Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku

Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku
Bab 23.


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Maria sudah memasuki sembilan bulan. Pagi-pagi Maria merasakan kontraksi, perutnya tiba-tiba mengejang lalu kembali membaik begitu terus hingga Adam memutuskan membawa Maria pergi ke rumah sakit.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang saja.Aku tidak ingin bayi kita lahir disini," ucap Adam.


"Baiklah. Aku benar-benar tidak tahan lagi bayi ini sebentar lagi keluar." sahut Maria menahan sakit. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya ia pejamkan untuk menahan sakit yang tak tertahankan.


Benar baru saja dinaikan diatas brankar air ketuban Maria pun pecah. Gegas perawat yang mendorong brankar langsung membawa Maria ke tempat persalinan. Di ruangan bersalin itu lahirlah seorang bayi cantik yang diberi nama Berlian.


''Dia sangat cantik persis kau, istriku. Wajah dan kulitnya mewaris dirimu sementara aku hanya mewarisi rambut dan hidung,'' ujar Adam seraya menggendong Berlian . Bayi itu baru saja minum susu jadi Adam akan membuat dia sendawa. Walaupun sudah dua puluh tahun baru memiliki bayi lagi tidak membuat Adam melupakan cara membuat bayi bersendawa atau merawat bayi.


Adam menggendong Berlian ia menempelkan Berlian didadanya lalu tangan satunya ia tepuk-tepuk lembut dipunggung Berlian.


Gek...


Baru tiga tepukan Berlian sudah bersendawa membuat Maria dan Adam sangat gemas.


''Dia sangat lucu,'' ujar Adam lalu membaringkan Berlian disamping Maria.


''Kau benar selain lucu dia cantik seperti namanya.'' Maria mengusap lembut rambut tebal Berlian. Bayi berusia satu hari itu merespon dengan menggerakkan kaki dan tangannya.


❤️❤️❤️❤️❤️


''Balonnya ditempelkan di bagian pintu masuk, dek.'' James meletakkan box bayi dikamar bayi.


''Siap, tapi warna pinknya kurang.'' sahut Laura.


''Tidak masalah dek. Masih ada warna biru, warna bayi lebih bagus biru dan putih warna natural bisa untuk cewe atau cowok.'' jelas James.


"Bayinya cewe," Laura tidak terima.


James memilih mengabaikan protes dari Laura, dia tidak ingin berdebat sekarang.


Laura dan James menyambut kelahiran sang adik dengan suka cita. Keduanya menghiasi rumah dan kamar bayi dengan sangat cantik tanpa sepengetahuan Adam dan Maria.


"Welcome Baby Girls." Tulisan didepan pintu kamar bayi.


Adam dan Maria baru saja keluar dari mobil. Suster menggendong Berlian sementara Adam mendorong kursi roda. Maria yang belum fit betul memilih duduk di kursi roda.


"Hello baby gilrs welcome home," seru James dan Laura serentak. Keduanya berlari menuju halaman depan rumah menyambut kedatangan Berlian, Maria dan Adam.


Adam dan Maria sangat bahagia melihat kedua anak mereka yang sangat bahagia menyambut Berlian di rumah.


"Suster biar aku aja yang gendong babynya." Laura langsung mengambil alih dia menggendong Berlian. Kwatir bayinya jatuh, James menahan bagian belakang Berlian.


"Dek, hati-hati nanti babynya jatuh." ujar James.


"Tenang aja kak, aku uda belajar dari video-video cara menggendong bayi." Laura tertawa sementara Maria terharu mendengar ucapan sang Putri.


Namun, wajah ceria Maria tiba-tiba berubah menjadi sedih karena setiap kali ia melihat Laura, Maria selalu mengkwatirkan putrinya itu. Tapi, Maria berusaha menutupi kekwatiran itu dengan tersenyum, ia berusaha terlihat baik-baik saja.


Laura menggendong Berlian berjalan lebih dulu menuju kamar bayi.James membantu membawa tas baby mengikuti dari belakang sesampainya di kamar ia meletakkan tas itu di atas sofa yang tersedia di kamar Berlian.


