
Part I
Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.
Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. Pada hari itu juga, saat saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik,
hampir saja membuatnya jatuh. "Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.
Saat saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, "Akan kusuruh malaikat menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"
Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku, dan ada yg hanya menulis 3 huruf singkat, 'RIP'.
Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yg aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.
Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sekacau itu. Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilannya yg mengajakku mengobrol, aku selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, lalu aku lihat anak2ku.. Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asik dengan ponselku, saat mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.
lalu aku melihat tujuh hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.
Namun, aku melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak2ku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat dia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku?
Oh Ya Allah Maafkan aku..
Hari ke 40 sejak aku tiada.
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.
Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah bisa tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan aku datang.
Lalu 15 tahun berlalu.
Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai keliatan guratan tua dan lelah diwajahnya, dia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa ini hari jumat, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putriku malam itu, dia menulis.. "Seandainya saja aku punya papah, pasti tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku, tidak akan aku lihat mamah sakit2an mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil papahku, aku butuh papahku Ya Allah.." kertas itu basah, pasti karena airmatanya..
__ADS_1
Ya Allah maafkanlah aku..
Sampai bertahun2 anak2 dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, agar aku selalu berbahagia diakherat sana.
Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..
Pelan-pelan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik mereka..
“Anakku, papah sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
“Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.
Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali aku sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku istriku, maafkan aku.
Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, aku tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.
Aku matikan ponselku dan aku pejamkan mata, maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku..
keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan sekali
Part II
__Andai Saja__
Ku pandangi lekat-lekat wajahnya. dia tertidur pulas,mungkin terlalu lelah tubuhnya siang tadi bekerja. menopang kami berdua utk mencari nafkah. tiba-tiba hp ku berbunyi. pesan masuk.
"udh tdur?"
aku menghela nafas, tapi senyuman yg tersungging ini tak dpt ku tahan. pikiranku melayang,jauh ke belakang. 10 tahun silam. di masa sekolah SMA. memang benar kata orang, masa-masa SMA memang masa yg paling indah.
__ADS_1
Ah,,,andai saja. andai saja kau dan aku masih bersama. andai saja pertengkaran itu tak pernah ada. andai saja kau memahami kondisiku saat itu. andai saja kau tak menghindar saat aq mendekat. andai saja kau tak menghilang disaat aq membutuhkan. hanya kata" andai saja" yg ku punya sekarang.
sempat membencimu karna kau tak menemaniku saat aku benar-benar butuh kepastian darimu. andai saja kau menemaniku disaat semua orang bertanya dan mendesak, "menikahlah". dan disaat semua rasa dilema yg ku punya, dia hadir untuk memastikan kepada orang tuaku bahwa dia pantas menjadi imam dan penanggung jawab seluruh hidupku. mau berkata apa lagi? cuma kata " iya, aq bersedia" itu saja yg ku punya. di banding harus terus menanti kumbang yg entah kemana ia terbangnya, disaat bunga sedang mekar-mekarnya.
hidup yg kujalani setelah pernikahan memang tiada kurang. dia memang pantas. penuh kesabaran dia membimbingku untuk mempunyai sifat kedewasaan. tapi taukah kau, isi hatiku seolah membisikkan penolakan. andai saja dia itu kau. dan sesering apapun aku menepis bisikan itu, sesering itu pula wajah dan kenangan kita terbayang.
dan sekarang, setelah bertahun- tahun kau tak ada kabar, setelah aku sedikit terlupakan, kau datang lagi membawa kabar. terkadang hati kecil mengatakan, kau membawa angin segar untuk semua penantian dan pengharapan. tapi kemudian aq tersadar, kau itu seolah hanya membawa badai pasir yang akan memporak-porandakan taman hati yg slama ini masih penuh kebimbangan. tak taukah kau, aku kini telah ada di jenjang pernikahan?
tak terbayang, apa jadinya bila aku memilih meninggalkan pertalian ini. apa aku masih akan dihormati ? apa aku masih akan dihargai?
apa aku masih mendapat sanjungan ?
entahlah !
lamunanku tersentak. pesan darimu kembali datang. "aku kangen"
taukah kau, pesanmu ini sungguh mencampur adukkan perasaan hatiku. betapa tak terbendung rasa bahagia di hati ini. tapi di sisi lain, seolah ada pemberontakan. mengapa baru sekarang? andai saja sedari dulu kau ucapkan, aku tak kan mengiyakan permintaan dia. dan kita pasti kan bahagia bersama, tanpa ada rasa dilema karna ketidakpuasan takdir seperti yg ku punya. andai saja..
ku matikan ponselku. dan mengambil kartu selulernya. kalo besok dia bertanya kenapa, ku jawab saja sudah kadaluarsa.
kudekati tubuhnya, meraih tangan dan menciumnya.
"akan ku tata kembali hatiku yg bertahun-tahun ini penuh kebimbangan. akan ku coba meyakinkan, kalau semua pertanyaan yg aku punya, hanya kaulah jawabannya.."
ku kecup kening nya, menggenggam erat tangannya.
pelan-pelan, akan ku lupakan kenangan yg terus membelengguku. akan ku coba menghapus kata "andai saja" yg slama ini melingkupi hati dan jiwa. membuang jauh semua rasa yg slama ini masih ada.
semoga saja kau beserta bayangan kenangan masa lalumu dapat segera menghilang dari ingatanku.
Ya,,, Andai Saja....
__ADS_1