Kreatif Novel (Kumpulan Novel)

Kreatif Novel (Kumpulan Novel)
My Teacher My First Love


__ADS_3

Roda mobil itu berputar pelan melindas aspal. Jendela bagian kemudi yang terbuka, menampakan asap samar melayang seiring mobil sedan melaju pelan. Satu sikut dibalut blazer warna hitam bertumpuh pada sisi jendela. Tangan itu kembali bergerak, mendekatkan satu batang rokok yang terjepit diantara dua jari.


Pemuda tampan dibalik kemudi itu menghisap rokok di tangan, meniupkan asapnya sesaat kemudian. Mulut dan hidung menghembuskan nafas berasap. Jemari yang memegang kemudi mengetuk-ngetuk pelan, mengiringi alunan musik klasik yang bersenandung merdu di sepanjang jalan. Sepasang mata hanzel bergaris tipis memiliki sorot yang tajam, menyiratkan satu kewibawaan dalam pribadi Andy.


Bibirnya yang sensual dan seksi kembali menghisap kuat ujung rokoknya. Sebelah tangan yang memegang kemudi menggerakkan benda berbentuk lingkaran itu secara perlahan.


Mobil sedan hitam Mercedez-Benz menyusuri jalanan memanjang dan sepi, dinaungi pepohonan rimbun yang berjajar di bawah satu sisi. Beberapa meter di bawah jalan, sejauh mata memandang satu garis pantai yang indah menjadi pemandangan menarik. Rerumputan hijau menghampar menyejukkan pandangan mata.


Andy Lau, adalah nama si pemuda yang teramat fokus saat mengendarai mobil sedan hitam. Pikirannya yang suntuk mencoba mencari inspirasi di tempat yang akan ia datangi nanti. Tidak lama lagi tujuannya sudah berada di depan mata. Kota Kyoshi yang ia harapkan bisa membuatnya kembali bangkit.


Bayangannya kembali pada saat pertama kalinya lelaki itu mengenal Akina di suatu perusahaan yang terkenal di kota Mizuka.


Shinwa Novel Academy, yang dipimpin langsung oleh seorang CEO yang bernamakan Yossihiro Akina. Tentu saja kedatangan Andy disebabkan oleh Haruka, seorang bos besar yang telah merencakan siasatnya liciknya pada Akina melalui Andy, sang maneger tersebut.


****


Di suatu ruangan, Andy baru saja menyodorkan bukti-bukti berupa photo mengenai keseharian Akina dengan Chelsea Matsuda. Dirinya berupaya untuk menjelaskan pada pemimpin perusahaan-Haruka, agar dapat menceritakan sejarah mengenai Akina dengan Aiko Nakata, hingga Chelsea dalam bentuk novel digital.


Wanita muda tersebut masih terlihat duduk di kursi, berhadapan secara langsung dengan Andy di suatu ruangan yang sama.


"Andy Lau, aku sangat menantikan kehadiranmu dengan membawakan tanda bukti mengenai keseharian Akina dengan siswanya yang bernamakan Chelsea Matsuda. Tentu saja jika suatu saat nanti kau dapat mengisahkan sejarah tentang Akina dalam bentuk buku cerita, maka novel itu akan meledak di dunia maya."


Senyum Andy tersungging mendengar perkataan sang President Direktur. Jujur, ia tidak yakin dalam menulis cerita bergenre romantis. Terlebih, pelaku dalam novel adalah seorang CEO yang dijebak olehnya di meja Casino atas perintah dari Haruka.


"Kisah seorang CEO yang dijebak di meja Casino, ya?"


Andy duduk bertumpang kaki sambil menjepit rokok di sela jari, pemuda itu mengajukan pertanyaan bernada ragu.

__ADS_1


"Tulisanmu sangat bagus, Andy. Aku pernah membaca salah satu karyamu yang berjudulkan Imperial Arms - Evolution Of The Ring, terasa sangat hidup meski dalam bentuk tulisan. Meski cerita itu bergenre fantasy, tapi kau mampu untuk menuangkan seluruh imajinasi yang luar biasa di sana. Dan aku harap kau dapat menuliskan kisah tentang Akina dan Chelsea bergenre romance," sang Presdir yang bernamakan Haruka tersebut menampilkan rasa penasaran yang sangat kuat.


"Tenang saja, Nona Haruka. Saya tidak akan pernah mengecewakan keinginan Anda," bibirnya mengulas senyum. Sementara benaknya mencari ide-ide unik yang dapat dijadikan sebagai bahan tulisan.


