
"Oh jadi kamu temannya Tiya? Datang kesini karena diundang Tiya untuk menghadiri acara ulang tahunnya? Ada-ada saja kelakuan anak itu huftt" Kata Ibu Ida sambil menggelengkan kepalanya karena kelakuan anaknya.
"Iya tante, sampai sini saya lihat sepi. Terus saya ketemu Kak Ari, jadi ngobrol deh. Eh tiba-tiba dia pingsan, saya panik banget tante" Jelasku sedikit gugup.
"Begitu ya.."
-Flashback-
"Kamu apain anak saya?" Tanya satu suara yang asing.
"Satpam tolong satpam" dia memanggil satpam. Aku deg-degan, apa aku mau dilaporin polisi. Oh tidak, jalanku masih panjang... Maybe
"E..ee.. Tan..te" Kataku tidak jelas.
Satpam datang. Lalu apalagi? Aku deg-degan setengah mati, takut banget Ya Tuhan.
"Tolong angkat anak saya ke dalam kamarnya ya, Pak" Suruh orang asing itu tadi.
"Baik, Bu"
Orang yang dipanggil 'Bu' oleh satpam tadi menengok kearah ku. Glek, mati aku.
"Eeh, Maaf Tante" Kataku dengan muka yang ga tahu kaya apa ekspresi nya.
"Ayo masuk" Ajaknya tiba-tiba sambil menarik tanganku.
Hingga aku sampai disatu ruangan, ini kamar. Mungkin kamar Kak Ari, banyak poster blackpink.
"Ini kamar Ari, silahkan duduk" Suruhnya sambil menyiapkan kursi untuk duduk ku.
"Terimakasih, Tante" Kataku sambil tersenyum manis.
"Iya. Kamu ini temennya Ari?" Tanyanya.
"Iya, Tante" Jawabku singkat.
"Temen apa temen. Hahaha maaf ya, saya kira kamu pacarnya" Goda Ibu Kak Ari.
"Kenalin saya Ida, panggil aja Aunty Ida, hehe biar agak keren dikit. Nama kamu siapa?"
"Saya Rania Ananda, Aunty. Panggil Ina saja" Jawabku sambil tersenyum seperti biasa.
"Rania kok bisa dipanggil Ina? Aneh sekali" Tanyanya keheranan. Aku sudah sering sekali dapat pertanyaan seperti ini, hmm.
__ADS_1
"Mama saya dulu susah untuk sebut Rania atau Nia, Tante. Maka dari itu dipanggil Ina" Jelasku.
"Oh begitu" Katanya sambil menganggukkan kepala.
"Kamu kesini diundang Ari?" Tanya dengan kening berkerut
"Saya datang kesini karena diundang Tiya, Tante. Dia bilang dia ulang tahun, terus dia ngundang saya. Tapi sepertinya dia ga ngerayain apa-apa hari ini" Jelasku.
"Oh jadi kamu temannya Tiya? Datang kesini karena diundang Tiya untuk menghadiri acara ulang tahunnya? Ada-ada saja kelakuan anak itu huftt" Kata Ibu Ida sambil menggelengkan kepalanya karena kelakuan anaknya.
"Iya tante, sampai sini saya lihat sepi. Terus saya ketemu Kak Ari, jadi ngobrol deh. Eh tiba-tiba dia pingsan, saya panik banget tante" Jelasku sedikit gugup.
"Begitu ya.."
...
Yeyy aku update lagiš„° hayo tebak gimana kelanjutannya?
"Mama" Panggil Ari yang terbangun dari pingsannya.
"Ari udah bangun nak? Syukurlah" Ucap Ibu Ida
"Rania" Panggil Kak Ari sambil mencoba memegang tanganku.
"I-iya Kak?"
"Gapapa kok, Kak. Kakak istirahat dulu ya, jangan banyak gerak" Ujarku sambil tersenyum. Dan dia menjawab dengan anggukan.
"Hmm, Aunty. Rania mau pulang ya?" Kataku.
