
Di langit mega bergumpal gumpal, awan putih berarak arakan tertiup angin. Di sebuah lereng suatu sungai mengalir jernih berliku liku mengitari gunung layaknya seekor naga tertidur melingkar di atas gunung, hembusan angin semilir menyejukan dan menyegarkan. Sungguh karunia Tuhan yang tiada taranya.
Sebuah rumah mungil berdiri ditepian sungai diantara rerimbunan pohon bambu, rumah yang sangat sederhana, dinding terbuat dari bambu, meja kursi dan semua perabotan terbuat dari kayu dan batu. Tidak ada satupun yang mewah ada di dalam rumah itu.
Seorang gadis yang sangat cantik melangkah mendekati rumah itu, rumah yang dulu pernah membesarkannya, melindunginya dari panas dan hujan. Memandangi rumah yang sudah lama dia tinggalkan ada getar dalam hati merindukan sosok yang merawat dan membesarkannya sejak kecil.
"Guru,,, guru,,!!?" sunyi, tidak ada jawaban
"Kemana ya guru ??" batin gadis itu
"Guru,,, guru,, murid sudah pulang !" sambil berteriak teriak gadis itu mencari cari dimana gurunya. setelah sekian lama memanggil dan tidak bertemu dengan gurunya, gadis itupun masuk ke dalam rumah.
Sejenak kemudian dia keluar dan menuju suatu tempat
"Guru pasti berada di sana,,!"
Setelah berjalan beberapa lama langkah gadis itu terhenti karena melihat di tepian sungai ada dua sosok manusia yang sedang berdiri berhadapan. Sosok tersebut adalah gurunya dan yang satu adalah seorang Nikouw (pendeta wanita). Dalam benaknya gadis itu bertanya tanya siapa adanya Nikouw tersebut "Apa mungkin guru punya hubungan khusus dengan seorang Nikouw, xixixi mana mungkin, orang jelek seperti itu siapa juga yang mau !"
"Hei bocah semprul, buang jauh jauh otak kotormu itu !" sebuah suara menyadarkannya, dan ketika dia memandang ke arah gurunya si Nikouw sudah tidak ada ditempat. "Huwaaah sungguh hebat !!"
"Guru Lie, siapa Nikouw tadi, ilmu menghilangnya sangat hebat ?!" setelah dekat gadis itu bertanya pada gurunya yang tak lain adalah Lie tua si Tikus Bermata Giok
"Dasar bocah semprul, pulang pulang yang ditanya malah orang lain, sudah puas kamu main main di luar sana!"
"Aaiihh maafkan murid guru Lie, tadi murid hanya kagum pada nikouw tersebut. Apa selama ini guru Lie baik baik saja?" amarah Tikus Bermata Giok itupun reda.
Sebenarnya Tikus Bermata Giok tersebut tidak pernah marah pada murid satu satunya ini. Murid yang sudah dianggap anak sendiri, dibesarkan dan dirawat sejak kecil hingga dewasa
"Heemmph Giok'er, banyak yang harus aku sampaikan, mari kita ke rumah dulu." ajak sang Tikus Bermata Giok.
__ADS_1
Sesampainya di rumah
"Giok'er sudah hampir satu tahun kamu meninggalkan rumah, pasti banyak pengalaman yang kau dapatkan."
"Iya guru, banyak sekali kejadian yang kualami, ternyata di luar sana banyak orang jahat."
"Ohya guru Lie, siapa Nikouw tadi, sepertinya guru Lie sangat akrap dengan Nikouw tadi." tanya Giok'er
"Ooo dia sahabatku, nanti aku ceritakan. Giok'er usiamu sekarang sudah 16 tahun, sudah saatnya kamu mengetahui asal usulmu."
Lima belas tahun yang lalu, ketika itu yang memegang kekuasaan adalah dinasti Zhou bisa dikatakan masa-masa peperangan, dimana banyak negara-negara kecil yang saling berperang merebutkan kekuasaan. Ada banyak kerajaan kecil yang sering melakukan penyerbuan untuk memperluas kekuasaan diantaranya ada kerajaan Qin, Han, Zhao, Wei, Yan, Chu dan masih banyak lagi negara negara kecil lainnya. Rakyat banyak yang menderita dengan keadaan ini, begitu pula dengan para bangsawan, setiap saat nyawa mereka dapat terancam.