"Pastikan agar kau dapat menggalih semua informasi tentang Chelsea Matsuda, dan singkirkan orang-orang yang berusaha untuk mengganggu hubungan mereka."


"Tentu akan saya lakukan, Nona Haruka. Kemarin saya telah mendatangi kediaman Yamato-sensei, meminta pada beliau agar lekas menarik sanksi yang dijatuhkan pada Tuan Akina," Andy kembali menghisap rokok yang terjepit disela jemarinya.


"Lantas, apakah beliau mensetujuinya?" tanya Haruka.


"Maafkan saya, Nona Haruka. Sepertinya beliau adalah tipe orang yang keras kepala, dan tetap menolak meski telah saya suap dengan sejumlah uang yang ada."


Wanita muda dengan jas putih yang membalut tubuhnya memukul pelan sisi meja. "Jika beliau ingin bermain dengan api, maka kita siram bensin pada bara api."


Andy mengangguk pelan setelah mengeluarkan asap dari hidungnya. "Saya mengerti, Nona Haruka."


Lelaki itu sempat berpikir bahwa akan menulis keseluruhan dari kisah nyata yang akan dialami oleh Akina dan muridnya. Hal ini tentu akan menjadi suatu tantangan yang menarik baginya.


****


Sementara itu, Akina membuang sisa rokok sembarangan melalui jendela rumahnya, membiarkan kaca tetap terbuka dan menikmati angin sejuk di musim semi.


Akina melirik arlogi yang melingkar pada tangan kirinya, bertepatan dengan hamparan awan di sore hari. Sambil menghitung menit demi menit, pandangan matanya di perlihatkan oleh adanya pergerakan matahari semakin turun.


Tanpa disadari, sepasang mata bening dari sosok gadis yang berdiri membelakanginya nampak memperhatikan punggung Akina di ruangan tengah. Tatapannya seakan tak ingin berpaling dari pemuda tampan yang mulai memejamkan mata.


"Sensei masih mengingat-ingat masa lalunya dengan Aiko. Dia terlihat sedih," bibir Chelsea bergerak menyuarakan gumaman samar.

__ADS_1


"Mengapa Akina-sensei tidak dapat melupakan masa lalunya yang begitu pedih dan menyayat hati. Apa yang harus aku lakukan? Aku pun tidak tahu harus berbuat apa sekarang."


Lagi-lagi gumaman penuh keinginan terucap pelan dari bibir Chelsea. Tak bisa ditahan lagi, kakinya bergerak melangkah. Tujuannya teramat jelas pada pemuda yang tengah berdiri di depan jendela. Namun langkah Chelsea sempat terhenti, kala sepasang mata melihat Akina yang berbalik tubuh dan beranjak pergi.


"Sensei mau pergi?" gumamnya lirih, wajahnya yang manis terlihat pucat menyiratkan kekecewaan.


Saat lelaki itu beranjak pergi meninggalkan jendela, manik cokelat Chelsea mengikuti gerak langkah Akina yang semakin jauh.


"Kemana sensei akan pergi... Apakah dia akan kembali?" Gadis itu berbisik penuh harapan. Hatinya menginginkan pemuda itu kembali ke ruangan tengah.


Di ruang tamu, Akina duduk menumpang kaki pada sofa kelabu. Sebelah tangannya terlihat menyangga dagu dengan tatapan mata yang terpaku pada vas bunga di atas meja.


Sepasang garis mata yang tipis memiliki sorot yang sayu, menyiratkan suatu kepedihan yang mendalam pada pribadi Akina.


Derap suara langkah memicu pergerakan manik hitam Akina. Sorot matanya mendapati seorang gadis yang hendak menghampirinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" pertanyaan itu menghentikan laju langkah Chelsea untuk sementara waktu.


"Anoo, sensei..." Gadis cantik bergaun putih tertunduk malu. Sepasang ibu jari yang terangkat di depan dada saling mengetuk pelan satu sama lain. Laju ucapannya sempat tertahan sebab ia menggigit pelan bibir bagian bawah. "Anoo... Aku sudah bocor, tolong belikan pembalut, sensei."


Akina terperanjat. "Whats?!"


"Ehmm, aku tidak bisa pergi karena sudah deras," lirihnya bergumam.


"Nah, apanya yang deras?" senyum miris Akina menampilkan rasa penasaran yang kuat.


"Jangan banyak bertanya aku sedang datang bulan!" seru Chelsea dengan suara lentangnya.

__ADS_1


"Eh?! Ba-baiklah, aku akan segera membelikannya," ucap Akina tergagap kaku.


__ADS_2