Sementara Adam dan Maria tersenyum bahagia, keduanya kagum melihat hasil dekorasi Laura dan James.

__ADS_1


"Siapa yang mendekorasi semua ini?" tanya Maria. Dia belum percaya dengan dekorasi yang sangat bagus ini. Maria pikir pasti kedua anaknya membayar orang yang untuk mendekor.


"Aku dan kakak James," Laura menjawab cepat dia menunjuk dirinya lalu menunjuk James.


"Sungguh? Mommy tidak percaya karena ini sangat bagus dan indah," ucap Maira kagum.


Laura dan James saling pandang keduanya berkedip, bangga.


"Kami tidak berbohong, mommy." sahut keduanya serentak.


****


Adam yang bersemangat baru memiliki bayi lagi pagi-pagi benar ia sudah bangun. Adam yang melihat Maria baru saja tidur tidak menggangu sang istri. Adam menggendong bayinya dari box ia membawa Berlian keluar kamar untuk berjemur di dekat kolam renang.


Maria mengerjap karena kebelet pipis. Maria tidak menemukan Berlian si box bayinya. Ia bergegas keluar dari kamar mencari keberadaan Berlian.


"Nyonya apakah anda mencari tuan dan nona kecil?" tanya seorang pelayan dengan sopan saat ia berpapasan dengan Maria di lorong depan kamar Maria.


"Iya. Apakah kau melihat mereka?" tanya Maria cemas.


"Tentu saya melihat mereka. Nona kecil sedang berjemur di dekat kolam renang," ucap pelayan itu.


"Baiklah." Maria pun bergegas menuju kolam renang.


Maria menghentikan langkahnya, ia tersenyum saat mendengar Adam sedang mengajak bicara Berlian dan lucuunya bayi itu merespon seakan dia mengerti apa yang dibicarakan Adam.


Maria pun memutuskan kembali ke kamar karena ia tidak ingin mengganggu waktu berdua Adam dan Berlian.


Maria kembali ke kamar dia mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas nakas dekat ranjang, lalu ia menggeser layar ponsel Maria menscrol layar ponselnya setelah menemukan nomor Jackson. Maria pun mulai menghubungi Jackson.


Gubrak...


Adam menendang meja sofa hingga suara gubrakan itu terdengar sampai didapur. Bukan para pelayan saja yang mendengar tapi Berlian yang tadinya tidur langsung bangun dan menangis. Maria kaget ia langsung mengakhiri panggilan sepihak.


"Maria...apa yang terjadi? Halo apa kau mendengar aku?" Jackson yang mendengar suara gubrakan itu sangat kwatir. Namun, Maria tidak menanggapi ucapa Jackson lagi.


Adam membaringkan Berlian di box bayi lalu ia berjalan menghampiri Maria. Tangannya langsung menampar pipi wanita yang sudah sepuluh tahun ini menemani dia.


Plak...


"Kau menelpon siapa?" tanya Adam matanya nyalang terlihat jelas emosi yang membara di dalam sana.


"Aku hanya memberitahu Jackson mengenai kelahiran anak kita." bohong Maria.


"Bohong! Kau pikir aku tuli?" sarkas Adam.


Plak...


Pipi bagian kiri Maria ditampar Adam lagi. Wanita yang dulu mendambakan hidup bahagia bersama Adam kini hatinya hancur berkeping-keping impian itu hanya berjalan sepuluh tahun.


Maria menyentuh pipinya yang yang sakit, darah segar menetes dari sudut bibirnya semakin menambah kehancuran hati Maria, "Kau menampar aku?" Maria menunjuk dirinya lalu menunjuk dada Adam.


"Ya. Karena, kau mulai berani dengan aku." sahut Adam.

__ADS_1


"Karena aku tidak ingin kekwatiranku menjadi kenyataan," seru Maria.


"Perempuan kurang ajar! Berani sekali kau menuduh aku, ha?" Ia menarik kasar rambut Maria lalu mendorong Maria hingga terpental dilantai.


