluman bocah tengik ini? Kenapa anak buahku tumbang semua?" pikir Xing Yu.


"Jangan kau pikir aku takut dengan sihir murahanmu itu bocah tengik, terima Tinju Bes,,,"


DESSSH BRAAAKK


Belum selesai ngomong tubuh Xing Yu melayang dan menabrak pohon terhantam oleh pukulan Sin Liong.


"Berisik,,,!!" umpat Sin Liong


Dengan santainya Sin Liong melanjutkan langkah kakinya meninggalkan berandalan berandalan yang bergelimpangan kearah dimana orang yang jatuh dari pohon tadi melarikan diri. Setelah naik turun bukit akhirnya Sin Liong menemukan orang tersebut sedang sembunyi di rumput yang tinggi.


"Hei kawan, sedang apa kamu disini?"

__ADS_1


"Sedang sembunyi !" tanpa menoleh kebelakang orang tersebut menjawab pertanyaan Sin Liong. Bajunya sudah basah kuyup oleh keringat, sedikit gemetaran lagaknya seperti orang dikejar setan.


"Kok sembunyi, emang ada apa?" sambil manggut manggut Sin Liong bertanya lagi.


"Hei bocah semprul apa kerjaanmu itu hanya ngageti orang aja, hampir saja kau buat copot jantungku." Sambil memegangi dadanya.


"Ya kan belum copot jantungmu!" Sin Liong mulai gusar dari tadi dipanggil bocah semprul.


Melihat tatapan mata Sin Liong orang tersebut agak jeri juga, akhirnya dengan dengan pelan pelan menjelaskan sambil mencari tempat persembunyian.


"Gini lho teman, kita sembunyi dulu, kalau kita tertangkap selesai sudah kita nanti dibantai sama mereka."


"Memang mereka siapa?" tanya Sin Liong


"Sssstt jangan keras keras nanti mereka dengar!"


"Halaaaah tenang aja, mereka sudah dihajar sama pendekar." jawab Sin Liong dengan santainya sambil melangkah keluar persembunyian.


"Huwaaaa,,, yang bener kamu kalau ngomong, siapa pendekar itu, apa kamu melihat dengan mata kepala kamu sendiri, apa mereka benar sudah keok, apa pendekar itu tidak mengejarmu, apa,,,??"


"Ceriwis...!!" jawab Sin Liong


"Aaaah ya sudahlah lupakan."


"Hei teman dari tadi kita berjalan bersama sudah ngomong ke kanan balik ke kiri tapi kita belum berkenalan."


"Hemmmm,," jawab Sin Liong singkat


Sambil menjura orang terebut memperkenalkan diri " Namaku Kwi San You, biasa dipanggil A San, aku bersal dari kota Jiujiang, namamu siapa dan berasal dari mana?


Dalam hati Sin Liong harus merahasiakan siapa dirinya, dia teringat tujuannya untuk mencari pembunuh keluarganya dan dalang dibalik semua kejadian itu. Sin Liong pun membalas, "Namaku Sin Liong"


A San membatin kenapa Sin Liong tidak mau mengatakan nama She keluarganya dan tempat asalnya, pasti ada sesuatu hal.


"Saudara Liong, kalau memang ada kesukaran untuk mengatakan She dan asal usulmu aku sebagai sahabat sangat memahaminya. Jangan dijadikan ganjalan dalam hati."


Setelah menyadari sikapnya Sin Liong pun turut menjura


"Tidak berani,, tidak berani, hanya saja aku masih ada tugas keluarga yang harus aku selesaikan, jadi mohon sahabat San You dapat memaklumi."


"Panggil saja aku A San, saudara Liong kita ini teman seperjalanan sudah aku anggap kau sebagai saudara sendiri, jangan terlalu sungkan.

__ADS_1


Pesanan makanan sudah datang mereka segara makan karena perut sudah lapar. Sambil makan mereka ngobrol menceritakan pengalamannya, tapi hanya A San yang berbicara sedangkan Sin Liong hanya sebagai pendengar sesekali tersenyum dan tertawa mendengar cerita menggelikan dari A San. Setelah agak lama bersama A San, Sin Liong merasa mulai cocok berteman dengan A San. A San orangnya suka ngomong, bercanda, periang, mempunyai perawakan lebih kecil dari Sin Liong, wajahnya halus matanya lentik, mulutnya kecil bibir tipis bisa dibilang sedikit lebih tampan dari Sin Liong hanya saja wajahnya agak kotor karena debu. Walaupun usia mereka sebaya atau bisa dikatakan lebih tua Sin Liong walau hanya beberapa bulan tapi pengalaman dan pengetahuan A San di dunia persilatan lebih luas.


