
Telfon berdering.tiba tiba saja dia sudah memberi tahuku dia sudah dbandara.tangisku pecah.seolah takdir ini tidak memihakku.terbayang hidupku kedepannya tanpa kehadirannya.
Capung: tolong peri jangan menangis.jangan sedih.saya pergi demi cita cita dan kelak saya akan datang untukmu.saya mencintaimu.dan saat saya kembali semua tidak akan berubah.saya masih capungmu dan kau periku.tolong tunggu aku.
Peri: bukan aku tak sanggup untuk menunggu mu capung,setidaknya ikat aku dengan ikatan yang lebih serius,pintaku.setidaknya saya ada jawaban dan alasan yang kuat nanti ketika orang tuaku menanyakan kenapa saya selalu menolak ketika dlamar orang lain.
Capung:tidak bisa peri.tolong fahami juga posisiku.jika saya lebih mementingkan bertunangan apalagi ketika saya berniat mondok k Mekah itu akan meragukan keseriusan saya pada Abi ummiku dan seluruh keluarga besarku.suatu saat amanah pondokku ada dtangan saya.saya harus cari bekal ilmu dulu untuk mematangkan diri dan menyiapkan segala sesuatunya.sedangkan cita cita ini tak mudah saya dapatkan.prosesnya juga sulit.sangat tidak etis jika saya meminta tunangan.pasti beliau semua mengira saya main main.
Peri hanya menangis saja.karena hanya airmata yang bisa mewakili perasaanya saat ini.airmata adalah kelemahan juga kekuatan bagi luka hatinya yang sangat dalam.seolah kata kata capung adalah final.penjelasan capung bagaikan keputusan hakim yang sudah tidak bisa digugat lagi.memang logika yang ia sampaikan juga benar adanya. Dan pada akhirnya perasaan cinta ini yang harus dikesampingkan,bukankah hidup bukan hanya tentang diri sendiri.hidup ada hak orang tua,hak orang lain,amanah agama dan negara.
__ADS_1
Capung: peri tolong katakan. Berapa ukuran sepatumu?mencoba pindah topik pembicaraan.
Peri:untuk apa tanyaku?38 jawabku sambil menyeka air mata.
Capung:saya sudah mau terbang beberapa jam lagi.tolong tulis alamat lengkap.saya kirim sepatu dan sandal.kebetulan ddepanku ada toko sepatu.haya ini yang bisa saya berikan sebagai tanda perpisahan terakhir kita.
Capung mencoba memecahkan suasana dan mengalihkan sedihku.
..............
__ADS_1
Satu Minggu berlalu.nomor hp capung sudah tidak aktif lagi.dunia serasa mati,sepi tak berirama.suara khasnya,tawanya ,senyumnya sudah tidak ada lagi.berkali Kali kupandangi handphoneku berharap ada nomor kode Mekkah menelfonku.sering juga aku cek face book berharap dia menlfonku lewat messenger.karena dulu kami sering video call pakai messenger.
Tok tok tok,suara pintu kamarku mulai dketuk oleh ibuku.karena beberapa hari ini saya pamit gak keluar kamar dan bilang sedang sakit butuh istirahat,jadi ibu tidak menaruh curiga padaku kalau sesungguhnya sedang sedih dan sering menangis.
Ini ada barang dari pak pos,katanya punyamu.ibu taruk depan pintu ya.ucap ibu sambil berlalu.
Dalam hati bertanya.barang apa ya?sepertinya saya gak merasa pesan apa apa.dengan agak lesu beranjak dr kasur menuju pintu kamar.paket kardus besar ddepan mataku.awalmula masih merasa aneh.dan perlahan kubuka bungkusnya.dan ternyata berisi sepatu dan sandal yang capung paketkan waktu itu.sekitar ada 10 pasang sepatu dan sandal.dan ada kaos warna cokelat muda dan sarung motif kotak kotak,ya benar kaos bekas dia pakai rupanya.sesuai pintaku.kuciumi terus dan kupeluk.dan ada kitab kecil berisi amalan amalan.setidaknya kalau rindu ada benda bisu ini yang menjadi pelipur lara.perlahan aku selipkan baju n kaos itu kedalam rak lemariku.biar ibu dan bapak tidak curiga.
@@@@@
__ADS_1
Hari berganti hari,Minggu pun berlalu,bulan berubah tahun.capung benar benar menghilang.tanpa kabar berita.aku kebingungan mencari arah tujuan rinduku mau berlabuh kemana.bagai berjalan dalam gelap.melangkah meraba raba mencari arah tujuan.jika rindu hanya airmata dan doa sebagai saksi.fikirku mulai kacau,jangan jangan capung sudah melupakanku,atau dia meninggal?atau dia baik baik saja tapi aturan pondoknya begitu ketat sehingga tidak bisa mengabariku...