Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Nyo Kongcu


__ADS_3

Betapa indahnya suasana pagi yang cerah, udara terasa menyegarkan, matahari yang baru timbul menyinarkan cahaya keemasan belum menyilaukan mata, daun daun muda tumbuh d puncak pohon bermandikan cahayannya. Burung burung bernyanyi menyambut datangnya pagi. Betapa indahnya segala apa yang ada di sekeliling kita, tumbuhan tumbuh dengan subur, sungai mengalir jernih, hamparan sawah terbentang luas, sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan, semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa untuk dinikmati manusia. Hanya manusia manusia perusaklah yang tidak pernah bersyukur dengan nikmat yang diberikan Tuhan.


Seorang pemuda berjalan melenggang memasuki sebuah dusun yang ramai, wajahnya yang tampan banyak menarik perhatian orang yang lewat lebih lebih para wanita. Pemuda itu berpakaian seperti seorang siucai (pelajar) tampak berdiri di depan rumah makan. Sebuah rumah makan yang cukup besar berlantai dua.


"Tuan muda, tampaknya tuan muda datang dari jauh. Tuan muda mau makan? Mari silahkan masuk, rumah makan kami menyediakan berbagai macam masakan yang enak, hamba jamin tidak akan mengecewakan." sapa salah seorang pelayan kepada Sin Liong.


"Baiklah." Sin Liong diantar pelayan ke ruang lantai atas, ternyata hari itu pengunjung yang datang banyak sekali kebetulan ada meja kosong dekat cendela. Tempat yang sempurna untuk makan sambil menikmati pemandangan.


"Pelayan, tolong sajikan masakan terbaik di rumah makan ini." pinta Sin Liong


"Segera kami siapkan tuan muda, sambil menunggu silahkan menikmati teh wangi ini."


Baru saja pelayan pergi datang dua orang mendekat ke meja Sin Liong, Seorang kakek dan cucunya. Kakek tersebut walaupun sudah tua tetapi memiliki perawakan yang gagah, tubuh sehat dan tegap wajah kelihatan sehat berseri dan berpengaruh walau ada sedikit keriput tapi tidak mengurangi kegagahannya. Menandakan sekali bahwa kakek ini adalah ahli bela diri. Yang satunya adalah seorang gadis yang masih mudah berusia sekitar lima belas tahun, dara cantik jelita dengan dengan mata yang jeli, berseri dan berapi api menandakan bahwa gadis ini adalah anak gadis yang ceria.


"Tuan muda, apa keberatan jika kami berdua duduk semeja dengan tuan muda ?"


"Aih,, tidak, tidak,, mari, mari silahkan duduk." Sin Liong segera menjura dan mempersilahkan kedua kakek dan cucu sambil matanya melirik memandang takjub kepada dara cantik yang ada didepannya. Gadis yang dipandang akhirnya hanya bisa menunduk dengan wajah memerah karena malu.


Sejenak kemudian tampak pelayanan naik tangga dengan membawa pesanan Sin Liong dan kakek tersebut. Merasakan baunya masakan membuat perut Sin Liong semakin lapar. Tidak menunggu lama Sin Liong sudah sibuk dengan sumpit dan mangkuknya.Tidak ada dari mereka bertiga yang membuka suara masing masing sudah sibuk dengan hidangannya sendiri. Sedang asiknya Sin Liong menikmati hidangan. Tiba tiba ada keributan, banyak orang naik tangga loteng, mereka perpakaian seperti pengawal pemerintahan, disertai dengan bentakan bentakan kepada pelayan untuk menyiapkan meja perjamuan dan mengusir pelanggan lain yang sedang makan di lantai tempat Sin Liong berada.


Seorang pemuda dengan raut wajah menjemukan, bedak tebal, senyum mengejek selalu menghias di bibirnya, tatapan mata yang selalu merendahkan orang lain tampak naik tangga, diikuti para pengawalnya yang bertampang sangar dan menakutkan, bertubuh tinggi besar badan kekar dan membawa golok di punggungnya. Sejenak kemudian datang lagi empat orang berpakaian pendekar dengan muka tertutup kain. Pemuda tersebut tampak sangat menghormati tamu yang datang terakhir. Semua pengunjung sudah berlari meninggalkan mejanya masing masing, mereka takut kerembet masalah.


"Siapa tiga orang itu, kenapa tidak kalian singkirkan. Perlu kalian tau pertemuan ini tertutup, tidak boleh ada orang luar ikut campur." Kata pemuda itu kepada pengawalnya sambil matanya terus menatap wajah gadis itu penuh nafsu.


"Nyo Kongcu tidak perlu gusar, biar kami menanganinya."


"Tuan, semua meja di lantai atas sudah kami sewa, silahkan tinggalkan tempat ini sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan." kata salah satu pengawal kepada Sin Liong

__ADS_1


"Bukankah saudara juga tau, saya datang lebih awal makanan juga belum habis. Kalau ada keperluan masih banyak meja yang kosong" jawab Sin Liong


BRAAAAKK,,


"Dasar bocah tak tau diuntung, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar.!" salah satu pengawal menggebrak meja mencoba untuk menakuti Sin Liong.


Tapi bukannya takut, Sin Liong hanya tersenyum menanggapi gertakan mereka sambil tetap melanjutkan makan.


Melihat tingkah laku Sin Liong yang acuh tak acuh tersulut juga emosi pengawal itu, sambil mendekati meja Sin Liong dia menarik golok dari sarungnya.


