
bab 1 (Pertemuan pertama)
Rania Shanum, gadis berusia 16 tahun yang sedang menyesap rokoknya dalam-dalam. Kemudian menghembuskan asap rokok itu bersamaan dengan beban hidup yang selama ini ia pikul sendiri.
“10 juta untuk semalam Rania, bagaimana? Lagipula besok kau libur sekolah kan? Om Boy adalah pengusaha kaya. Jika kau mau, kau bisa mengambil kekayaannya untuk membayar semua hutang orang tuamu.”
Gadis bernama Rania itu kemudian terdiam, ia beralih mengganti pakaiannya dengan dres yang sangat sexy. Wajah yang penuh makeup dan juga penampilan wanita nakal yang tidak sesuai dengan umurnya. Kemudian Rania terkekeh.
“Aku setuju, lagipula itu tarif yang lumayan. Kau tahu jika Ibuku bisa mendapatkan uang yang lebih dari menjajahkan tubuhnya. Dan akhirnya aku bisa menjadi sepertinya kan Din? Bahkan dari kecil aku sudah melihat kehidupan yang seperti ini.” Rania tertawa lebar, saat ia melihat di depan kaca. Pantulan dirinya terlihat jelas disana, betapa menjijikkan.Tak ada lagi kesucian yang harus Rania banggakan. Setetes air matanya pun jatuh, bersamaan dengan dada yang terasa sesak.
“Jangan menjadi lemah Rania, jangan pernah berfikiran untuk berhenti. Kau mau kena siksa lagi karena tidak bisa menjadi yang diinginkan orang tuamu? Kau hanya terlahir dari orang tua yang bahkan tidak pernah mengharapkanmu untuk hidup.”
Rania menoleh kepada Dina, satu-satunya teman yang Rania punya. Mereka menghentikan pembicaraan dan bergegas keluar dari ruang ganti, menuju ruangan karaoke dimana mereka bekerja. Beberapa lelaki paruh baya yang memakai pakaian kantor sudah duduk di kursi, menatap kedua gadis itu sambil meneguk ludah. Tubuh yang proposional, wajah yang cantik dan juga bebarapa minuman alkohol yang dibawa diatas nampan.
“Om Boy yang memakai kemeja warna kuning.” Bisik Dina di telinga Rania. Rania dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Kemarilah Sayang, mari kita bernyanyi dan juga bergoyang.”
Kedua gadis muda itu berjoget sesuai perintah mereka, banyaknya uang yang dihambur-hamburkan tepat mengenai tubuh Rania dan juga Dina. Namun itu belum cukup, karena nantinya mereka akan berakhir di atas ranjang.
Beberapa jam kemudian, lelaki yang biasa disapa akrab Boy itu menarik tangan Rania dan mengajaknya untuk menjauh dari ruangan karaoke. Memilih kamar yang sudah ia pesan, keadaannya yang mabuk membuat lelaki paruh baya itu sangat sulit berjalan. Hingga harus meminta bantuan oleh Rania.
“Berat,” lirih Rania saat sudah sampai di kamar dan mendorong tubuh Om Boy di atas kasur. Ia memegangi pundaknya yang merasa sangat pegal karena membantu lelaki itu berjalan.
__ADS_1
“Saya juga punya anak lelaki seusia denganmu. Tapi saya tidak ingin ia menjadi seperti Papanya, yang hanya menghabiskan hidup untuk selingkuh dan bermain dengan gadis muda. Bahkan ia sangat membenci saya, setelah kematian Mamanya karena tahu apa yang saya lakukan selama ini.”
Malam itu, Rania menghabiskan dua jamnya untuk melayani Boy layaknya suami dan istri. Ia terbangun dari tidurnya dan melihat cek kertas yang bertuliskan nominal 10 juta. Merasakan tubuhnya yang sangat nyeri dan sakit. Rania selalu mempersiapkan semuanya agar ia tidak hamil.
