
Sekolah pagi ini terlihat lenggang, padahal seharusnya hari ini ramai karena hari senin. Rania hanya mengangkat bahu tanda tidak peduli akan keadaan yang agak aneh itu, ia pun masuk ke dalam kelasnya yang sudah terdapat sahabatnya di samping tempat duduknya.
"Hai, Lia." Sapa Rania pada Lia yang leka dengan buku-buku tebal itu.
"Hai, Na. Pagi amat tumben." Ucapan Lia membuat ia mengerutkan dahi.
"Ini jam berapa?" Tanyanya pada Lia.
"Jam 06.15. Tumben banget, Na? Mau ketemu Kak Ari nih pasti, cie cie." Seketika Rania melotot. Itu dikarenakan dua hal, yang pertama karena dia terlalu pagi datang ke sekolah dan yang kedua karena ledekan dari Lia.
"Ih, apaan sih. Engga ada maknanya gue mau ketemu sama orang aneh satu itu." Ucapnya kesal sembari duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di meja.
"Hati-hati, Na. Kaya gitu biasanya nanti jadi suka."
"Engga mungkin, sih." Mendengar jawaban Rania, Lia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Eh, tapi kan ya. Kemarin tuh Kak Ari aneh banget sumpah, kayaknya dia kebanyakan minum baygon ga sih?" Pertanyaan Rania membuat Lia seketika menabok pelan mulut Rania.
"Husst! Ngaco. Lo ga berpikir dia serius, Na? Keliatannya aja dia serius gitu." Rania pun mengangkat kepalanya untuk melihat Lia yang sekarang sedang seperti mendukung Ari Marchell.
"Engga mungkin sih dia serius. Biarin aja deh, gue ga peduli sama dia." Ucapnya lalu menidurkan kembali kepalanya di meja.
"Iya deh, iya." Pasrah Lia lalu kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena Rania tadi.
....
"Mau makan apa, Lia?" Tanya Rania yang sedang melihat ke segala arah untuk mencari meja kantin yang kosong.
"Eh kita duduk di sana, yuk!" Rania langsung menarik Lia untuk duduk di bangku yang lumayan dekat dengan warung kantin.
__ADS_1
"Gue mau nasi goreng aja, sama es jeruk." Ucap Lia ketika mereka sudah duduk.
"Oke, tunggu." Ucap Rania lalu pergi meninggalkan Lia untuk membeli apa yang mereka ingin makan.
Lia membuka buku yang ia sengaja bawa tadi, agar tidak bosan saat menunggu Rania membeli makanan. Yah, kegiatannya cuma ini. Kalau tidak membaca novel ya membaca buku pelajaran. Sedang asik membaca buku tiba-tiba ada seseorang berdiri di depannya dengan pandangan yang sangat datar.
"Eh, Kak Ari?" Ari tetap dengan posisinya.
"Kak Ari mau ketemu Rania?" Tanyanya lagi. Lia bergerak gelisah, karena sedari tadi Ari hanya diam tanpa berbicara sedikit pun. Sudah bisa ditebak, pasti ada masalah.
"Engga. Ngapain ketemu dia? Gue cuma mau balikin buku kemarin." Ucapnya sambil memberikan buku catatan Lia yang dipinjam oleh Tiya. Tiya tidak memberikan langsung karena hari ini ia tidak masuk karena sakit, dan hari ini juga buku itu dibutuhkan.
Lia hanya menghela nafasnya, lalu menggeleng karena drama dua manusia itu.
"Makanan datang!" Rania datang dengan membawa makanan yang akan dimakan saat itu. Lia sedikit bersyukur karena tadi Ari tidak bertemu dengan Rania. Karena kalau ketemu bisa berabe urusannya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
"Na, lo yakin ga mau baikan sama Kak Ari?" Tanya Lia pada Rania yang sedang mengerjakan tugasnya. Rania yang mendengar pertanyaan itu hanya menghela nafas. Sedang dipusingkan oleh pelajaran matematika malah ditanya begitu, siapa yang ga kesel?
"Na—"
"Lia. Kenapa pengen banget gue baikan sama Kak Ari? Padahal kan gue sama dia ga bisa disatuin, ketemu sebentar aja langsung berantem."
"Tapi bisa aja kan kalian nanti ga berantem lagi?" Entah pertanyaan atau pernyataan, kata-kata Lia ini membuat Rania memutar bola matanya malas.
"Terserah lo deh, jangan sampe kita marahan karena orang itu." Tegas Rania yang langsung melanjutkan mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda baru saja.
__ADS_1
...
"Nurul, ke kantin bareng gue, yuk?" Ajak Rania pada Nurul yang sedang merapihkan buku-buku yang terlihat acak-acakan di atas mejanya.
"Ayo aja. Tapi biasanya sama Lia?" Rania tidak menjawab tetapi malah langsung menarik Nurul dan menggandengnya menuju kantin.
"Na, pelajaran tadi susah, ya?" Tanya Nurul dengan wajah kesal sambil mengaduk minuman miliknya.
"Iya, gue aja sampe bolak-balik buka paket satu sama dua untuk ngerjainnya. Kayanya Pak Deo kesambet setan di kamar mandi deh, ngasih tugas susah amat." Rungut Rania dan langsung meminum habis minumannya.
"Hust, ngomongnya. Tapi punya lo udah selesai?"
"Tentu aja udah." Jawab Rania senang, yang dilanjutkan dengan 'tos' tangan mereka berdua.
Lia hanya bisa melihat ke-akraban mereka dari meja yang tidak jauh jaraknya, ia hanya bisa tersenyum miris. Jika tahu akan begini ia tidak akan selalu membahas tentang Ari di depan Rania, namun Tiya selalu memaksanya untuk membuat Rania dan Ari bisa dekat seperti dulu walaupun mereka seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur.
Rania melihat ke arah Lia karena merasa ada yang mengawasinya. Pandangan keduanya bertemu dan tentu saja Rania langsung membuang muka.
"Ke kelas yuk, Rul." Ajak Rania yang di-iyakan oleh Nurul.
"Yuk."
Perginya mereka tak luput dari pandangan Lia dan juga pandangan orang yang selalu mengawasinya akhir-akhir ini, Ari. Dia berdiri jauh dari mereka, namun dia bisa melihat jelas apa yang dilakukan Rania dan orang yang diketahuinya sebagai teman sekelas Rania. Dia pergi dengan wajah yang terlihat acuh, untuk apa juga peduli.
Dikelas Rania hanya mendiamkan diri, yang biasanya dia paling berisik, ini dia paling pendiam sendiri. Lia merasa gelisah, perubahan Rania begitu terasa. Lia ingin meminta maaf namun keadaan terlihat tidak memungkinkan, ia memutuskan akan meminta maaf esok hari.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
__ADS_1
Aku hadir lagi niee, maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan.