Kisah Para Naga

Kisah Para Naga
Oran Tua Tak Bernama


__ADS_3

Dikisahkan sebelumnya, sesaat setelah tubuhnya terjerumus ke dalam jurang banyak keajaiban yang dialami Sin Liong, tubuhnya yang terlilit akar akar halus beracun setelah empat puluh hari akar akar tersebut mulai melepaskan tubuh Sin Liong. Tubuhnya terlentang di dasar jurang, tubuh yang baru terbebas dari racun bahkan sekarang tanpa disadarinya Sin Liong memiliki tubuh yang kebal terhadap segala racun. Ketika membuka mata Sin Liong bingung dimana sekarang berada


"Dimanakah ini,, kenapa gelap sekali, apakah ini yang dinamakan neraka seperti yang aku baca di kitab pemberian ayah?" benak Sin Liong bertanya tanya


KRUUYUUUKK,,, KRIIUUYUUUKK..


"Aaaahh perutku lapar banget, biar aku cari makanan dulu siapa tau bertemu ayah dan ibu disini".


"Ayaaaahh,, Ibuuuu,,,!!" Sin Liong berteriak mencoba memanggil orang tuanya.


Setelah berjalan beberapa langkah Sin Liong menyadari ada keanehan dalam dirinya, rasa sakit yang selama ini dialaminya sudah tidak terasa lagi, tubuhnya terasa segar, semakin yakinlah dia bahwa dirinya sekarang sudah meninggal.


Tapi yang menjadi ganjalan dalam benaknya kenapa orang mati kok merasa lapar, "aneh,,,!!" mungkin itu yang ada dalam pikirannya. Sin Liong terus berjalan mengelilingi dasar jurang, hanya batu batu besar dan kecil berlumut yang ditemukan. Semua hewan melata yang berbisa pada lari menjauh, tidak ada satupun yang mendekat.


Suatu ketika dia menemukan segerombol tanaman mirip jamur yang bercahaya kebiru biruan, diambilnya kemudian diperhatikan "Apa ini bisa dimakan,,??" Terus diperhatikan dan akhirnya dimakan juga "Orang sudah mati mau makan apa aja emangnya takut apa,, masa mati lagi,, bodoh aaah,, makan aja." tanpa disadari Sin Liong mendapat berkah yang tak terhingga, tanaman tersebut adalah jamur usia seribu tahun, bisa meningkatkan tenaga dalam dan kekuatan.


Setelah makan Sin Liong pun akhirnya tertidur. Setiap hari hanya itu itu saja yang dilakukan, mengumpulkan jamur untuk persediaan makan, berkeliling didasar jurang sambil berteriak teriak memanggil orang tuanya.


Waktu berjalan begitu cepat sudah dua tahun Sin Liong berada di dasar jurang, yang akhirnya membuat sifatnya berubah jadi pendiam dan dingin karena tidak ada teman bicara. Suatu ketika ada kejadian yang membuat Sin Liong mulai dapat tersenyum, ketika itu dia baru bangun dari tidurnya karena merasa ada yang menggoyang goyangkan tubuhnya, ternyata itu perbuatan seekor monyet kecil. Seekor monyet berbulu emas, monyet yang menurut cerita adalah monyet yang sudah hidup ribuan tahun.


Sin Liong terkejut dan sangat gembira karena selama dua tahun ini tidak ada yang menemani kesehariannya, sekarang dia bisa bermain bersama monyet emas tersebut. Setiap hari monyet emas itu mencarikan buah buahan untuk makanan Sin Liong, buah buahan tersebut memiliki khasiat semuanya tidak hanya memberikan kesehatan tapi juga memberikan kekuatan tubuh Sin Liong. Pandangan mata Sin Liong jadi makin tajam, begitu juga pendengarannya.


"heeeii saudara kecil kemana lagi kita hari ini,,??" kata Sin Liong suatu ketika


"Nguik nguik,, cit cit ngak,,!!" jawab monyet emas sambil menunjuk nunjuk arah. Senantiasa monyet emas mengajak Sin Liong berlari lari naik turun bebatuan sambil mengajarkan gerakan gerakan dasar ilmu silat yang menurut Sin Liong adalah gerakan yang aneh dan lucu tapi bermanfaat juga karena bisa mengatasi kelemahannya terhadap kondisi dasar jurang, tanpa disadari oleh Sin Liong dia sudah menguasai dasar ilmu silat yang dahsyat, ilmu silat yang pernah menggemparkan dan menguasai dunia persilatan ratusan tahun yang lalu.


