Kreatif Novel (Kumpulan Novel)

Kreatif Novel (Kumpulan Novel)
Separuh Cinta Yang Berlabuh


__ADS_3

“Masya Allah, merdu sekali suara adzan Mas Haidar.”


Kiran menarik napas panjang saat mendengar beberapa pelayat memuji mantan suaminya. Dia mengakui Haidar memang memiliki suara yang bagus. Setiap kali mereka sedang shalat berjamaah di rumah, Kiran selalu terharu dan meneteskan air mata mendengar kalimah Allah dilantunkan.


Ah … itu pula yang dulu menjadi alasan bapaknya menerima lamaran Haidar. Mereka baru dekat tiga bulan dan Haidar langsung mengajaknya ke pelaminan. Haidar sempat panas dingin saat bertemu untuk pertama kalinya dengan kedua orangtua Kiran. Apalagi maksud kedatangannya itu untuk langsung mengajukan pinangan.


“Adzan isya’ baru selesai berkumandang, alangkah baiknya sebelum meneruskan pembicaraan ini kita menunaikan kewajiban terlebih dahulu.” Kiran ingat sekali, Haidar yang sudah panas dingin dengan cepat mengangguk saat itu.


“Mari silakan, Nak Haidar.” Kiran tersenyum tipis mengingat wajah Haidar yang tidak mengerti saat bapaknya mempersilakan menjadi imam shalat mereka.


“Saya, Pak?”


“Iya, Bapak sedang batuk. Khawatir mengganggu kekhusyuan kalau bacaan imam terjeda karena batuk.”


Jadilah hari itu Haidar yang bertamu untuk pertama kali langsung menjadi imam shalat mereka. Tak perlu berpanjang obrolan, setelah mendengar bacaan shalat dan tajwid Haidar sudah benar, Ahmad langsung menerima lamaran lelaki itu. Setelahnya, mereka melanjutkan dengan bermain catur untuk mendekatkan diri.


Ya, semudah itu Haidar diterima di keluarganya. Lelaki itu bahkan bisa langsung dekat dengan kedua orangtuanya bahkan di hari pertama mereka berjumpa. Mereka bukan orang berada. Bagi Ahmad, asal Kiran dapat suami yang bertanggung jawab untuk dunia dan akhirat, itu sudah merupakan berkah terbesar untuk mereka sebagai orangtua.


Mendadak, Kiran merasa sesak mengingat jawaban bapaknya kala dia bertanya tujuh tahun yang lalu, sehari sebelum akad nikah dilaksanakan. Ahmad merupakan orang yang paling terpukul saat dia memutuskan menggugat cerai Haidar. Lelaki itulah yang paling erat menggenggam tangannya agar dia tidak kehilangan pegangan.


“Sudah siap?”


Kiran tersadar dari lamunan ketika Hakim dan seorang lelaki yang tidak dia kenal ikut melompat ke dalam lubang kubur. Wanita itu terisak saat keranda dibuka. Kain kafan yang membungkus tubuh Raya langsung basah terkena gerimis yang masih enggan berhenti.


“Bismillahirrohmanirrohim, satu, dua, tiga, angkat ….”


Kain putih bersih yang membungkus tubuh Raya langsung terkena noda tanah saat tubuhnya berpindah. Kiran menahan napas menyaksikan Haidar membuka ikatan kepala Raya dan menghadapkan wajahnya mencium tanah ke arah kiblat. Setelah papan ditutupkan, pelan tapi pasti jasad Raya hilang tertimbun tanah merah yang basah.


“Assalamualaikum, Raya.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam, masuk Ran.”


Kiran terhuyung. Kelebatan masa lalu kembali menghantam pikirannya. Memori tentang kedekatan mereka dulu tumpah ruah memenuhi ruang ingatannya.


“Ini, katanya kamu pengen es durian di ujung gang.” Kiran meletakkan mangkuk plastik bening berukuran sedang di meja. Dia tersenyum melihat alat rajut dan perlengkapan sulam sudah tertata rapi. Sudah sebulan ke belakang dia dan Raya sibuk belajar menyulam dan merajut.


Raya fokus belajar sulam strimin. Dia membuat sulaman motif panorama alam, pegunungan yang dibawahnya terhampar sawah dengan sungai yang membelah di tengahnya. Sementara Kiran semangat belajar merajut. Dia ingin membuatkan baju hangat untuk Haidar dari hasil rajutannya sendiri.


“Besok aku tidak bisa kemari, Ray. Ada arisan di perumahan. Biasalah, kegiatan ibu-ibu.”


Raya terkekeh melihat mimik wajah Kiran. Sejak pertemuan pertama malam itu, Kiran dan Raya menjadi dekat. Kiran yang memiliki kepribadian riang dan mudah mengambil hati orang dengan mudah bisa mengakrabkan diri dengan Raya.


Di sinilah dia menghabiskan hari. Sedikitnya tiga kali seminggu Kiran berkunjung ke rumah Raya. Wanita itu senang karena mendapat kegiatan baru. Selama ini dia sering merasa jenuh dan bosan seharian di rumah semenjak keluar dari pekerjaan setahun yang lalu.