Untuk mencegah keributan yang panjang kakek yang duduk dengan Sin Liong berdiri dan menjura


"Maafkan kami tuan pengawal jika tuan mau memakai tempat duduk saya, silahkan biar kami kakek dan cucu mencari tempat lain."


"Hahaha bagus, tau gelagat pula kau orang tua. Tapi hanya kau dan pelajar miskin itu yang boleh pergi, gadis cantik ini tetap tinggal."


"Orang tua, segeralah pergi dari sini. Aku berani jamin keselamatanmu dan untuk cucumu kuyakinkan akan menikmati kebahagiaan di sini hahaha." ucap Nyo Kongcu kemudian menambahkan. "Dan kau pelajar kere,, cepat menyingkir dari sini atau aku cincang kau jadi pergedel !"


Hawa membunuh segera memenuhi ruang makan dilantai atas, orang tua tersebut tidak bisa menahan amarahnya ketika mendengar cucunya sendiri hendak dipermainkan oleh Nyo Kongcu.


"Tuan muda, dari tadi kami sudah menahan diri untuk mengalah tapi kau sungguh kelewatan, jangan salahkan kami kau bertindak tidak sopan lagi!"


"Hahaha dasar tua bangka, kau pikir aku tidak tau siapa kau sebenarnya, kau antek Jendra Meng Tian berjuluk Dewa Lengan Seribu. Hari ini aku dapat membinasakanmu namaku akan terkenal di setiap pelosok negeri." umpat Nyo Kongcu.


"Aih, aih, aih,, pembual besar, Nyo Kongcu jangan kau kira aku si tua bangka ini tidak tau akal bulusmu. Dengan menjilat pantat Zhao Gao melebarkan kekuasaan menyengsarakan rakyat., sungguh hebat,, sungguh hebat..!"


Sambil menunjuk salah satu dari empat pendekar yang datang bersama Nyo kongcu, Dewa Lengan Seribu berkata

__ADS_1


"Hahaha dan kau ketua Partai Kapak Merah yang katanya orang gagah ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Mau maunya berkomplot dengan para penjilat."


Lhu Tian Ji, salah satu dari empat pendekar yang datang bersama Nyo Kongcu yang merupakan ketua Partai Kapak Merah geram dengan ucapan Dewa Lengan Seribu langsung menghujamkan serangan yang maha dahsyat. Si kakekpun tidak tinggal diam, langsung maju menyongsong serangan Lhu Tian Ji.


BOOOOMM BAAANNG...


Dua pukulan sakti bertemu di udara membuat bangunan rumah makan bergetar, isi ruangan lantai atas porak poranda, bagi yang ilmunya tinggi hanya tergetar jantungnya dan segera menyalurkan tenaga dalam untuk menahan hawa sakti, sedangkan yang ilmu beladirinya rendah langsung tersungkur.


Sin Liong yang masih duduk ditempatnya semula berdecak kagum, ternyata banyak orang sakti di dunia ini. Matanya melirik pada sang gadis dan ternyata gadis itupun tidak mengalami apa apa. Disaat yang sama si gadis cantik juga melirik pada Sin Liong, tatapan matapun saling bertemu wajahnyapun langsung memerah dan buru buru menundukkan kepala.


Lhu Tian Ji sedikit melenggak dengan kejadian barusan, jurus yang dilancarkan adalah "Sekali Hembusan Tanpa Nyawa" yang artinya sekali jurus dilancarkan musuh tidak akan melihat untuk kedua kalinya. Dengan jurus yang sangat termasyur tersebut Lhu Tian Ji pernah merajai di daerah selatan, tapi yang terjadi kakek itu masih berdiri kokoh ditempatnya.


"Hahaha ternyata Partai Kapak Merah selama ini hanyalah kumpulan orang orang to**l belaka, kenapa mereka mau menjadikanmu seorang sampah sebagai ketua partai." ucap Dewa Lengan Seribu.


Dengan kemarahan yang sudah memuncak Lhu Tian Ji segera bersiap untuk melakukan serangan berikutnya tetapi dicegah oleh bawahannya.


"Pangcu, untuk menyembelih ayam tidak perlu menggunakan golok kerbau, biar kami yang meringkus baj***an tua ini." Lhu Tian Ji mengangguk mengiyakan, dia ingin melihat sampai dimana kehebatan dari Dewa Lengan Seribu.


"Tua Bangka, menyerahlah. Akan kami pertimbangkan untuk mengampunimu!"


Sambil tertawa Dewa Lengan Seribu menantang


"Kalian majulah sekalian, untuk menghemat tenagaku, segara aku kirim kalian menemui Giam Lo Ong (Raja akhirat)" seru si Kakek


"Kuberi kau arak penghormatan, kau pilih racun, enyahlah kau tua bangka !!" merekapun maju bersama.


Pedang, golok dan senjata tajam lainnya menyerbu bagai ombak dan badai terbesar, serangan yang sangat dahsyat menerjang ke arah Dewa Lengan Seribu. Sin Liong tidak tinggal diam, sambil duduk memperhatikan setiap gerakan para penyerbu, dan bersiap untuk membantu Dewa Lengan Seribu apabila diperlukan.

__ADS_1


Tapi serangan tersebut bagai ombak yang membentur karang, tidak olah olah memang kemampuan Kakek ini. Sesuai julukannya "Lengan Seribu" dapat menghalau serangan yang datangnya bertubi tubi. Semua serangan yang datang silih berganti dapat dihalau oleh Dewa Lengan Seribu, bahkan ada sebagian penyerbu yang sudah terluka oleh balasan kakek sakti itu.


__ADS_2