Tak terasa sudah tiga tahun monyet emas menemani Sin Liong, sekarang usianya sekarang sudah dua belas tahun. Hari itu monyet emas mengajak Sin Liong pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi olehnya, sebuah goa yang tertutup tumbuhan alang alang "ternyata ada goa disini,," benak Sin Liong.


"Saudara kecil kenapa kamu tidak pernah menunjukkan tempat ini ??"


"Ngak ngik ngak,," sambil menarik narik celana Sin Liong untuk diajak masuk goa tersebut.


Sambil berjalan Sin Liong memperhatikan sekitar goa, ternyata goa tersebut pernah ditinggali oleh seseorang entah berapa ratus tahun yang lalu, di dalam goa terdapat tempat tidur meja dan kursi yang semua terbuat dari batu, juga terdapat beberapa ruangan. Monyet emas terus mengajak Sin Liong untuk masuk kedalam suatu ruangan, tidak masalah buat pengelihatan Sin Liong karena sekarang Sin Liong dapat melihat di tempat gelap seperti siang hari karena khasiat dari buah dan jamur ribuan tahun.


Setelah sampai di sudut ruangan monyet emas menggerakkan tuas kemudian terbukalah suatu pintu secara otomatis, setelah maju beberapa langkah terdapat seorang yang sedang duduk bersila semua wajah tertutup tudung dan tubuh terbungkus kain yang sudah lusuh dan usang tidak kelihatan masih hidup apa sudah mati, monyet emas bersujud seolah olah sedang memberikan hormat kepada orang yang sangat dihormatinya, awalnya Sin Liong hanya berdiri terpaku dalam benaknya berpikir apa yang saudara kecil lakukan, apakah dia sedang menghormati tuannya. tidak ada salahnya jika aku juga melakukannya, dia kan saudara kecilku. Ketika Sin Liong bersujud tidak sengaja menemukan tulisan yang kecil kecil terukir dilantai goa.

__ADS_1


Anak manusia engkau berjodoh denganku, bersujutlah tiga kali dan engkau akan menjadi penerus ku. Segala ilmu kesaktian ini kuwariskan kepadamu, perangi kejahatan lindungi yang lemah. Jika kamu melanggarnya langit akan menghukummu.


Orang tua tak bernama.


"Mungkin inilah tuan dari saudara kecil, tidak ada salahnya jika aku menjadi muridnya, dan juga aku harus membalaskan dendam keluarga. kalau aku bisa keluar dari sini akan ku lakukan semu perintahnya".


Sin Liong kemudian bersujud dan berjanji untuk melaksanakan semua perintah gurunya.


Suatu kejadian aneh terjadi tangan orang yang sedang bersila tadi mulai terjulur menyentuh pundak Sin Liong tangan tersebut hanya terlihat jari telunjuknya saja jari tersebut sudah tidak ada kulit maupun daging hanya tulang kerangka manusia, setelah tersentuh jari tersebut, tubuh Sin Liong bergetar, semakin lama semakin keras. Hanya kekerasan hati Sin Liong yang menguatkannya, sakit yang dirasakan tidak terkirakan, keringat sebesar jagung bercucuran dari tubuh Sin Liong, hampir saja Sin Liong pingsan.


Setelah sepeminuman teh lewat tubuh Sin Liong mulai berhenti bergetar, sakit yang dirasakan pun lambat laun mulai mereda, Sin Liong sudah bisa menguasai diri. Proses penyaluran tenaga dalam usia ratusan tahun sudah berhenti, tubuh orang tua tak bernama yang tinggal kerangka akhirnya jatuh sendiri hancur menjadi debu debu.


Setelah menguasai diri dengan dibantu oleh saudara kecilnya, Sin Liong bersujud kembali dan mengucapkan terimakasih telah diterima sebagi murid dan akan melakukan semua perintah gurunya, memerangi kejahatan dan melindungi yang lemah. Sin Liong segera mengumpulkan kembali sisa sisa debu dari orang tua tak bernama untuk dikuburkan didalam goa.


Monyet emas mengajak Sin Liong masuk ke ruangan lain, disitu terdapat beberapa buku kitab dari kulit kambing dan gambar gambar gerakan silat yang ada di dinding ruangan tersebut. Setelah diperhatikan ternyata gerakan gerakan dari gambar yang didinding tersebut mirip dengan yang diajarkan monyet emas kepadanya.