"Aku senang kamu sering kemari, Ran. Sejak kecil, aku jarang mempunyai teman dekat. Dulu ada satu orang, tapi dia pindah ke luar kota dan kami kehilangan kontak.”


Kiran menautkan alis. Dia menghentikan kegiatan merajut dan menatap Raya yang masih asyik terus menyulam. “Kamu memang jarang keluar rumah ya, Ray?”


Kiran tersenyum tipis. Ini pertama kalinya Raya berbicara panjang lebar sejak perkenalan mereka. Biasanya, Raya hanya akan tertawa dan sesekali menanggapi jika Kiran bercerita. Pembawaannya yang riang dapat menghidupkan suasana di antara mereka.


“Mbak Kiran? Pulang sekarang?”


Kiran tersentak saat ada yang mencolek bahunya. Wanita itu tersenyum ketika mengetahui tenryata Desi yang tadi memanggil. Dia mengangguk dan menoleh pada Ratna, mantan ibu mertuanya. Wanita itu tak melepaskan tangannya sedikitpun sejak berangkat tadi hingga sampai proses pemakaman selesai.


“Bu, Kiran pamit.”


“Pamit? Bisakah Kiran menemani sebentar lagi disini?” Ratna menatap Kiran dengan mata berkaca.


Kiran menghembuskan napas pelan. Sulit baginya mengatakan tidak pada mantan ibu mertuanya itu. Dulu, Ratna memperlakukannya dengan sangat baik saat dia masih menjadi menantu. Ratna bahkan sudah menganggap Kiran seperti anaknya sendiri. Jadi, wajar saja kalau saat bertemu kembali dia seperti enggan membiarkan Kiran pergi karena rindu itu masih belum terobati.

__ADS_1


“Tolong, sebentar saja ….”


Kiran terkesiap melihat wajah basah Ratna. Telinganya mendadak berdenging kencang. Wajah itu, tatapan itu, bahkan kalimat yang Ratna ucapkan sama persis dengan kejadian empat tahun lalu.


Kiran menekan dada. Napasnya tersengal. Sesak memaksa melesak hingga membuatnya seperti kehabisan udara. Sungguh, hari itu adalah hari paling buruk dalam hidupnya.


“Tolong, sebentar saja ….”


Kiran yang hampir melangkah akhirnya duduk kembali saat Ratna menahan dirinya. Ibu mertuanya itu menggenggam tangannya erat seolah takut Kiran pergi begitu saja. Sesekali, Kiran dapat mendengar isak tangis tertahan dari wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


“Om Fajar yang membantu mengurus dan melunasi semua hutang Ayah di Bank, Dar.” Kiran mengepalkan tangan saat suara ayah mertuanya kembali terdengar. “Kau sendiri tahu, sekian bulan berlalu Ayah masih belum menemukan mata pencaharian baru sementara angsuran pinjaman terus berjalan. Jadi, bagaimanalah ….”


“Kenapa tidak bicara pada Haidar, Yah?” Haidar bertanya frustasi. Lelaki itu mengacak rambutnya hingga membuat rambutnya yang biasa rapi menjadi berantakan.


“Kami tahu kalian juga banyak pengeluaran.” Hakim berkata pelan. “Awal perjanjian Ayah akan mencicil untuk melunasi hutang setelah mendapat mata pencaharian baru. Namun, ternyata tak semudah itu. Umur Ayah yang tak lagi muda menjadi salah satu faktor yang paling menyulitkan.”


“Biar Haidar yang menggantikan mencicil kalau begitu.”


“Bukan itu masalahnya, anakku. Mereka meminta semua ini dengan kerendahan hati. Kami tak bisa menolak karena terlanjur berhutang budi ….”


“Kenapa mengorbankan Haidar, Yah? Apa Ayah dan Ibu tidak memikirkan perasaan Kiran?” Haidar mengepalkan tangan. “Haidar tidak setuju! Haidar tidak mau menikahi Raya!”


“Ya sudah kalau begitu, kami duluan ya, Mbak Kiran. Mari, Bu Ratna.” Suara Desi yang berpamitan menarik kembali kesadaran Kiran.


“Nak ….” Ratna mengambil tangan Kiran yang terkepal di dada. “Maafkan kami, maafkan Ibu dan Ayah ….”


Kiran membisu. Dia mengalihkan pandangan ke arah gundukan tanah merah yang dibawahnya terkubur jasad Raya. Sahabat yang sangat dia sayangi seperti keluarga sendiri, sekaligus madu pahit yang hadir begitu saja, menyirami manisnya mahligai rumah tangganya dengan Haidar.


Bunga tabur memenuhi pusara Raya. Aroma mawar, sedap malam dan kenanga bercampur menjadi satu hingga menimbulkan wangi manis yang sangat khas. Kiran mengalihkan pandangan, di sana, di antara gerimis yang masih belum berhenti, berdiri terpaku sosok lelaki yang namanya masih terpatri di hati. Haidar menatapnya dengan pandangan yang sulit dia artikan.

__ADS_1


Ah … mengapa hidup sesakit ini? Kenapa semesta seolah masih saja ingin terus bermain-main dengan mereka?..


#Tamat🙏


__ADS_2