
Di club malam
Maria Mercedes terus tertawa bahagia, sesekali ia mengisap rokok yang mengapit dikedua jarinya.
"Selamat ya atas perceraianmu." Satu persatu teman-teman sosialitanya datang memberi ucapan.
"Thanks, semuanya ini karena saran dari kau, Janet." Maria menunjuk jari telunjuk ke arah Janet yang sedang menikmati wine.
"Ideku cemerlang,'kan?" Janet tertawa lalu meletakkan cangkir di atas meja dengan kasar.
"Dan aku juga, baby." Sahut Adam yang duduk menempel disamping Maria. Pria itu langsung mendaratkan satu kecupan dibibir ranum Maria.
"That's right. Untung kau setuju kita melakukan video call." Maria tertawa garing. Sebenarnya hatinya hancur. Walaupun sudah minum alkohol Maria masih mengingat semua kenangan manis bersama Jackson. Mantan suaminya itu terlalu sempurna untuk dilupakan, dia juga ragu melangkah lebih jauh bersama Adam.
"Tentu sayang, kau sudah mencuri hatiku. Aku tidak sabar untuk memilikimu segera." Adam memeluk Maria, tangannya sudah bergel**irya di area terlar**ang Maria.
Alunan musik di diskotik itu memekak telinga. Maria dan teman-temannya berbicara sangat kencang namun sangat pelan didengar karena suara mereka tertutup dengan musik.
****
Waktu itu arisan di rumah Jenifer. Maria yang bebas pergi kemana saja bersama Adam menanyakan solusi bagaimana caranya dia membuat Jackson marah besar hingga menggugat cerai dirinya.
Janet, yang sedang mengocok botol arisan menghentikan aktivitas itu. Dia menjentikkan jarinya, " Kau tau jam pulang Jackson?" tanya Janet.
"Tentu aku istrinya."
"Keren. Kau lakukan saja video call dengan Adam pura-pura nggak sadar kalau Jackson sudah pulang dari kerja." Janet menjentikkan jarinya, " Yakin deh kau dan Jackson langsung bertengkar hebat." Janet menaik-turunkan alisnya dia yakin saran gilanya pasti berhasil.
Dan sialnya, Maria pun melakukan saran dari Janet. melakukan video call hingga berujung pertengkaran hebat antara Jackson dan Maria. Tapi, anehnya Jackson tidak mengajukan gugatan cerai karena pikir Jackson mereka berdua bisa memperbaiki hubungan ini. Tapi , tidak bagi Maria yang sedang bucin dengan Adam memilih mengarang cerita bebas seakan dialah yang teraniaya.
Hingga kemarin Hakim memutuskan perceraian mereka sah dimata hukum dan agama.
__ADS_1
🌑🌑🌑🌑🌑🌑
Maria mengeluarkan blackcardnya lalu memberikan kepada Adam, "Baby tolong bawa kartuku ini pergi bayar dikasir. PIN_nya masih sama belum aku ganti." Maria terus bergoyang bersama teman-temannya.
Adam membawa blackcard milik Maria menuju kasir, ini yang paling disukai Adam. Pin_blackcard Maria dengan mudah dia dapat. Tidak lupa Adam mengirim sejumlah uang ke rekeningnya tanpa sepengetahuan Maria.
"Sayang, ini kartunya aku simpan lagi di dompetmu ya." ujar Adam.
Duda satu anak itu pintar, dia tidak pernah beralkohol jika pergi bersama Maria dan teman-temannya. Karena, Adam takut hilang kesadaran.
♥️♥️♥️
Laura di kamar dia sedang risau menunggu panggilan telepon dari Jackson. Ternyata Laura baru ingat lama penerbangan Spanyol-Amerika delapan jam.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, Maria dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.
"Hati-hati sayang." Adam menggandeng tangan Maria. Wanita itu sempoyongan biar pun ia sudah dituntun Adam tetap saja berjalan miring kiri-kanan.
"Ya.Aku akan segera melamarmu tapi sekarang masuklah ke dalam mobil aku akan mengantarkan kau pulang ke rumahmu." Adam membuka pintu lalu membantu Maria masuk ke dalam mobil. Tidak lupa Adam memasangkan sabuk pengaman di tubuh Maria.
Usai memasangkan sabuk pengaman. Adam pun masuk ke dalam mobil. Adam melajukan mobil menuju rumah Maria.
Sementara wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu memejamkan matanya sesekali dia memanggil nama Jackson.
"Sayang, Jackson suamiku, maafkan aku." Matanya tertutup rapat.
Adam menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum penuh misteri, "Kau sudah masuk dalam perangkapku. Sebut saja nama pria bodoh itu aku tidak akan pernah cemburu." gumam Adam.
Ciiuut...
Tiba-tiba Adam rem mendadak hingga roda mobil menyeret di aspal.
__ADS_1
"Argh... hati-hati dong sayang." Kepala Maria nyaris terkena dasboard mobil. Dia mengelus bahu Adam.
"Sorry... Aku sedikit mengantuk." Bohong Adam.
"Apa kau mau menginap di hotel terdekat sini?" tawar Maria, seraya menggerakkan kepalanya khas orang oleng dibawa pengaruh alkohol.
"Jangan, kau harus pulang kasihan Laura. Anak itu pasti menunggumu pulang," Sahut Adam.
Lalu roda mobil kembali bergulir menuju rumah Maria. Akhirnya satu jam dalam perjalanan Adam menghentikan mobil didepan rumah Maria lalu dia membuka pintu mobil dan membopong Maria keluar dari mobil. Security yang menjaga rumah Maria bergegas datang membantu Adam.
"Tuan,"
"Bantu aku, kau tolong gandeng dari tangan kirinya."suruh Adam.
" Baik." Security itu melakukan sesuai yang diperintahkan Adam.
Maria sudah dibaringkan diatas sofa. Adam pun pamit pulang karena jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
♥️♥️♥️♥️♥️
Laura duduk di sofa kamarnya ditemani suster. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka.
Laura...
Suara itu Laura hapal. Itu suara Maria.
"Suster...Mommy pulang."
"Iya, non. Biarin aja ini sudah malam kalau Non keluar dan menemui Nyonya bisa-bisa dimarahi Nyonya karena sudah jam satu malam Nona belum tidur." Suster itu sengaja melarang Laura karena dia tidak ingin Laura melihat Maria dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tentu wanita itu pasti tidur lagi disofa karena Adam tidak mungkin membawa Maria ke kamar wanita itu.
"Baiklah.," sahut Laura.
__ADS_1
Suster itu bergegas mengunci pintu kamar. Karena, dia takut Maria masuk kamar Laura. Apalagi dalam keadaan dibawa pengaruh alkohol. Bisa jadi Laura akan kena amokan yang tidak jelas.