Berlian semakin menangis kencang namun Adam tidak menghiraukan tangisan Berlian ia masih saja memukul Maria.


Hingga tiba-tiba terdengar suara dari depan pintu kamar.


"Selamat pagi."


Namun, wajah ceria gadis itu seketika berubah menjadi sedih. Gadis itu datang ke kamar Maria ingin menggendong sang adik justru menemukan sang ibunda sudah berdarah dan terkapar dilantai.


Laura tidak berbicara apapun dia langsung berlari ke lantai dua. Laura mengambil ponselnya lalu menghubungi polisi.


Adam yang mengejar Laura sampai didepan pintu kamar Laura mencoba menempelkan telinganya dipintu ia mendengar Laura sedang menghubungi polisi ia pun bergegas kembali ke kamar.


Adam memanggil suster meminta suster membawa Berlian ke ruang tamu.


"Suster tolong kau jaga Berlian sebentar." ucap Adam.


"Baik, tuan." suster itu menggendong Berlian ia membawa Belian ke ruang tamu.


Maria hanya diam saja ia masih duduk dibawah lantai karena kesulitan berdiri.


"Sayang...ayo aku bantu kau mandi." ucap Adam seraya tangannya mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibir Maria.


Maria tidak menolak ia pun menurut. Adam membantu Maria berdiri lalu ia pun menuntun Maria ke kamar mandi.


"Maafkan aku tadi aku tiba-tiba terbawa emosi.Kau tau kan sejak aku meminum obat itu membuat aku sering emosi," ujar Adam.


"Baiklah, tapi sekali lagi kau melakukan kekerasan maka sebaiknya kita bercerai saja. Aku tidak ingin mati ditanganmu," ucap Maria serius.


"Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi sayang." Adam membawa Maria ke dalam pelukannya.


****


"Selamat siang, benar ini rumah tuan Adam?" tanya seorang polisi kepada pelayan yang sedang menyiram bunga di halaman depan. Sementara polis yang lainnya bersiap-siap menembak mereka bersiaga di depan pintu juga.


"Benar. Silakan masuk, Pria yang melakukan kekerasan itu sedang berada di kamarnya." Laura membawa polisi menuju kamar Adam.


Adam yang melihat polisi datang ia pun berdiri berjalan ke depan kamar menemui polisi.


"Selamat siang pak Adam.Kami mendapat laporan bahwa anda telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga yaitu memukul istri anda hingga terkapar dilantai?" tanya polisi itu.


"Aku pikir ini hanya salah paham. Putri ku tidak mengerti masalah sebenarnya aku dan istriku sedang bercanda. Tanpa sengaja istri saya terjatuh dan giginya berdarah efek terkena lantai kamar kami." jelas Adam santai.


"Kami akan tetap melakukan penyelidikan untuk menemukan barang bukti untuk memastikan kebenarannya, apakah anda benar-benar tidak melakukan kekerasan fisik terhadap istri anda." Polisi itu berjalan masuk ke kamar Adam untuk menyelidiki barang bukti sebagai dugaan kuat kekerasan.


Namun, semua tidak sesuai apa yang Laura laporkan. Semua barang bukti dan bekas darah sama sekali tidak ada di kamar Adam dan Maria. Polisi pun akhirnya menegur Laura.


"Nona sebelum menghubungi polisi sebaiknya pastikan terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya. Karena, dengan anda membuat laporan palsu seperti ini anda telah membuang waktu kami sia-sia." tegur salah satu polisi.


"Aku minta maaf. Tapi sungguh aku tidak berbohong." sahut Laura. Dia berusaha meyakinkan polisi. Namun, untuk proses hukum butuh bukti valid yang memberatkan tersangka.

__ADS_1


Laura mengepal karena pria paruh baya itu pandai sekali bersandiwara. Polisi pun akhirnya pulang. Laura yang marah berlari ke kamarnya dan mengunci diri di kamarnya.


"


__ADS_2