Suatu ketika terjadi penyerangan oleh negara Qin ke negara Han. Banyak rakyat yang menjadi korban dari keganasan perang pada waktu itu. Seperti halnya keluarga besar bangsawan Shu, untuk melindungi keluarganya banyak diantara mereka jadi korban dalam kejadian itu. Pada waktu terjadi penyerangan ke keluarga Shu, ada bayi kecil yang dibawa lari oleh salah satu pengasuhnya dan kebetulan pada waktu itu di tolong oleh seorang Nikouw pada saat saat kritis dimana pengasuh itu tertangkap oleh para penyerang.
"Saat itu aku tidak sengaja lewat dimana rumah mereka sudah sebagian dimakan api, aku coba mencari apakah ada yang bisa diselamatkan, tetapi tidak ada satupun yang selamat."
"Aaaahh sungguh kasihan bayi itu."kata Giok'er
Tikus Bermata Giok mengambil sesuatu dari dalam sakunya,
"Giok'er, ini adalah giok dan buku catatan kecil yang ada bersama bayi itu, giok itu terukir nama Shu, dan dalam buku catatan tersebut diceritakan tentang penghianatan dalam keluarga besar Shu yang menyebabkan hancurnya keluarga bayi itu"
"Giok'er bayi itu adalah kamu!"
"Jad,,, jadi,,,!?"
"Iya benar, bayi itu adalah kamu Giok'er, namamu sebenarnya adalah Shu Giok Hong."
Seketika itu Giok Hong langsung menangis sejadi jadinya, mengingat bahwa keluarganya menjadi korban perang. Banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya, apakah harus membalas dendam, apakah harus mencari keluarganya yang lain, sedangkan sekarang kemampuan beladirinya masih terlalu rendah.
__ADS_1
"Suthay, silahkan masuk." Tikus Bermata Giok mempersilahkan seorang Nikouw untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Terima kasih Lie tua." Lo In Suthay kemudian duduk menghadap ke Giok'er yang masih menangis sesenggukan.
"Giok'er, anakku yang cantik, jangan terus larut dalam kesedihan. Masa depanmu masih panjang anakku, banyak hal yang mesti dilakukan. Kehilangan keluarga disaat perang adalah hal yang wajar, berbuatlah kebaikan untuk membalas budi kebaikan orang tuamu, angkat kembali kebesaran nama besar keluargamu biar orang tuamu bisa tersenyum di atas sana." Nikouw itu berbicara panjang lebar menasehati Giok Hong
"Terima kasih Suthay, tapi apa yang harus aku lakukan, ilmu beladiri yang kupunya terlalu rendah." jawab Giok Hong
Lo In Suthay tersenyum dengan jawaban Giok Hong, berarti besar harapan Giok Hong untuk tidak larut dalam kesedihan.
"Giok'er, beladiri yang kau miliki tidak buruk, hanya perlu sedikit dilatih. Itu karena dulu kamu terlalu dimanja sama gurumu." kata Nikouw itu sambil mengerling ke arah Tikus Bermata Giok.
"Mulai sekarang kamu akan berlatih dibawah bimbinganku dan aku akan menurunkan semua kepandaianku kepadamu sesuai dengan janjiku lima belas tahun yang lalu." tambahnya.
"Terima kasih guru, murid tidak akan mengecewakan guru." jawab Giok'er sambil bersujud didepan Lo In Suthay
"Giok'er, mulai saat ini Lo In Suthay adalah gurumu, semua yang dulu pernah kuajarkan padamu akan disempurnakan oleh Lo In Suthay. Dulu aku terlalu memanjakanmu yang membuat beladirimu kurang berkembang. Belajar dan berlatihlah dengan tekun aku yakin kamu pasti berhasil."
"Dan satu lagi, hari ini aku akan pergi untuk waktu yang tidak pasti kapan akan kembali. Jadi setelah kamu menyelesaikan latihanmu pergilah ke markas Kapak Merah, bilang kalau kamu adalah cucuku, disana nanti kamu akan tau langkah apa yang mesti kau tempuh."
"Guru,,, guru Lie akan pergi kemanakah?" "Baru saja murid pulang, guru Lie sudah mau pergi."
"Giok'er, ada sesuatu yang harus kulakukan. Di dalam kotak ini ada berbagai obat dan tanaman langkah yang bisa meningkatkan tenaga dalammu, pakailah sesuai petunjuk guru Lo In Suthay."
" Sekali lagi kamu yang baik-baik dengan guru Lo In Suthay, dengarkan semua yang dikatakannya.!"
"Baik guru Lie,, berhati-hatilah,,"
Dan sejak saat itu Shu Giok Hong berlatih dibawah bimbingan guru Lo In Suthay toko persilatan angkatan tua yang namanya pernah menggemparkan bu-lim dengan sepak terjangnya yang telengas dan tidak pandang bulu.
__ADS_1