“Aku harus pulang,” ujarnya dengan memakai kembali pakaian yang berserakan di lantai. Lalu mengambil kertas cek dan memasukkan ke dalam tas. Rania keluar dari kamar itu dengan langkah gontai, memegangi perut yang terasa sangat sakit. Kemudian ia Berdiri di depan tempat karaoke sambil menunggu taksi, berharap jika ia bisa cepat pulang dan langsung beristirahat di rumah.
“Sakit.”
Disaat Rania melihat klinik yang masih buka, ia ingin pergi kesana untuk membeli obat pereda sakit perutnya. Tanpa menyadari bahwa ada mobil yang sedang melintas dan menabrak tubuh Rania hingga membuat gadis itu terjatuh di jalanan.
“Bang, kita nabrak orang,” gumam seorang gadis berpakaian syari yang duduk disamping lelaki yang sedang menyetir. Lalu gadis yang bernama Zahra itu langsung turun dari mobil, kemudian diikuti oleh Abangnya.
Zahra mengamati dengan seksama wajah gadis yang ada dihadapannya,“ Ya Allah, ini temannya Zahra. Namanya Rania, Bang Zidan bantu bawa ke dalam mobil.”
“Kamu yakin itu temanmu Dek?” tanya Zidan seolah tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh Zahra barusan. Ditambah penampilan Rania yang tidak seperti seorang anak SMA.
“Yakin Bang, tolong bantuin teman Ara Bang.”
“Bang Zidan! Ini demi keselamatan Rania, Zahra tahu kalau Abang gak mau menyentuh yang bukan makhram tapi bagaimana jika dia kenapa-kenapa. Kita yang berdosa karena tidak mau membantunya Bang.”
Zidan terdiam, apa yang dikatakan oleh adiknya itu benar. Tapi ia merasa ragu karena membantu Rania artinya ia akan menyentuh tubuh gadis itu, sedangkan selama ini ia selalu menjaga kehormatan perempuan dan juga menjaga dirinya agar jauh dari fitnah.
‘Maafkan hamba karena sudah menyentuhnya ya Allah, Engkau maha tahu bahwa apa yang dilakukan hanya untuk membantunya.’
__ADS_1
Secara perlahan meski ragu, akhirnya Zidan mengangkat tubuh Rania dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Memasukkan Rania ke dalam di bagian belakang bersama dengan Zahra.
“Kamu tahu dimana rumah temanmu itu Dek?” tanya Zidan kepada Zahra, tidak akan menyangka jika hari ketiga mereka tinggal di Jakarta dan ternyata malah menabrak orang.
Dari kaca mobil, Zidan melihat adiknya menggelengkan kepala.
"Ara hanya tahu jika ia namanya Rania Shanum, anak kelas sebelah Bang. Ini kedua kalinya kami bertemu, dia termasuk orang yang suka menyendiri dan juga tidak mau bergaul Bang. Bahkan teman-teman yang lainnya melarang Ara untuk berteman dengannya, katanya Rania itu suka menjadi simpanan om-om atau apalah itu."
"Jadi gimana Bang?"
Zidan menghembuskan napasnya pelan, lalu memikirkan cara untuk menyelamatkan Rania. Bagaimanapun ini merupakan kesalahannya karena lalai menyetir hingga menabrak Rania.
“Kita akan membawanya ke rumah saja kalau begitu.”
“Ide yang bagus Bang,” sahut Zahra setuju.
Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah. Zidan kembali mengangkat tubuh Rania dan membawanya masuk ke dalam rumah. Berusaha tidak menatap ke tubuh Rania yang hanya tertutup dress tipis.
“Assalamu’alaikum Bunda, Ayah. Ara dan Bang Zidan pulang,” ucap Zahra sembari mengetuk pintu. Melihat ke arah Rania yang masih tidak sadarkan diri, bahkan darah yang mengucur dari keningnya pun masih terlihat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya saat melihat mereka bersama gadis dalam keadaan pingsan.
"Wa'alaikumussalam, Zid--"
Perkataan Anis kemudian terhenti saat pandangan matanya langsung mengarah kepada Rania.
__ADS_1
"Siapa gadis yang sedang bersama kalian itu?" Tanya Yusuf kepada kedua anaknya.