Sejak saat itu Sin Liong mulai tekun mempelajari gambar gambar yang ada didinding dan buku buku peninggalan orang tua tak bernama. Buku buku tersebut berisikan tentang pelajaran ilmu silat yang sangat langkah serta pelajaran tentang ilmu pengobatan. Hari demi hari dilalui dengan berlatih silat dan membaca buku kitab, monyet emas selalu menemani Sin Liong dalam berlatih silat dan menyediakan makanan buat Sin Liong.


Tanpa terasa sudah lima tahun Sin Liong berlatih ilmu beladiri yang diwariskan Orang tua tak bernama, sekarang Sin Liong tumbuh menjadi pemuda usia tujuh belas tahun, seorang pemuda yang sangat tampan. Dengan ketekunannya berlatih Sin Liong menjadi seorang pemuda yang pandai ilmu beladiri dan sastra.


****


"Naaah ini ada pohon yang paling besar dan tinggi,, biar aku naik,, aaahh andai saja saudara kecil mau ikut bersamaku mungkin aku tidak akan bersusah payah naik pohon,,!!" Sin Liong ngomel sendiri ngalor ngidul mengutuk nasibnya. Monyet emas memang tidak mau mengikuti Sin Liong, monyet emas sebagai hewan yang pernah menjadi peliharaan orang tua tak bernama ingin menjaga pusara orang tua tak bernama sampai akhir hidupnya.


"Heeeemm akhirnya ketemu juga, ternyata arahnya kesana,," batin Sin Liong


Sesaat kemudian dia berjalan menyusuri hutan menuju perkampungan terdekat, harapan Sin Liong adalah segera mencari informasi tentang kampungnya, kampung yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya, tempat dimana dia pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


Tiba tiba ditengah perjalanan terdengar beradunya senjata


"Sepertinya ada pertarungan, coba aku lihat kesana."


Dua orang sedang melawan empat orang yang mengurungnya, mereka saling tebas saling tusuk tapi layaknya orang yang sedang berlatih, semua jurus yang dipakai sama, Sin Liong jadi heran.


Setelah agak lama diperhatikan ternyata ada seorang yang sedang mengawasi mereka bertarung dari tempat yang lumayan jauh, orang itu duduk di dahan diatas pohon.

__ADS_1


"Melihat tampangnya bukan orang jahat, coba aku dekati". dengan ilmu meringankan tubuh Sin Liong naik keatas pohon dan hinggap di sebelah orang tersebut


"Seru ya perkelahiannya..!!"


"Iya seru banget,, hei,, hei,,, siapa kam,,, waduh maknyaaa,,?!!"


KROSAAK,, CEKLAAAKK,, KRUOSAAAAKK,, GEDEBUUUG..


Belum selesai ngomong orang tadi jatuh dari atas pohon karena tiba tiba saja Sin Liong nongol disampingnya dan mengagetkan.


"Kampret,, sialan kamu bocah semprul, lihat pantatku jadi besar sebelah,, haduuuhh,,,". umpat orang itu sambil mengaduh aduh.


"Hei,, siapa itu,,,!!" Pertarungan langsung terhenti salah satu dari mereka berteriak


"Cepat keluar,, atau kami penggal kepalamu"


Masih belum ada jawaban


"Sssstt,,!!" sambil melihat ke arah Sin Liong orang yang jatuh tadi memberi isyarat Sin Liong untuk diam.


Keenam pendekar yang sudah tidak bertarung kemudian celingukan ke kanan kiri mencari asal suara tadi.


"Heeeii setan alas,,, siapa disitu kalau berani jangan main sembunyi sembunyi, atau kami potong potong tubuhmu,,!! teriak salah satu dari keenam orang itu.


"Aduuuuuhh gimana iniii,,," batin orang yang jatuh tadi.


Dengan tersenyum Sin Liong menjawab


"Babiiii,,, ngoook ngoook"


"Ooooo cuma **** aja kakak, sudah biarkan saja ngapain dibikin pusing.."


"Gila kamu,,, kenapa **** bisa ngomong ****,, guoblookk,,, cepat tangkap mereka,,!!"


"Dasar bocah semprul, bikin masalah aja,, cepat lariii..!!" Sambil mengumpat sumpah serapah lari tunggang langgang meninggalkan tempat persembunyiannya diikuti oleh Sin Liong.

__ADS_1


"Heeeii jangan kabur baj***an,," keenam orang yang tadi bertarung segera melesat mengejar Sin Liong.


__ADS_2