
#Imta_Ana_Syufak
'Cup!'
Reflek Syufak menarik diri saat ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita tatkala ia ingin masuk ke lorong toilet. Dan tanpa sengaja juga Syufak mendaratkan 6i6irnya pada dahi wanita berjilbab tersebut.
Wanita di depan Syufak membelalakkan matanya dengan sempurna seraya menatap tajam ke arah Syufak.
Perlahan tangannya terangkat mengusap keningnya yang tadi Syufak secara tak sengaja menc*um kening wanita tersebut.
"Maaf, tadi itu sebuah ketidak sengajaan!"
"Kau harus menikahiku!"
Mata Syufak membelalak secara sempurna mendengar kalimat tersebut.
"Menikahimu?" Syufak seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari wanita tersebut.
"Ia, kau telah menyentuhku. Tidak. Kau tidak hanya menyentuhku, namun kau sudah melakukan suatu hal yang seharusnya tak kau lakukan padaku, wanita yang bukan mahrommu. Secara tidak langsung kau telah men*daiku." Setelah berucap, Imta, atau yang akrab dipanggil Iim tersebut segera mengalihkan pandangannya dari Syufak.
Sedangkan Syufak tercengang mendengar kata-kata tersebut. Sejenak Syufak tertahan di wajah ayu nan jelita Iim. Yang wajahnya begitu syahdu dan menggetarkan iman di dada Syufak.
Sungguh, baru kali ini Syufak menemukan wanita seanggun nan berwajah syahdu. Tanpa Syufak sadari, bib1rnya melengkung membentuk sebuah senyuman dengan mata masih tak beralih menatap Iim yang saat ini tengah memandang ke arah lain.
"Kau harus bertanggung jawab!" lirih Iim. Dengan pandangan masih ke arah lain.
"Apa karena ketidak sengajaan ku tadi?" tanya Syufak.
Bukan ia tak mau adaikan ia diminta untuk menikahi gadis di depannya tersebut. Seperti apa yang dikatakan oleh Iim.
"Ini pertama kalinya aku di sentuh oleh seorang pria yang bukan mahromku."
Lagi, Syufak terhenyak mendengar penuturan Iim. Ia terkagum-kagum akan apa yang didengarnya barusan.
"Benarkah?" Syufak bertanya bukan ia tak percaya, melainkan ia hanya ingin mendengarnya sekali lagi. Penuturan kalimat Iim yang secara tidak langsung mengatakan kalau Syufak adalah pria yang pertama kali menyentuhnya.
Dan entah kenapa Syufak merasa bangga dengan hal tersebut.
"Iya. Aku tak mungkin berboh*ng. Lebih-lebih menyangkut menikah. Yang akan menjadikan ibadah dan ladang pahala untuk kita nanti."
Syufak terus tersenyum sambil mendengarkan suara Iim yang berucao tanpa menatap Syufak.
"Andaikan bisa, aku memang minta pertanggung jawaban dirimu. Agar menikahiku. Namun itu rasanya tidak mungkin. Maaf, jika aku meminta tanggung jawab dirimu. Sedangkan kau sudah memiliki tanggung jawab yang lain"
Setelah berucap, Iim segera melangakagkan kakinya keluar dari lorong toilet.
Sedangkan Syufak hanya bisa tercengang memandang kepergian Iim dari hadapannya.
Setelah agak beberapa lama kemudian, barulah Syufak teesadar dari ketercengangannya.
__ADS_1
Lalu selanjutnya ia menyesali dirinya sendiri yang telah membiarkan Iim pergi begitu saja tanpa ia membalas kata-kata Iim bahkan Syufak tak menanggapi permintaan Iim yang memintanya untuk menikahi Iim.
Namun yang lebih malu lagu adalah, saat Syufak melihat tulisan bahwa yang saat ini ia masuki adalah lorong menuju toilet wanita.
Dalam hati Syufak meng*mpat. Malu.
*****
"Masa, sih, hanya gara-gara kamu tak sengaja menc1umnya dia sudah minta pertanggung jawaban?" Pria yang mengenakan jas putih ala dokter tersebut bertanya pada Syufak.
Syufak tersenyum seraya tangannya meraih stetoskop di telinganya lalu memindahkan ke lehernya.
"Menurut kamu unik gak, Rob?" tanya Syufak seraya terus melangkah. Namun bi6irnya terus mengukir sebuah senyuman.
"Ya, unik banget, dong, Gus dokter. Wanita zaman sekarang mana ada yang di tubuhnya tak ada sidik jari laki-laki bukan mahramnya. Dan yang lebih uniknya lagi, ia langsung minta Gus dokter untuk menikahnya." Robi, sahabat Syufak terkekeh.
"Iya, tapi sayangnya sebelum aku menjawab, ia keburu pergi, Rob. Padahal aku mau menyetujui permintaannya tersebut."
"Gus dokter mau menikahnya?" Robi melirik sekilas ke Syufak yang berjalan di sampingnya.
"Iya." Syufak kembali tersenyum.
"Sekalipun kau tak mengenalnya?"
"Tapi aku telah mengenal agamanya, Rob!" Syufak menjawab dengan b*bir tak lepas dari senyuman.
"Oh, setuju kalau begitu." Robi tampak antusias.
"Oh, itu artinya, ia mengira kalau dirimu itu sudah punya istri."