"Kenapa buru-buru? Nunggu Tiya pulang saja" Hiks lembut banget ngomongnya, jadi ga tega ninggalin pulang.
"Tapi Rania takut ganggu, mungkin lebih baik pulang aja?" Kataku dengan alasan klasik.
"Rania disini dulu aja ya? Jagain Ari, Aunty mau pergi ke kantor. Rania bisa kan? Tenang aja, kalian ga berdua doang kok. Nanti ada bibi sama pak satpam kalau ada apa-apa" Ujarnya meyakinkanku untuk tetap tinggal.
"Hm baik aunty, saya tinggal disini dulu sebentar" Kataku sambil tersenyum manis dan sedikit melirik Ari Marchel yang sedang menatapku.
"Nah gitu. Sebentar lagi aunty harus ke kantor. Kamu disini aja ya, aunty mau siap-siap dulu" Katanya sambil memegang tanganku.
"Baik, Aunty"
"Mama pergi dulu ya, Ri. Kamu baik-baik, jangan sakit lagi. Jangan lupa juga minum obatnya ya" Ucap Ibu Ida sambil mencium kening Kak Ari. 'terharuuu'
__ADS_1
"Aunty pergi dulu, Ina"
"Iya, Aunty"
"Rania" Panggil Kak Ari yang masih sedikit lemas itu.
"Iya? Mau gue ambilin obat?" Tanyaku.
"Rania. Jangan pakai gue-elo lagi boleh ga? Kakak pengen lebih akrab sama kamu" Ucapnya penuh harapan. Aku kaget, kenapa nih orang tiba-tiba begini? Hah jangan-jangan waktu dia sebentar lagi.
"Ina" Panggil Kak Ari mengejutkan lamunanku.
"E-eh maaf, Kak. Hehe iya bisa kok" Jawabku agak tergagap. Dia hanya tersenyum.
"Hm Kak Ari mau minum obat? Kalau mau nanti Ina ambilin" Tawarku, karena tadi ibunya mengingatkan untuk minum obat bukan?
"Ga usah." Dih! Singkat banget.
Tok tok tok!
"Kaaak buka! Ini Tiya!" Itu Tiya? Aku melirik Kak Ari, memastikan apakah dia mengizinkan Tiya masuk atau tidak.
"Buka" Singkat kedua kalinya. Apalagi? Aku membukakan pintu untuk Tiya.
"Ohh?! Rania lo disini? Huhu maafin gue ya, gue nipu lo huhuu. Pasti lo udah tau kan kalau gue ga adain acara apapun" Kata Tiya yang kaget ketika bertemu denganku. Aku hanya tersenyum kelat.
"Iya gapapa" Jawabku singkat, kaya Kak Ari.
"Lo marah ya? Maafin gue huhuu" Ye enak aja lo minta maaf gitu. Enak banget nipu, mentang-mentang lo kaya dan gue miskin. Cih!
"Gak, gue ga marah" Jawabku singkat kedua kalinya.
"Udah ah. Disini kan udah ada lo, jadi gue mau pulang aja. Gue langsung pulang ah, jangan lupa jagain Kakak lo ya. Kak Ari, aku pulang dulu, jaga diri baik-baik dan jangan lupa minum obat. Dah semua!" Tanpa basa-basi lagi aku langsung pulang. Udah muak sama isi rumah itu, aneh.
Setelah keluar rumah aku langsung menelpon Mama untuk minta jemput.
"Halo, Ma? Jemput Ina ya sekarang, pokoknya cepet" Huh gara-gara kesel sama mereka malah kebawa ke Mama kan. Huhu Mama, maafin Rania Ananda ma.
"Eh Rania? Rania Ananda 'kan?" Sapa satu suara yang agak asing. Aku menengok kearahnya.
"Eh kamu..."
Jeng jeng jeng! Siapa hayooo? Ada yang bisa tebak ga nih? Haha tebak dong.
__ADS_1
Btw, makasih ya yang udah dukung aku dengan like dan komen kalianš„°
Jangan lupa untuk like, komen dan share cerita aku yaa!āŗ