Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku

Ku Akhiri Hidup Ayah Tiriku
Bab 27.


__ADS_3

Adam menepati janjinya pagi-pagi ia sudah bangun pria itu bergegas pergi ke ruang makan karena Adam sudah menghapal kebiasaan Laura, gadis itu sejak kejadian sampai polisi datang ke rumah. Sejak itu Laura selalu bangun pagi untuk sarapan lebih dulu karena tidak ingin bertemu Adam.


"Pagi sayang..." sapa Adam. Dia berdiri tepat dibelakang kursi Laura. Gadis berusia delapan belas tahun itu sedang menikmati sarapan paginya roti berisi selai itu baru saja ia menyuapkan ke mulutnya belum juga di telan Adam muncul membuat selera makan Laura hilang seketika. Dia menatap Adam tanpa ada reaksi apapun.


"Papa boleh duduk di kursi sampingmu, sayang?" tanya Adam seraya menarik kursi untuk duduk.


Laura tidak menjawab dia meletakkan lagi sisa roti yang ia makan tadi ke atas piring lalu meraih cangkir yang berisi susu dengan cepat ia meminumnya tanpa menjawab pertanyaan Adam. Usai meneguk susu hangat dicangkir itu ia lalu meletakkan cangkir itu diatas meja lalu Laura menggeser kursi dia ingin pergi dari hadapan Adam namun dengan cepat Adam menahan tangan Laura.


"Kenapa kau buru-buru? Papa ingin bicara berdua denganmu jika kau tidak nyaman di meja makan ini setidaknya izinkan papa yang mengantar kau ke kampusmu kita bisa bicara di dalam mobil." tawar Adam.


Laura melirik pergelangan tangannya yang dipegang Adam, " Lepaskan tanganku kau sudah menyakitiku apakah belum cukup kau menyakiti mommy ku dan sekarang kau ingin menyakiti aku juga?" Laura menatap benci Adam.


"Hahaha....Laura...Laura....sejak kapan papa menyakiti kamu bahkan berencana menyakitimu saja papa tidak sanggup, sayang. Kejadian kemarin itu diluar dugaan Papa, kau tahu sendiri sejak mengonsumsi obat terapi itu emosi papa sering berubah-ubah." Adam menatap mohon kepada Laura.


Laura menghela napas, melihat dari sorot mata Adam, pria itu tidak berbohong akhirnya Laura pun mengangguk setuju Adam yang mengantar dirinya ke kampus, " Baiklah. Papa boleh mengantarku ke kampus.Tapi, lepaskan tanganku ini sangat menyakiti aku, tenaga papa sangat kuat."


"Baiklah. Maaf jika kau merasa kesakitan." Adam melepas tangan Laura.


"Tidak masalah. Kali ini aku maafkan papa." Laura memegang pergelangan tangannya yang memerah lalu ia meraih tasnya Laura meletakkan diatas bahunya. Kemudian, dia berjalan lebih dulu ke mobil karena Adam masih minum air. Setelah minum air Adam melihat ke arah pelayan, " Jika Nyonya sudah bangun katakan padanya aku masih mengantarkan Laura ke kampusnya." pesan Adam. Maria belum bangun karena Berlian semalam tidak tidur bayi itu sangat rewel hingga membuat Maria harus begadang sampai pagi.


"Baik, Tuan." Pelayan itu membungkuk.


Adam bergegas ke depan dia meraih kunci mobil diatas meja. Laura sedang merapikan rambutnya di pantulan kaca spion mobil.


Ting...Ting...Ting...


"Ayo buka pintunya katanya sudah telat masih saja berkaca." Adam membuka pintu mobil lalu ia masuk dan duduk di bagian kemudi. Usai memastikan rambutnya sudah rapi Laura membuka pintu mobil dia pun masuk duduk di kursi samping kemudi.


"Kau sudah cantik sayang, kenapa masih berkaca lagi?" Adam menyalakan mesin mobil lalu kakinya menginjak pedal gas, Adam melajukan mobil dengan kecepatan sedang karena dia ingin berbicara dengan Laura lebih lama.