Sin Liong berharap bisa mendapatkan informasi dari A San, atau paling tidak mendapat bantuan informasi untuk menyelesaikan dendam keluarganya.


"Sebenarnya tujuanmu pergi kemana saudara Sin Liong?" tanya A San


" Aku belum ada tujuan saudara A San, tapi ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi, Hengshan, disana ada keluarga yang harus aku temui. Tapi aku harus ke Hangzhou terlebih dahulu untuk menemui kerabat keluargaku.


"Waaaah tempatnya terlalu jauh, ada baliknya kalau kita menginap dulu disini, daripada kita nanti kemalaman di hutan, atau kalau kita jalan lebih cepat nanti malam kita sampai di kota Yuhang, tidak terlalu besar, tapi lebih ramai dari kampung ini, heheh."


Setelah membayar tagihan merekapun melanjutkan perjalanannya, tujuan mereka adalah kota di depan. Dalam perjalanan banyak sekali hal hal yang diceritakan oleh A San, terutama tentang keadaan pemerintah belakang ini. Kaisar Qin Shi Huang memerintahkan bawahannya untuk mencari obat keabadian atau obat panjang umur sampai ke pelosok pelosok desa. Qin Shi Huang juga menunjuk Xu Fu orang kepercayaan kaisar Qin Shi Huang yang menjabat sebagai alkemis atau penyihir dalam pengadilan kerajaan untuk memimpin pencarian obat keabadian tersebut.


" Saudara Liong tak terasa kota Yuhang sudah ada didepan, untuk memasuki kota kita harus melewati pintu gerbang kota yang dijaga prajurit penjaga kota. Tapi tenang saja serahkan semua padaku.


Setelah masuk kota mereka langsung menuju penginapan untuk istirahat. Setelah mencuci muka Sin Liong dan A San pergi keluar penginapan untuk melihat lihat keramaian.


Pada saat melintasi toko pakaian A San mengajak masuk untuk melihat lihat,


"Saudara Liong sepertinya pakaianmu harus diganti"


"Memang kenapa, pakaian ini masih bagus, dipakainya juga nyaman, saya suka pakaian ini.


"Iya saya paham, tapi pakaian itu sudah kuno, itu model pakaian pendekar pada ratusan tahun yang lalu. Gini aja nanti kalau sekiranya ada pakaian yang sesuai kita beli aja."


Paginya setelah istirahat dan membersihkan diri Sin Liong menuju tempat makan penginapan, ternyata disitu sudah ada A San yang sedang minum teh.


"Pagi Saudara Liong, huwaaah kamu kelihatan tampan dengan pakaian itu, mirip sekali seorang siucai (pelajar/sarjana) dari kota kerajaan. Sebaiknya mulai sekarang pakai pakaian seperti itu saja, lebih cocok hehehe."


"Baiklah."


"Sebaiknya memang aku memakai pakaian seperti ini, biar semua mengira aku adalah seorang pelajar yang lemah." berkata Sin Liong dalam hati


"Saudaraku apa jadi hari ini kau berangkat ke Hangzhou?"


"Sepertinya begitu saudara A San."


" Huuuft sangat disayangkan saudaraku, kita berpisah di kota ini. Aku harus pergi ke Utara ke kota Yinshan ada sesuatu yang harus ku urus. Ohya sebaiknya kau hati hati, di dunia ini banyak hal hal yang berbahaya, tipu muslihat dan kelicikan, sebaiknya jaga dirimu baik baik dan jangan muda percaya pada sembarang orang.


"Baiklah saudara A San, terimakasih sebelumnya."


Merekapun melanjutkan makan paginya karena pesanan sudah datang. Tidak ada kata yang diucapkan dalam acara makan pagi itu. Mereka hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang terucap keluar.

__ADS_1


Sebagai seorang sahabat tidak perlu untuk mengungkapkan isi hati dengan ucapan, masing masing sudah saling memahami. Begitu juga dengan A San dan Sin Liong, mereka saling memahami isi benak masing masing tanpa harus diucapkan.


__ADS_2