
Laura mengerjap karena cacing di dalam perutnya sudah berdemo.
"Jam berapa?" gumam Laura seraya menyibakkan selimutnya.
Laura meraih ponselnya diatas nakas yang tidak jauh dari ranjangnya. Dia duduk seraya menyenderkan kepalanya di headboard ranjang.
"Jam tujuh malam? Pantas saja perutku lapar." Laura melihat jam di layar ponselnya. Tangannya mengusap-usap perutnya yang keroncongan. Lalu Laura beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebentar.
Setelah tiga puluh menit berada dikamar mandi Laura berjalan keluar dari kamar mandi. Laura duduk di depan meja rias tangannya merapikan rambut dengan sisir.
Kemudian, Laura bergegas turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama keluarganya.
"Mommy dimana?"tanya Laura. Ia menarik kursi untuk duduk.
"Mommy dan papa pergi ke dokter," sahut James yang sudah menunggu di ruang makan.
"Aaahh...Laura lupa tadi pagi mommy sudah mengatakan kalau dia akan USG. Pasti bayinya lucu." Laura pun mendudukan pantatnya dikursi bersebelahan dengan James.
"Ya sana bayinya cowok." timpal James.
Laura menatap James, ia sangat kesal karena sang kakak selalu saj berharap anak cowok padahal dia berharap sebaliknya. Laura menginginkan adik perempuan supaya ia bisa mengajak adiknya untuk pergi berdua.
__ADS_1
James tertawa ia menaik turunkan alisnya membuat Laura yang kesal mengambil makanan sangat banyak dipiringnya.
"Makannya banyak bangat," protes James saat melihat Laura mengambil banyak makanan.
"Lapar ini dua porsi siang tadi dan malam." sahut Laura. Dia pun langsung menyiapkan pasta ke mulutnya.
James hanya menggelengkan kepalanya dia heran biarpun adiknya itu banyak makan badannya tetap saja kurus.
Setelah makan malam, Laura bergegas naik ke lantai dua. Karena, siang tadi di sekolah Leo sudah berjanji akan melakukan video call.
Namun, baru saja Laura menginjak anak tangga pertama James memanggilnya.
"Aku mau belajar kak," tolak Laura.
James akhirnya mengalah dia tidak ingin mengganggu Laura belajar, " Hmm... fighting!" James memberi semangat.
"Terima kasih kak, jangan lupa besok antar Laura ke sekolah lagi ya." Laura pun cepat-cepat berlari menuju lantai dua. Dia membuka pintu kamarnya Laura masuk ke kamar tidak lupa ia mengunci pintu kamar dari dalam karena tidak ingin ada orang mengganggu dirinya.
Setelah kamar di kunci Laura berjalan menuju meja belajarnya. Ponsel yang sejak tadi diatas meja belajar terus saja bergetar. Laura pun meraih benda pipih itu ia bergegas menggeser layar ponselnya lalu mengarahkan ke wajahnya.
"Sorry...aku baru selesai makan," ucapanya cepat saat melihat wajah kekasihnya yang sudah mirip pakaian kusut.
__ADS_1
[Ponselnya nggak dibawah?]
"Nggak.Aku nggak mau kakak atau orang tuaku mengetahui aku sudah memiliki kekasih." sahut Laura.
Keduanya pun melakukan video call sesuai permintaan Leo di sekolah tadi. Namun, karena keseringan video call dan berfoto di kamar. Membuat Laura tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengawasi dia tanpa sepengetahuan dirinya.
Pria itu tersenyum melihat apa yang dilakukan Laura tidak lupa dia menyimpan semuanya dengan rapi di folder komputernya.
Setelah satu jam melakukan video call Laura dan Leo mengakhiri panggilan karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Laura menghela napas lalu meletakkan Ponselnya disamping bantalnya. Laura sangat bahagia usai melakukan video call dengan Leo.
Sementara pria yang mengawasi Laura itu tersenyum bahagia. Dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini tidak Maslah setiap kali ia ingin mengungkapkan perasaannya namun karena tidak ingin membuat Laura menjauhinya ia rela melakukan cara licik ini.
Pria itu keluar dari ruang kerjanya dengan hati yang sangat bahagia. Ia kembali masuk ke kamarnya, disana ada seorang wanita yang sedang menunggu diatas ranjang, " Sayang kau dari mana saja?" tanya Wanita itu.
"Aku masih menyelesaikan sedikit pekerjaan yang tertunda tadi di ruang kerja," sahutnya Lalu ikut membaringkan tubuhnya disamping sang istri.
"Hmmm... Tapi mengapa tadi aku ke ruang kerjamu tidak melihat dirimu?" Wanita itu heran. Ya setelah pulang dari dokter pria itu pun menghilang begitu saja diruang tamu. Karena, tidak melihat sang suami di kamar mereka. Wanita itu mencari keberadaan pria itu hingga ke ruang kerja. Sayangnya di ruang kerja pun dia tidak menemukan pria itu. Wanita itu pun menghubungi pria itu tapi Ponselnya tidak aktif. Karena, tidak menemukan pria itu ia pun kembali ke kamar memilih istirahat karena kakinya yang mulai membengkak membuat dia gampang sekali merasa kelelahan.
"Ayo tidur kamu jangan banyak pikiran dan begadang tidak baik untuk bayi kita. Apa kau sudah lupa pesan dokter tadi?" Pria itu memeluk wanita itu tidak lupa dia melayangkan satu kecupan di kening sang istri.
"Baiklah." Wanita itu menghela napas karena tiba-tiba perasaannya tidak enak entah karena apa tapi dia terus saja merasa gelisah.
__ADS_1