"Ehem..." Adam berdehem. Karena, sejak masuk ke dalam mobil Laura hanya diam saja matanya terus melihat ke luar jendela. Laura masih belum nyaman lagi duduk di kursi samping Adam.


"Sayang..." panggil Adam.

__ADS_1


"Ya, bicaralah pendengaranku masih bagus." Laura berkata namun matanya msih nyaman melihat ke luar jendela.


"Papa minta maaf.Jujur papa benar-benar tidak bisa mengontrol emosi Papa waktu itu. Kau tau waktu papa masuk ke kamar, papa mendapati Mommymu sedang menelpon Daddy Jackson. Papa cemburu apalgi melihat dia tertawa mesra melalui sambungan telepon. Ketakutan papa akan kehilangan dirimu sangatlah besar hingga papa tidak bisa mengontrol emosi papa untuk memukuli mommymu. Ini kesalahan terbesar papa seumur hidup papa." Adam berkata sesekali ia menghela napas. Adam menyesal kenapa dia tidak bisa menahan emosinya hingga membuat gadis itu sekarang mulai jaga jarak dengan dirinya. Adam tidak bisa jika Laura mendiamkan dirinya seperti akhir-akhir ini.


"Hmmm...kenapa takut kehilangan Laura? Bukan kehilangan Mommy? Sebenarnya istri papa siapa? Aku atau Mommy? Aneh..." Laura menggelengkan kepala heran papanya itu sangat aneh mengapa ia ketakutan kehilangan dirinya? Sementara dia hanyala anak sambung yang tidak selamanya berada di samping Adam?


"Ya papa takut kehilangan Mommy, Berlian juga kau. Karena, kau sudah papa anggap seperti anak kandung papa sendiri." Adam cepat-cepat menjawab dia takut Laura berpikiran buruk terhadap dirinya.


Adam melirik ke arah Laura tangannya hendak menyentuh lengan Laura namun dengan cepat Laura menepis tangan Adam, " Bicara tidak perlu menyentuh tangan Laura." Laura berkata tanpa menatap Adam.


"Ya...ya...ya Papa salah lagi." Adam terkekeh.


Laura menaikkan sudut bibir atasnya.


"Jadi bagaimana Papa sudah mendapatkan maaf dari Laura apa belum?" tanya Adam seraya menghentikan mobil didepan kampus Laura.


Laura menghela napas dia menatap Adam, " Baiklah Laura sudah memaafkan papa.Tapi, syaratnya jangan ulangi perbuatan itu lagi. Jujur, Laura juga sangat menyayangi papa karena sejak perceraian mommy dan Daddy, Laura merasakan kehadiran sosok pelindung dalam rumah itu lagi namun melihat kejadian kemarin sosok pelindung itu tiba-tiba menjadi menakutkan sekali." Laura menatap ke atas dia berkedip menahn air matanya. Tidak bisa berbohong Laura memang sangat menyayangi Adam seperti ia menyayangi Jackson, ayah kandungnya.


Setelah memaafkan Adam. Laura pun keluar dari mobil namun sebelum ia keluar dari mobil Adam berkata, "Nanti pulang telepon papa biar papa yang jemput Papa ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." ucap Adam.


"Baiklah." Laura membuka pintu mobil dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke kampus.


Adam kembali ke rumah dalam perjalanan dia sangat bahagia akhirnya Laura sudah memaafkan dirinya.Dia berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi karena tidak ingin di benci Laura lagi.


"Semoga sebentar dia mau aku ajak pergi sebentar," gumam Adam senang.


♥️♥️♥️♥️♥️


Hari berganti hari, setiap kali Laura dan James pergi kampus atau tidak sedang berada di rumah Adam selalu memukul Maria. Karena, efek dari ia mengonsumsi obat terapi dan sering pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena mabok alkohol membuat Adam kembali berbuat ulah. Kali ini Maria tidak tinggal diam ia pun melapor polisi namun seperti biasa Adam yang sudah sadar dari pengaruh alkohol dan efek obat kembali normal setiap polisi datang rumah kembali tenang dan barang bukti sama sekali tidak ditemukan polisi hingga kejadian itu terjadi sampai enam kali membuat Maria akhirnya memutuskan bercerai dari Adam.