Sontak langkah Syufak terhenti mendengar kata-kata Robi.
"Benarkah begitu?" Rona wajah Syufak tampak panik.
Robi mengangguk. "Dia sudah salah paham, Gus."
Syufak tambah panik. Ia beberapa kali mengusap wajahnya.
"Gak usah panik, Gus dokter. Kan tinggal Gus dokter jelaskan saja." Robi memberi saran.
"Iya. Tapi dimana aku harus menemuinya. Bukan aku tak mencarinya, Rob. Bahkan sudah hampir satu minggu ini aku selalu ke masjid Mujahidin, siapa tahu aku kembali menemukan wanita itu. Bahkan aku selalu menunggu di depan lorong toiletnya. Namun aku tak lagi menemukannya." Syufak mendesah di akhir kalimatnya.
*****
"Kapan aku bisa melihatmu lagi, wahai wanita idaman, pemilik pesona teduh," lirih Syufak.
Ini entah kali berapa ia berkunjung ke masjid dimana ia bertemu dengan Iim di lorong toilet saat ia salah masuk untuk mengambil wudhu.
Hampir satu bulan lamanya Syufak mencari Iim. Namun selama itu juga ia tak menemukannya.
__ADS_1
Karen merasa lelah, akhirnya Syufak beranjak dari tempat duduknya , tentunya setelah ia melaksanakan shalat Dhuha di jam 10 pagi di masjid tersebut.
Karena merasa lapar, sebab tadi pagi ia tak sarapan, Syufak mampir ke cafe yang ada di depan masjid tersebut.
Saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalam cafe tersebut, Syufak tercengang akan nuansa cafe tersebut yang bernuansa ke timur tengahan.
Tak hanya ada satu bagian, namun ternyata ada tiga bagian. Yang kedua bernuansa tampak sedang berada di gurun pasir. Disana para pengunjung tidak di sediakan kursi, melainkan duduk lesehan di karpet yang mana karpetnya berbulu-bulu bak pasir. Dan juga diwajibkan untuk lepas sandal.
Mulai dari pintu masuk sudah ada kaligrafi, potongan hadits. Musik yang disetel pun sangat islami. Bukan dangdut atau Dj. Kadang juga sholawat dan nasyid islami yang diputar.
Di kafe tersebut juga disediakan buku bacaan gratis. Yang tentunya buku islami juga, bukan sembarang bacaan. Seperti kisah para Nabi dan sahabatnya.
Andaikan ada cerita romantis pun, itu juga cerita yang diambil dari kitab-kitab.
Di ruangan yang terakhir, disana lebih identik pada nuansa kejepangan. Terlihat dari bunga-bunga yang mirip sakura berjejer disana dan juga tempatnya di samakan dengan nuansa kejepangan..
Jika di ruangan sebelumnya makannya adalah kurma atau kacang Arab, maka di ruangan ketiga ini juga ada makanan khas Jepang.
Syufak berdecak kagum melihat keindahan nuansa kafe tersebut. Yang merupakan baru pertama kalinya ia datangi.
Lalu selanjutnya Syufak kembali melangkah masuk, ingin lebih leluasa melihat-lihat nuansa cafe, namun saat kaki Syufak hendak lebih dalam lagi menelusuri sekeliling cafe, langkah Syufak terhenti tatkala matanya menangkap seorang wanita yang ada di sebuah ruangan hendak melakukan shalat.
Mata Syufak tampak berbinar-binar tatkala wanita yang dilihatnya tak lain dan tak bukan adalah wanita yang selama satu bulan kebelakang ini ia cari. Ia adalah Iim.
Seketika 6i6ir Syufak mengukir sebuah senyuman, ia sudah menemukan wanita yang sedang dicari-carinya.
Syufak terus menatap ke arah Iim yang saat ini ia tengah memasang perhiasannya. Yaitu gelang, cincin dan juga kalung. Setelah selesai semuanya, ia mulai melakukan sholat. Tampak sangat khusyuk.
Syufak terus memperhatikan kegiatan sholat Iim Hingga Iim terselesai dari sholatnya, lalu selanjutnya Iim berdzikir dan berdoa. Setelah itu ia membuka mukenah dan disusul dengan membuka semua perhiasan yang tadi ia pakai sebelum sholat.
Syufak yang melihatnya merasa heran dan juga penasaran.
Saat kaki Syufak melangkah, hendak menghampiri Iim yang sudah selesai dari sholatnya dan tampak ingin keluar, tiba-tiba ponsel Syufak berdering.
"Assalamualaikum, Ummi." Syufak mengangkat panggilan, yang ternyata dari Umminya.
"Waalaikumsalam, Syufak. Kamu sekarang ada dimana? Ini sahabat Abi kamu, Habib Farhan sudah tiba, ia datang bersama putrinya, Ana."
Syufak menghela nafas berat saat mendengar penuturan Umminya.
"Kamu segera pulang, ya! Jangan buat tamu Abimu menunggu."
"Tapi, Mi!"
"Mereka datang karenamu, Syuf!"
Syufak memejamkan matanya. Tampak kecewa. Ia tiba-tiba bimbang, antara ingin melanjutkan keinginannya yang ingin menemui wanita yang sudah lama ini ia sangat harapkan pertemuannya, atau memenuhi panggilan orang tuanya.
Mendadak dilema.
__ADS_1
________