Mentari pun telah menyapa dunia, Berlian yang sudah berusia setahun sudah bisa ditinggal bersama suster di rumah. Maria sudah menyiapkan stok susu di kulkas jadi dia tidak kwatir jika harus pulang siang.


"Suster...aku titip Berlian. Kalau nona dan James bangun mereka mencari aku katakan saja aku ke supermarket. Tapi, jika tuan yang bertanya katakan saja aku pergi yoga bersama grup yoga aku." pesan Maria.

__ADS_1


"Baik Nyonya," sahut pelayan itu.


"Bagus." Maria pun segera pergi dia mengemudi mobil sendiri karena tidak ingin sopir atau orang lain mengetahui rencananya.


♥️♥️♥️♥️♥️


Adam sudah bangun dia bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi sekalian mandi. Setelah mandi Adam berjalan keluar dia berjalan menuju ruang tamu karena kebiasaan Maria setiap bangun pagi dia selalu mengajak Berlian duduk diruang tamu sembari melihat bunga-bunga ditaman.


Namun, Adam tidak menemukan Maria hanya ada suster dan Berlian yang sedang bermain di ruang tamu.


"Suster...Nyonya kemana?" tanya Adam seraya menggendong Berlian ia berjalan ke teras depan.


"Nyonya pergi yoga." jawab suster.


"Tumben, tapi mengapa dia tidak membawa perlengkapan yoganya?" Adam curiga karena semalam dia baru saja menghajar Maria lagi hingga wanita itu mengancam akan bercerai dari dirinya.


Suster tidak menjawab. Dia memilih pergi dari hadapan Adam. karena dia tidak ingin terlibat dalam masalah Adam dan Maria.


Waktu telah menunjukkan pukul satu siang, Maria menghentikan mobil di pekarangan rumah. Melihat Maria datang Adam bergegas berdiri di depan pintu seraya melipat kedua tangan di dadanya, sorot matanya menatap tajam Maria sekan dia ingin menerkam wanita itu hidup-hidup. Sementara, Maria sama sekali tidak peduli wanita paruh baya itu keluar dari mobil dia berjalan masuk ke dalam rumah melewati Adam begitu saja.


"Dari mana saja kau!" Adam sangat kesal karena Maria sama sekali tidak menganggap dirinya ada.


"Tidak penting aku darimana." Maria melewati Adam, dia terus berjalan masuk ke kamar.


"Maria! Ada apa dengan dirimu? Kau akhir-akhir mulai tidak menuruti perintahku!" Adam berteriak dia sangat kesal. Pria itu bergegas mengejar Maria ke kamar.


Maria tidak peduli dia terus berjalan menuju kamar mereka sesampainya didepan pintu Maria membuka pintu kamar lalu terus berjalan menuju kamar mandi. Ya Maria menangis didalam Kamar mandi dia menumpahkan semua kekesalan di dalam sana. Adam sudah berada di kamar dia mencari keberadaan Maria, " Maria, kau dimana?" panggil Adam lagi. Semua barang yang berada diatas meja sudah hancur berserakan di kamar di buat Adam.


Mendengar gemercik air Adam berjalan ke arah kamar mandi dia mendobrak pintu lalu masuk ke kamar mandi, " Mengapa kau menangis? Apa aku menyakiti kau lagi?" Adam selalu seperti itu setiap kali dia melakukan kekerasan dia selalu lupa.


"Kau tidak melukaiku hari ini, tapi mulai hari ini kau harus pergi dari rumahku bersama putramu karena aku sudah mendaftarkan perceraian kita di pengadilan. Kau tunggu saja surat panggilan dari pengadilan." Maria menatap tajam Adam.Kali ini dia tidak mau memaafkan Adam lagi sudah cukup kepalanya sakit, wajahnya lebam dan mengeluarkan darah. Maria tidak mau lagi putrinya Laura mendiami dirinya karena kecewa dengan dia yang masih memaafkan Adam.


"Kenapa? Aku sudah minta maaf kepada Laura. Dia juga sudah memaafkan aku. Lalu, apa yang kau permasalahankan lagi?" Adam berbicara tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2